Candies for Lingga

Kalau di Amerika, ada budaya kasih apel ke guru. Anak didikku (halah… tetangga gitu!) punya budaya memberikanku permen setiap mereka belajar ke rumahku. Permen favoritku adalah permen kaki yang warna merah (tau kahn?). padahal aku tidak begitu suka ngemut permen (coz suka eneg-an gitu). Tapi demi appreciate my students… i enjoy ngemutin tuh candies.

Kakak adik itu sudah lama ku kenal. Sejak kecil, bahkan sejak mereka bayi mmm baru lahir. Hingga besar badannya sudah mengalahkan besar badanku (hehe… kalah jauh dah!). Tapi dengan kesibukanku yang selalu jadi justifikasi untuk tidak bersosialisasi dengan masyrakat bertetangga, aku hanya mengenal mereka lewat senyam-senyum kalau berpapasan saja. Dan yang paling ku ingat adalah kenakalan mereka kepada keponakanku tersayang. Atau dulu ketika aku masih imyut (mmm SMP atau SMA gitu)… mengadukan kenakalan mereka pada ibuku… hahaha. Dan semua membuat aku sempat enggan menerima mereka untuk menjadi muridku (hmmm… murid?). tapi apa mau dikata, ketika ibunya datang, aku kebetulan pulang ketika matahari masih benderang. Tak tega melihat harap di sorot mata ibu paruh baya itu. Hhhh….

Ternyata 1-2 hari, aku ditegur ibuku karena mengajar les tanpa senyum. Tetapi hari-hari yang berlalu membuka hatiku untuk tersenyum melihat tingkah polah ABG-ABG manis itu. Sang kakak yang baru nian merasakan hitam-putih hidup, siswi kelas 2 SMP yang tertatih-tatih mencari jati dirinya, handphone yang penuh sms-sms eeukh…. this is what we call…. kesempatan emas. Sang adik yang nauzubile nakalnya… ternyata manis juga, siswi kelas 6 SD yang tak henti meledek kakaknya yang mabuk mencari arti cinta. Dan mereka memang anak-anak manis yang baik hati (cos selalu membawakanku permen…haha)

Favoritku adalah memutar-mutar pelajaran ke arah yang tak disangka-sangka. Keluar dari buku dan mencuri perhatian mereka dengan tema-tema yang lagi nge-trend untuk anak-anak usia mereka yang memang sedang maruk dengan hal-hal basi dan memuakkan untuk orang dewasa sepertiku (hehehe… dewasa adalah pilihan… istiqomahkan aku Tuhan)

“ Jadi bintang mah nggak ada yang jatuh, hanya berpindah tempat” ujarku pada Elis, sang adik saat ia memintaku membantunya memahami teks IPA yang membosankan.

“ Hmm….” Sang kakak mengalihkan perhatiannya dari soal-soal matematika yang ku berikan.

“ Apa iya kak?, bukannya bintang jatuh memang ada?” … yah selalu seperti ini jadinya. Karena keterbatasan waktu yang ku punya. Aku gabungkan saja dua anak berlainan usia itu belajar. Dan bila pelajaran sang Adik lebih menarik atau sebaliknya, aku pasrahkan saja semua… toh tak ada yang salah mempelajari hal-hal lain.

“ Gak ada!” jawabku singkat

“ Itu Kak, ada yang bilang kan… kalau kita liat bintang jatuh, permintaan kita akan terkabul”

“ Siapa yang bilang?” kataku pura-pura tidak tahu dengan pernyataan sotoy itu. stupid dan tidak ilmiah.

“ Masa Kakak gak tahu?!”

“ Nggak!” jawabku nyantai. Ani, sang kakak memandangku penuh harap. Hobbyku bercerita, ia paham sekali itu.

“ Hmm… yang kakak tahu ya…bintang itu gak ada yang jatuh. Kalo ada yang bilang apa yang Ani bilang tadi berarti dia stupid. Lah bintang itu gak mungkin jatuh… mau minta apa coba!! Kapan bintang bakal jatuh?blablabla……..” kuceritakan betapa sempurnanya Allah mengatur seluruh alam semesta.

“ Semua kekuasaan Allah, begitu juga bintang yang berpindah tempat tadi. Nah!! Kita bahkan lebih kuat dari bintang-bintang itu. kita punya akal untuk berpikir, bermimpi, bahkan menggantungkan cita-cita ke bintang itu. dan semua pinta mestinya ke yang Maha Kuat, lebih kuat dari kita, bukan ke benda mati. Kalo mau permintaan kita terkabul, ada loh waktu-waktu yang makbul untuk berdo’a. Kalo yang ini dijamin ada dasarnya. Berdo’a sehabis sholat, berdo’a saat buka puasa. Do’a anak yang sholeh untuk orang tuanya. Gimana?”… I love their face yang menunjukkan ketertarikan mereka mendengarkan aku. (dasar sanguin…koleris). dan anggukan-anggukan itu semakin membuatku nyaman.

Saat itu emutan terakhir permenku. Ani menghadiahi lagi aku permen… Yah!! U simpan… semoga permen-permen itu benarlah bukti cinta mereka padaku. Walau lesson plan masih stupid (bahkan lebih sering tanpa plan). Walau gaya mengajarku tak lepas konvensional (soalnya tak ada waktu untuk mengaplikasikan metode-metode mengajar brillian… aku selalu dikejar PR mereka). Walau aku memulai semua dengan terpaksa. Walau aku masih sering mangkir dengan bertumpuknya tugas dan pekerjaan lainnya. Walau hujan yang deras kadang membuatku nyengir-nyrngir sendiri coz langkah mereka terhambat di balik hujan. Walau permen-permen itu bukan makanan kesukaanku. Tapi di atas segalanya adalah ketulusan… adakah nanti aku menjadi seperti Ibu Muslimah bagi Andrea Hirata. Mewarnai benak anak-anak itu. Menanamkan pemikiran-pemikiran indah tak terlupa. Ibu Muslimah yang tulus. Ahhh… jauh memang, aku yang tidak sabaran dan selalu menertawakan PR-PR mereka yang tidak jelas visinya. ”susah banget sih yang ini! Liat yang temen aja lah Ni’ di sekolah!” atau ”hmmm…. gak berbobot! Ini mah dikerjain di sekolah gak lima menit juga selesai Ni Ni… kerjain sendiri deh”

Permen-permen itu kan selalu ku kenang. Pencarian jati diriku sbegai guru. Oh…. so sweet (kata-kata yang kan terucap saat terkenang mereka nantinya!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s