useful childishness

“hihihi… mbak lingga nih lucu, kayak anak kecil” Kayak anak kecil??? Yang ngomong gitu anak kecil loh!! kelas 2 SD, murid les private saya, Jihan Nabila

“masa sih?” tanyaku seakan tak percaya. Yaah secara yang ngomong anak kecil, dengan gaya sok tua pula’

“ iya, mbak tuh kayak anak kecil gayanya, lucu” kata Jihan lagi. Gak ngerasa kalo dia tuh lebih kayak anak kecil lagi. Malah ngomongin gw kayak anak kecil, ngaca dong ngaca… (loh?)

“Emm… biarin ah! Enakan mbak kayak anak kecil apa kayak anak besar?”

“ Hihihihihihi” dia ketawa-ketawa aja. Okeh…

Sebenernya sih gak sekali itu aja saya dibilang kayak anak kecil. Di kesempatan nggantiin seorang guru SD,seorang anak cowok kelas 6 SD yang baru aja ujian akhir praktek bahasa inggris sama saya said like this…

“ustadzah lingga ni kayak anak banad aja” katanya, ya eyalah masak kayak aulad…

“apanya?”

“gayanya ustadzah… kayak anak banad kelas 6” … hohohoho… secara tinggi dia emang lebih dari saya, jadi saya milih gak ngomong apa-apa (emang napa?)

Ada juga anak lesan saya yang kelas 3 SMP, waktu itu lagi siap-siap pulang, dia senyum-senyum

“Mbak lingga nih kayak anak SMP aja, Tary jadi ngerasa lebih tua” loh?? Overdosis keknya gw.

Hemmm… ada yang salahkah dengan gaya saya? Tidak ada. Karena kedewasaan lingga sudah bukan suatu hal yang perlu diragukan lagi (uweeeek). Hihi… maksudnya cap anak-anak itu terhadapa saya yang katanya kanak-kanak bukanlah semata karena bawaan saya yang keliatan kayak anak-anak. Kejadian-kejadian di atas adalah sekelumit hasil eksperimen saya dalam mencoba nge-friend ma anak-anak didik. Jadi yaaah kayak bunglon aja gitu loh, bisa jadi kayak anak kecil kelas 2 SD, bisa jadi kayak anak 6 SD, bisa jadi kayak anak SMP. Semua adalah usaha untuk tidak membuat jarak yang lebar dengan anak didik. Menjadi teman mereka akan menghasilkan jalinan emosi yang kuat. Mereka jadi lebih mudah beradaptasi, lebih nyaman and gak kaku. Ehm… ternyata berhasil ternyata… (bukannya emang bawaan lu childish ling?? Hihihihi). Iya, kalo jadi guru les sih emang semua orang biasanya gitu kali yaaaa…. Tapi ya memang harus seperti itu. Dengan berlagak sesuai dengan lagaknya anak didik, mereka jadi lebih terbuka, bukan cuma pelajaran sekolah, tapi lebih dari itu malah, asik juga untuk memasukkan nilai-nilai yang penting buat mereka ketahui, kesempatan dakwah yang sangat manis.

Advertisements

14 thoughts on “useful childishness

  1. menatapmatahari says:

    niwanda said: Fleksibilitas yang mendukung pergaulan ya :).Bagus, kok…

    hehehehe…. iya lingga emang fleksibel… bisa bertingkah kanak-kanak… tapi lebih sering berlagak dewasa koqq… (huwehehehehe…)

  2. ichamary says:

    menatapmatahari said: dari pilihan headshotnya siiih… keliatan kepribadiannya… hahahaha

    kl dari Psikologis mank begitu yah?:Dhummmm.. Quote from my writing http://ichamary.multiply.com/journal/item/10/cHiLdish_and_Fitrah_IkhLas: “Lihatlah anak-anak itu, mengapa mereka begitu cepat mempelajari berbagai hal ? bahkan menurut penelitian apa yang anak-anak pelajari jauh lebih banyak dibandingkan ilmu yang kita pelajari untuk menjasi S3. kuncinya adalah anak-anak selalu melakukan dua hal: Rilex dan Fokus yang berlangsung terus menerus setiap saat” <– thats my one reason 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s