Tentang Kenangan

“terbuat dari apakah kenangan itu?”
Kata itu ku dapat dari tulisan seseorang. Aku tak ingat kelanjutan tulisannya. Hanya kalimat itu yang tersisa di memoriku. Kalimat yang menghiasi resahku kini. Resahku pada rentet kenangan yang tiba-tiba semakin rutin menghiasi mimpi-mimpiku. hingga kalimat itu bertubi-tubi menggema di sanubariku. terbuat dari apakah kenangan itu…? hingga ia dengan pongahnya menghantui bawah sadarku
Bagaimana bisa kau hadir di mimpi ku padahal tak sedetipun ku rindu dirimu… yah kenangan-kenangan itu semakin rutin membasuh tidur lelapku. Walau nyatanya… sungguh tak ku ingat ia hingga mimpi itu terasa begitu nyata….
Mimpi yang lebih banyak mencucurkan keringat… membawaku pada entah apa…
andai mata ini mampu terbuka dalam realita
kusiratkan saja pada pandang yang kan kian mengabut hingga mendanau air mata sesal.
Mimpi-mimpi yang membawa gelap kian erat memelukku.
aku tak tahu harus berbuat apa… saat realita tak jua mau mengubah kisah.

Jangan Pernah Berhenti

Penulis: Gede Prama

Sejumlah sejarahwan yakin, bahwa pidato Winston Churchill yang paling berpengaruh adalah ketika beliau berpidato di wisuda Universitas Oxford. Churchill mempersiapkan pidato ini selama berjam-jam. Dan ketika saat pidatonya tiba, Churchill hanya mengucapkan tiga kata : ‘never give up’ (jangan pernah berhenti).
Sejenak saya merasa ini biasa-biasa saja. Tetapi ketika ada orang yang bertanya ke saya, bagaimana saya bisa berpresentasi di depan publik dengan cara yang demikian menguasai, saya teringat lagi pidato Churchill ini.
Banyak orang berfikir kalau saya bisa berbicara di depan publik seperti sekarang sudah sejak awal. Tentu saja semua itu tidak benar. Awalnya, saya adalah seorang pemalu, mudah tersinggung, takut bergaul dan minder.
Dan ketika memulai profesi pembicara publik, sering sekali saya dihina, dilecehkan dan direndahkan orang. Dari lafal ‘T’ yang tidak pernah lempeng, kaki seperti cacing kepanasan, tidak bisa membuat orang tertawa, pembicaraan yang terlalu teoritis, istilah-istilah canggih yang tidak perlu, serta segudang kelemahan lainnya.
Tidak bisa tidur beberapa minggu, stress atau jatuh sakit, itu sudah biasa. Pernah bahkan oleh murid dianjurkan agar saya dipecat saja menjadi dosen di tempat saya mengajar.
Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh banyak agen asuransi jempolan. Ditolak, dibanting pintu, dihina, dicurigai orang, sampai
dengan dilecehkan mungkin sudah kebal. Pejuang kemanusiaan seperti Nelson Mandela dan Kim Dae Jung juga demikian. Tabungan kesulitan yang mereka miliki demikian menggunung. Dari dipenjara,hampir dibunuh, disiksa, dikencingin, tetapi toh tidak berhenti berjuang.
Apa yang ada di balik semua pengalaman ini, rupanya di balik sikap ulet untuk tidak pernah berhenti ini, sering bersembunyi banyak
kesempurnaan hidup. Mirip dengan air yang menetesi batu yang sama berulang-ulang, hanya karena sikap tidak pernah berhentilah yang membuat batu berlobang.
Besi hanya menjadi pisau setelah ditempa palu besar berulang-ulang, dan dibakar api panas ratusan derajat celsius. Pohon beringin besar yang berumur ratusan tahun, berhasil melewati ribuan angin ribut, jutaan hujan, dan berbagai godaan yang meruntuhkan.
Di satu kesempatan di awal Juni 1999, sambil menemani istri dan anak-anak, saya sempat makan malam di salah satu restoran di depan hotel Hyatt Sanur Bali. Yang membuat kejadian ini demikian terkenang, karena di restoran ini saya dan istri bertemu dengan seorang penyanyi penghibur yang demikian menghibur.
Pria dengan wajah biasa-biasa ini, hanya memainkan musik dan bernyanyi seorang diri. Modalnya, hanya sebuah gitar dan sebuah organ. Akan tetapi, ramuan musik yang dihasilkan demikian mengagumkan. Saya dan istri telah masuk banyak restoran dan kafe. Namun, ramuan musik yang dihadirkan penyanyi dan pemusik solo ini demikian menyentuh. Hampir setiap lagu yang ia nyanyikan mengundang kagum saya, istri dan banyak turis lainnya. Rasanya susah sekali melupakan kenangan manis bersama
penyanyi ini. Sejumlah uang tip serta ucapan terimakasih saya yang dalam, tampaknya belum cukup untuk membayar keterhiburan saya dan istri.
Di satu kesempatan menginap di salah satu guest house Caltex Pacific Indonesia di Pekan Baru, sekali lagi saya bertemu seorang manusia mengagumkan. House boy (baca : pembantu) yang bertanggungjawab terhadap guest house yang saya tempati demikian menyentuh hati saya. Setiap gerakan kerjanya dilakukan sambil bersiul. Atau setidaknya sambil bergembira dan tersenyum kecil. Hampir semua hal yang ada di kepala, tanpa perlu diterjemahkan ke dalam perintah, ia laksanakan dengan sempurna. Purwanto, demikian nama pegawai kecil ini, melakoni profesinya dengan tanpa keluhan.
Bedanya penyanyi Sanur di atas serta Purwanto dengan manusia kebanyakan, semakin lama dan semakin rutinnya pekerjaan dilakukan, ia tidak diikuti oleh kebosanan yang kemudian disertai oleh keinginan untuk berhenti.
Ketika timbul rasa bosan dalam mengajar, ada godaan politicking kotor di kantor yang diikuti keinginan ego untuk berhenti, atau jenuh menulis, saya malu dengan penyanyi Sanur dan house boy di atas. Di tengah demikian menyesakkannya rutinitas, demikian monotonnya kehidupan, kedua orang di atas, seakan-akan faham betul dengan pidato Winston Churchill : “never give up.”
Anda boleh mengagumi tulisan ini, atau juga mengagumi saya, tetapi Anda sebenarnya lebih layak kagum pada penyanyi Sanur dan house boy di atas. Tanpa banyak teori, tanpa perlu menulis, tanpa perlu menggurui, mereka sedang melaksanakan profesinya dengan prinsip sederhana : “jangan pernah berhenti.”
Saya kerap merasa rendah dan hina di depan manusia seperti penyanyi dan pembantu di atas. Bayangkan, sebagai konsultan, pembicara publik dan direktur sebuah perusahaan swasta, tentu saja saya berada pada status sosial yang lebih tinggi dan berpenghasilan lebih besar dibandingkan mereka. Akan tetapi, mereka memiliki mental “never give up” yang lebih mengagumkan.
Kadang saya sempat berfikir, jangan-jangan tingkatan sosial dan penghasilan yang lebih tinggi, tidak membuat mental “never give up” semakin kuat.
Kalau ini benar, orang-orang bawah seperti pembantu, pedagang bakso, satpam, supir, penyanyi rendahan, dan tukang kebunlah guru-guru sejati kita.
Jangan-jangan pidato inspiratif Winston Churchill – sebagaimana dikutip di awal – justru diperoleh dari guru-guru terakhir.

 

Serpih Pagi

Adalah sepi temani
Jalani selimut malam dan seringai mentari
Merangkak, berjalan, berlari
Menanti, hanya menanti serpihan pagi
Pagi tiada peduli dinanti
Tak lama hanya serpihan ia temui
Titik embun, kokok ayam, dan kicau burung bernyanyi
Hanya serpihan lalu pergi

Renunganku…. (Saat Muharram Lah Menjelang Lagi)

Telah hampir dua dekade kuinjakkan kaki di bumiMu Robbi
Bumi semakin renta, seiring raga ini
Namun jiwa tetap begini
Bilakah ia pilihan… sungguh tlah kutetapkan pilihan ini
Allah… izinkan waktu dewasakan aku
Waktu tak punya wewenang untuk mendewasakan
Karena wewenang itu milik kita sendiri. Wewenang untuk memilih, menyusun , mengontrol, program pendewasaan diri
Waktu tak punya kekuatan untuk mendewasakan
Karena kekuatan itu milik kita saja. Kekuatan yang akan kita miliki, bila kita tak memilih untuk lemah, menyerah dengan keadaan.
Waktu tak punya hak untuk mendewasakan
Karena hak itu milik kita. Hak untuk memilih berjuang menuju puncak kedewasaan, atau selamanya kanak-kanak.
Sungguh waktu tak akan pernah mendewasakan kita
Ia hanya memfasilitasi dengan hal-hal yang terjadi dalam perjalannya yang tak pernah berhenti, tak pernah bisa kembali, sedetikpun.
Sungguh waktu tak akan pernah mendewasakan kita
Ia hanya bahan perenungan, satu kata yang dapat membuat kita tertawa, tersenyum, menangis, mengenang semua.
Sungguh waktu tak akan pernah mendewasakan kita
Sungguh…