Posted in Diary, Prose

Layla

Cool, tidak banyak omong, dan bertampang nggak bersahabat, ditambah bumbu-bumbu aura judes, itulah kesan pertama yang bisa dilihat dari seorang Layla saat pertama, kedua, ketiga berjumpa. Pun, di lingkungan baru, semua orang akan sangat segan, dan takut berurusan dengan Layla.

Tak menunggu lama, biasanya 2-3 minggu atau sebulan, barulah wajah sebenarnya Layla terlihat. Bersenandung pelan bahkan sampai teriak-teriak nggak karuan, bercanda dengan joke-joke yang absurd dan krik-krik terusnya ketawa sendiri, ngomong sama komputer, berkas, hole-punch atau stapler. Semaunya, dan susah diomongin, nyebelin sekaligus ngangenin, that’s the real Layla.

Seriously, sampai detik ini, sering bikin teman-temannya kaget dan mengira kalau Layla lagi depresi atau sakit jiwa. Padahal, nggak sampe segitunya, Layla memang sedikit stress dengan beban kerja dan jenis pekerjaan yang nggak Layla banget.

Berkerudung pelangi, ia tak pernah memiliki kerudung polos. Ia merasa cukuplah hidupnya yang polos, jangan kerudungnya. Layla lelah dengan kehidupan polosnya dan sedang berpikir keras menjadikan hidupnya sepelangi kerudungnya. Baru sebatas pikir, Layla belum cukup gila untuk tak henti berjuang melepaskan diri dari sangkar di mana ia habiskan harinya, mengikuti arah cahaya matahari terbang ke langit tinggi.

Tapi Layla, dengan segala keanehannya, memiliki daya tarik yang berbeda. Daya tarik yang hanya bisa dilihat dari kejernihan hati dan ketulusan.

#maafkanakhiryangngelantur
#bendaharalagiDLakubisasantai
#akusukakalaudiatakada

Advertisements
Posted in Diary

Diary #1

Setelah sekian lama nggak nulis di blog ini, blog campur aduk yang lumayan buat merekam histori. Here I am, sore di ruangan kantor yang sedang sepi karena penghuninya lagi pada pergi (apa sih?).

Sore ini gak tahu tiba-tiba kepikiran aja buat menyempatkan diri ngeblog, sebelum pulang ke rumah. Kalau tiap pagi dan sore saya meluangkan 10-15 menit aja buat nulis di kantor, kan lumayan. Hitung-hitung persiapan sebelum kerja, dan cooling down setelah penat dengan berkas-berkas di atas meja yang nggak ada habisnya.

Ya, udah setahun saya jadi pengangguran terselubung. Pengangguran yang kerja keras tiap pagi sampe sore. Berat bebanku sampe gak ada waktu buat kesenangan yang dulu sering saya lakukan.

Kalau ada yang nanya kerjaan macam apa yang saya kerjakan sekarang, to be honest, saya gak ada nafsu buat cerita, ngejelasin atau apalah. Huhu… Pekerjaan yang nggak pernah saya bayangkan sebelumnya, bakal jadi makanan saya sehari-hari.

Tapi, to be honest lagi, saya bersyukur kok saya ada di sini. Ada banyak nikmat yang gak ada habisnya, alhamdulillah. Dan saya akan berusaha menuliskannya, supaya bisa dibaca dan disyukuri selalu.

Udah ah… Pulang dulu. 😛

Posted in Miscellanous

A Note of Clouds

Dibuat merinding melihat awan sepulang kerja kemarin sore. Awan hitam yang telah siap tumpah ke bumi menjadi air, mengantarkan berkah dari Tuhan, nimbostratus.

3307_2_large

Rumah saya sekarang berada di atas bukit, yah sejenis ituah. Dari teras belakang rumah, kami sering menikmati awan yang berarak menuju gunung. And it’s so wonderfull. Dari situ, alam bawah sadar saya jadi sangat terobsesi sama how mighty the clouds are, mashaallah.

7fbf494b08f42a888ac9ab74c6f6de47

Mammatus, ini adalah awan indah yang muncul setelah badai. Awan ini pernah terbawa sampai ke mimpi, seriously. Ini awan, sampai sekarang, walau suma lihat gambarnya aja, selalu sukses bikin saya merinding. Dalam mimpi, saya melihat awan Mammatus ini di langit, semakin mendekat ke bumi, jatuh, sembari menikmati keindahannya, saya terus berjalan bersama anak dan suami, berjalan cepat hingga berlari untuk menghindari awan yang dalam mimpi itu, terasa begitu berbahaya. Huaaah, sensasi mimpi ini masih terasa sampai sekarang.

cumulus-congestus

Cumulus, ini awan yang saya pelototin sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor kemarin siang, sepulang waktu istirahat. Awan ini bergumpal-gumpal, berarak, membuat hati saya tak henti berdecak kagum. Mashaallah.Pernah lihat awan jenis ini dari jendela pesawat, memandanginya takjub, jauh di sebelah kanan kami, woow.

stratocumulus

Stratocumulus, awan yang seperti lautan kapas, jika di lihat dari atas pesawat. Kemudian, saya sering menunggu pesawat turun menembusnya, dan taraaaa, ada negeri di baliknya, so  so beautiful.

Clouds, i’ve never been this excited about u before… hehe :-* (sampai kebawa-bawa mimpi)

PS: Penamaan hanya didasari pada research yang tak begitu mendalam, dari baca-baca sedikit artikel tentang awan saja. Wish i could buy a book about clouds someday. Hoho, maafkan jika ada kesalahan pemberian nama pada gambar awan yang menyerupai awan-awan favorit saya.

Posted in Diary, Light Literature, Miscellanous

Sahabat

Sahabatku tadi menelpon, dia bercerita dan aku mendengarkan.
Kemudian aku memberi tahukan ia resep membuat empek-empek.
Aku berusaha memotivasinya melakukan yang belum ia lakukan.
Ya Allah, semoga ia baik-baik saja, dan lebih bersemangat menjalani kehidupan barunya.

Padahal,
tadi malam aku bukan memimpikannya.
Aku memimpikan sahabat yang lain lagi.
Badan jangkungnya terbayang jelas, dalam mimpi.
Aku dipeluknya hangat.

Apakah aku rindu?

Posted in Multiply Imported

Cara Mengurus Kartu Taspen (mudah loh!)

Hurray, Taspen saya selesai. Haha, banyak juga yang ngeledekin di kala saya dapat hidayah buat ngurus kartu TASPEN, setelah sekian lama (preet, baru juga 3 tahun)

Well, saya pikir dulu saya gak akan buru-buru butuh kartu TASPEN, ntah kapan-kapan bisa diurus ini. Tapi karena sedang dibutuhkan banget, saya akhirnya nekad buat ngurusin.

Cari-cari persyaratannya di mana-mana, membandigkan mana yang paling simple, haha. Di kantor kepegawaian  tertera surat pengantar dari rektor, aduh gak mau ribet. Lihat-lihat di internet, sami mawon.  Saya pun telpon CALLCENTRE TASPEN berharap persyaratannya udah ganti, nggak usah pake pengantar, ternyata masih sama, malah tambah banyak tetek bengeknya. Mana semua fotocopy dibilang mesti dilegalisir lagi, ohhh tidaaaak.

Ya, saya emang males banget bok, berhubungan dengan urus mengurus administrasi begini. Huhu…

Dan kemudian daripada itu, saya pun nyiapin hal-hal yang kata ibu-ibu di CALL CENTERnya perlu disiapin sebagai persyaratan:
1. FC SK CAPEG legalisir
2. FC SK PEGAWAI legalisir
3. FC SK terakhir Legalisir
4. SLIP gaji terakhir legalisir
5. KP4
6. SPMT Legalisir
7. FC Karpeg
8. Surat Pengantar dari institusi

Saya udah berusaha melegalisir SPMT, tapi pejabat yang bersangkutan nggak ada di tempat. Dan saya nggak mau berpikir keras buat ngurusin surat pengantar, karena ceritanya bakalan lama, gak akan selesai hari ini.

Modal santai,  dan nggak terlalu berharap banyak, saya pun pergi ke kantor TASPEN cabang Bengkulu (yang letaknya di KM 6,5). Weew, ini bener-bener kantor Tabungan dan Asuransi Pensiun ya, you know what? CSnya semua kakek-kakek (yang sepertinya udah pantes buat pensiun). Hehe, serius ini lucu tapi nyata. Nggak ada orang yang ngantre kecuali saya dan seorang bapak-bapak lain, jadi langsunglah saya dipanggil.

Bapak CSnya, alhamdulillah, walau udah kakek-kakek tapi ramah dan profesional dalam melayani. Dia nunjukin persyaratan, sambil nanya:

“Udah lengkap?” Kata si kakek sambil nunjukin daftar persyaratan yang tertempel di meja.

Huuu, ternyata, syaratnya cuman:
1. FC SK Capeg
2. KP4
3. FC SPMT
4. Kartu Keluarga

“Terlalu lengkap malah pak” Jawab saya, si bapak ngakak.

“Ya dikurangin aja, gak baik yang terlalu terlalu”

Saya ambilin deh lembaran-lembaran yang nggak termasuk dalam daftar. Agak deg-degan juga sih, karena semua syarat gak saya legalisir. Eh ternyata, si bapak ga komplen. Jeng jeng jeng, selesai deh, alhamdulillah. Persyaratannya malah dibalikin lagi semap-mapnya.

Mudah banget ternyata, hehe. Untung nggak capek-capek ngurusin surat pengantar, dan legalisir SPMT dll, wkwkwk.
Kemudian daripada itu saya bertekad buat nge-share di blog. Siapa tahu ada yang kayak saya kan. PNS males yang anti birokrasi dan administrasi yang mau gak mau harus ngurus kartu TASPEN, yang browsing sana-sini demi nyari persyaratan yang paling gampang buat ngurus kartu TASPEN, hehe.

Semoga bermanfaat.

 

Posted in Multiply Imported

Dan Dia Pergi

Barusan dia datang, tampak tertarik masuk ke ruangan saat melihat ada aku di dalamnya. Setelah mengintip dari jendela, dia bergegas masuk dan menyapa. Aagh, aku sedang mendapat ilham untuk berkonsentrasi, kenapa harus ada orang ini, pasti dia mau bercerita atau lebih tepatnya bergosip.

Benar saja, dia membuka orolan dengan mengomentari skripsi-skripsi di atas meja seorang rekan (yang tidak ada di kantor), mengatakan bahwa skripsinya banyak yang salah, bla bla bla dan berlanjut pada cerita tentang saya tidak mau dengar. Aku hanya merespon dengan senyuman, deheman, dan anggukan, gelengan. Sampai dia tahu diri, berlalu pergi, alhamdulillah.

Posted in Diary, Ex-Teacher Project

Bright Language School

Alhamdulillah it’s getting closer to be real, aamiin. Gak kerasa, bertahun-tahun gw berjibaku dengan ide, bertahun-tahun otak gw mikir ini itu, tentang ini itu… hee, walau belum nyata-nyata banget, at least gw udah mulai, cikiciw. Selama ini? Belum pernah sejauh ini.