now i care

“ Eh kamu kok beda ya? Dulu nggak kayak gitu!” Ama-temanku dengan medok jawa dan gaya mmm lugunya menegur seorang mahasiswi berjilbab dari prodi lain yang saat itu sedang berbicara denganku.

“ Iya to? Dulu bajunya panjang sekarang kok ya jadi ketat gini?” katanya lagi. Yang ditanya pura-pura tidak tahu. Ia lanjut saja bicara denganku tanpa menoleh ke Ama.

Aha!! Aku yakin Ama dan Nadya jarang berinteraksi, bahkan tidak pernah sama sekali. Bisa dibilang mereka tidak saling mengenal. Tapi Ama ternyata memperhatikan perkembangan Nadya yang ku akui memang cukup pesat. Dari segi busana, boleh dikatakan Nadya sebelumnya adalah gadis desa yang berbusana santun dan bersahaja, perlahan tapi pasti ia mengubah diri dengan gaya remaja (eh mahasiswi) masa kini. Baju ngepress, jeans ngepassss, dan jilbab yang sekedar tutup kepala.

Disadari atau tidak, kita mungkin sering memperhatikan orang-orang di sekeliling kita, kenal atau tidak. Ama dengan lgunya, dan entah apa visinya telah menegur Nadya dengan bersahaja. Subhanallah… walau terlihat cuek, aku yakin gadis manis itu cukup tertohok dengan kata-kata vulgar Ama.

Aku jadi teringat teman sekelas di kelas 3 SMA. Yaah… sejak SMP hingga SMA pergaulanku memang kurang berkembang. Teman-teman sekelas yang itu-itu saja membuatku bergaul dengan orang-orang yang itu-itu saja. Dan kelas 3 SMA merupakan awal hariku berinteraksi dengan orang-orang baru dalam pergaulan remajaku (tebak kenapa?)

“Lingga tuh dulu kalo jalan dagunya ke atas” Haaa? Aku geli sendiri membayangkan gaya jalanku dengan dagu ke atas. Bercanda aja nih orang! Orang aku jalan dengan menundukkan pandangan (halah!!)

”Maksudnya tuh gak noleh kiri-kanan. Nggak lihat-lihat orang lain. Singkatnya ya… sombong!”

Gubrak!! Phew,,,pheeew…. jujur amat nih orang! Aku terdiam sejenak. Malu… Sejujurnya hampir separoh teman-teman di kelas belum pernah kulihat sebelumnya, begitu juga dirinya yang mengungkapkan hal barusan. Padahal sudah lebih 2 tahun 1 sekolah, bahkan ada yang satu SMP juga. Duh parah!!

Satu lagi teman kuliah yang ternyata satu SMP denganku. Beliau bercerita bagaiamana tingkahku di SMP. Gedubrak-gedubruk pada hari senin mengejar-ngejar upacara hingga hari pertamaku berjilbab yang katanya mencengangkan. Subhanallah… dan aku? Aku baru mengenalnya, menyadari eksistensinya pada saat sekelas di kampus ini.

Hmmmhh… begitu cueknya dirimu ling!! Pada orang-orang di sekitarmu. Pada kehidupan lain yang mungkin kau pikir tak ada hubungannya dengan hidupmu. Sibuk dengan dunia sendiri. Dimana dirimu? Padahal Ama menegur Nadya tentang perubahannya, Shely mengungkapkan kesombongan yang kau sendiri tak menyadari. Semua adalah sebentuk perhatian dari mereka untuk orang lain di sekelilingnya.

Bagaimana aku bisa merubah dunia, mengubah kehidupan, sedang aku hidup di duniaku sendiri, tenggelam dalam ketidakpedulian…

Oooopz… bangun Ling!! Itukan dulu… sekarang tidak lagi. aha!! Allah telah menghadiahiku banyak orang untuk dicintai. Membuka hatiku untuk lebih peduli (walau masih cuek juga sih dikit!!) Tapi yang pasti aku ingin berubah dan ku bertahan pada perubahanku.

Advertisements

Under Pressure… Terbiasa? Or kebiasaan?

Phew…phew… phew…. hari-hari berat memaksa mata tak terpejam berjam-jam di malam-malam yang kelam. Selalu ada hari-hari di mana semua pekerjaan dan apalah namanyaberkumpul, bersekongkol untuk berlari mengejarku yang kemudian terseok-seok, terjatuh, menagis huwaaaa, marah, hingga terkadang tiba pada titik harus menghibur diri dengan tawa habar sang lelah (rada depress berat gitu!)

Aku tak bisa menikmati hanyut dalam pekerjaaan menyenangkan tanpa hiasan deadline esok harinya. Perceiving sang deadliner sejati yang seringlah gagal beri yang terbaik (walau not badlah….!)

Pagi adalah sisa waktu yang selalu bangunkan aku dalam ketergesaan… Huwaa… tugaslah, PR, tulisan, atau piring-piring kotor yang belum dicuci.

” Hmmm… tahu nggak apa hebatnya Lingga?” Tanya seorang teman padaku yang sedang larut menenggelamkan pikiran ke lautan kata yang kupilah-pilah tuk dirangkai menjadi paragraf-paragraf penyusun tugas. 15 menit menjelang sang dosen tiba. Sebentar kutolehkan wajahku padanya… tertarik? Tidak juga… Cuma sebentuk apresiasi…

” Biasa bekerja di bawah tekanan”

Huahhh…. keren? Hebat? Bercanda!! Yah2x bukan biasa… tapi tak bisa jika tidak di bawah tekanan. Dan hanya waktu yang mampu menekanku untuk bergerak.

Robbi…. kebodohanku adalah lalai, ku sering melalaikan semua… bahkan panggilanMU, dan waktu yang terus belalu, detik demi detik. Aku tak tahu kapan deadline itu, waktu dimana aku harus menghadapMU. Aku tahu harus dari sekarang kupersiapkan diri. Mengerjakan tugas-tugas dariMU, sungguh-sungguh. Ku mohon… tetapkan langkahku di jalanMU walau terseok, bahkan tak jarang aku menepi, tarik aku kembali Robbi. Tetapkan langkahku di jalanMU hingga nafas terakhirku. Tunjukkan slalu jalan yang harus ku tapaki tuk satu WajahMU

Candies for Lingga

Kalau di Amerika, ada budaya kasih apel ke guru. Anak didikku (halah… tetangga gitu!) punya budaya memberikanku permen setiap mereka belajar ke rumahku. Permen favoritku adalah permen kaki yang warna merah (tau kahn?). padahal aku tidak begitu suka ngemut permen (coz suka eneg-an gitu). Tapi demi appreciate my students… i enjoy ngemutin tuh candies.

Kakak adik itu sudah lama ku kenal. Sejak kecil, bahkan sejak mereka bayi mmm baru lahir. Hingga besar badannya sudah mengalahkan besar badanku (hehe… kalah jauh dah!). Tapi dengan kesibukanku yang selalu jadi justifikasi untuk tidak bersosialisasi dengan masyrakat bertetangga, aku hanya mengenal mereka lewat senyam-senyum kalau berpapasan saja. Dan yang paling ku ingat adalah kenakalan mereka kepada keponakanku tersayang. Atau dulu ketika aku masih imyut (mmm SMP atau SMA gitu)… mengadukan kenakalan mereka pada ibuku… hahaha. Dan semua membuat aku sempat enggan menerima mereka untuk menjadi muridku (hmmm… murid?). tapi apa mau dikata, ketika ibunya datang, aku kebetulan pulang ketika matahari masih benderang. Tak tega melihat harap di sorot mata ibu paruh baya itu. Hhhh….

Ternyata 1-2 hari, aku ditegur ibuku karena mengajar les tanpa senyum. Tetapi hari-hari yang berlalu membuka hatiku untuk tersenyum melihat tingkah polah ABG-ABG manis itu. Sang kakak yang baru nian merasakan hitam-putih hidup, siswi kelas 2 SMP yang tertatih-tatih mencari jati dirinya, handphone yang penuh sms-sms eeukh…. this is what we call…. kesempatan emas. Sang adik yang nauzubile nakalnya… ternyata manis juga, siswi kelas 6 SD yang tak henti meledek kakaknya yang mabuk mencari arti cinta. Dan mereka memang anak-anak manis yang baik hati (cos selalu membawakanku permen…haha)

Favoritku adalah memutar-mutar pelajaran ke arah yang tak disangka-sangka. Keluar dari buku dan mencuri perhatian mereka dengan tema-tema yang lagi nge-trend untuk anak-anak usia mereka yang memang sedang maruk dengan hal-hal basi dan memuakkan untuk orang dewasa sepertiku (hehehe… dewasa adalah pilihan… istiqomahkan aku Tuhan)

“ Jadi bintang mah nggak ada yang jatuh, hanya berpindah tempat” ujarku pada Elis, sang adik saat ia memintaku membantunya memahami teks IPA yang membosankan.

“ Hmm….” Sang kakak mengalihkan perhatiannya dari soal-soal matematika yang ku berikan.

“ Apa iya kak?, bukannya bintang jatuh memang ada?” … yah selalu seperti ini jadinya. Karena keterbatasan waktu yang ku punya. Aku gabungkan saja dua anak berlainan usia itu belajar. Dan bila pelajaran sang Adik lebih menarik atau sebaliknya, aku pasrahkan saja semua… toh tak ada yang salah mempelajari hal-hal lain.

“ Gak ada!” jawabku singkat

“ Itu Kak, ada yang bilang kan… kalau kita liat bintang jatuh, permintaan kita akan terkabul”

“ Siapa yang bilang?” kataku pura-pura tidak tahu dengan pernyataan sotoy itu. stupid dan tidak ilmiah.

“ Masa Kakak gak tahu?!”

“ Nggak!” jawabku nyantai. Ani, sang kakak memandangku penuh harap. Hobbyku bercerita, ia paham sekali itu.

“ Hmm… yang kakak tahu ya…bintang itu gak ada yang jatuh. Kalo ada yang bilang apa yang Ani bilang tadi berarti dia stupid. Lah bintang itu gak mungkin jatuh… mau minta apa coba!! Kapan bintang bakal jatuh?blablabla……..” kuceritakan betapa sempurnanya Allah mengatur seluruh alam semesta.

“ Semua kekuasaan Allah, begitu juga bintang yang berpindah tempat tadi. Nah!! Kita bahkan lebih kuat dari bintang-bintang itu. kita punya akal untuk berpikir, bermimpi, bahkan menggantungkan cita-cita ke bintang itu. dan semua pinta mestinya ke yang Maha Kuat, lebih kuat dari kita, bukan ke benda mati. Kalo mau permintaan kita terkabul, ada loh waktu-waktu yang makbul untuk berdo’a. Kalo yang ini dijamin ada dasarnya. Berdo’a sehabis sholat, berdo’a saat buka puasa. Do’a anak yang sholeh untuk orang tuanya. Gimana?”… I love their face yang menunjukkan ketertarikan mereka mendengarkan aku. (dasar sanguin…koleris). dan anggukan-anggukan itu semakin membuatku nyaman.

Saat itu emutan terakhir permenku. Ani menghadiahi lagi aku permen… Yah!! U simpan… semoga permen-permen itu benarlah bukti cinta mereka padaku. Walau lesson plan masih stupid (bahkan lebih sering tanpa plan). Walau gaya mengajarku tak lepas konvensional (soalnya tak ada waktu untuk mengaplikasikan metode-metode mengajar brillian… aku selalu dikejar PR mereka). Walau aku memulai semua dengan terpaksa. Walau aku masih sering mangkir dengan bertumpuknya tugas dan pekerjaan lainnya. Walau hujan yang deras kadang membuatku nyengir-nyrngir sendiri coz langkah mereka terhambat di balik hujan. Walau permen-permen itu bukan makanan kesukaanku. Tapi di atas segalanya adalah ketulusan… adakah nanti aku menjadi seperti Ibu Muslimah bagi Andrea Hirata. Mewarnai benak anak-anak itu. Menanamkan pemikiran-pemikiran indah tak terlupa. Ibu Muslimah yang tulus. Ahhh… jauh memang, aku yang tidak sabaran dan selalu menertawakan PR-PR mereka yang tidak jelas visinya. ”susah banget sih yang ini! Liat yang temen aja lah Ni’ di sekolah!” atau ”hmmm…. gak berbobot! Ini mah dikerjain di sekolah gak lima menit juga selesai Ni Ni… kerjain sendiri deh”

Permen-permen itu kan selalu ku kenang. Pencarian jati diriku sbegai guru. Oh…. so sweet (kata-kata yang kan terucap saat terkenang mereka nantinya!)

Walau…

Untuk kalian… lelahkah aku?

Walau ku telah putus asa
Pada mimpi yang tak kunjung nyata
Pada harap yang tak ubahnya hanya harap
Pada semua yang hanya… hanya… hanya…

Tapi semua telah berbilang tahun
pada kebersamaan yang berbekas
pada kepercayaan yang berlagu
pada….

pada kecewa…
ku mampu berkata apa?
Pada hati yang kusut masai oleh prasangka
Pada jiwa yang lunglai oleh ego

Pada kata yang tak tertahan
Pada luka yang tertoreh
Maaf…