Aku Belum Bisa Masak

Alin menghitung usianya dengan bodoh. Berpura-pura tidak mengingat ulang tahunnya yang keberapa hari ini. Menghitung lagi,lagi, dan lagi.

“oooh…dua puluh dua.” harunya membanjiri mata. Alin menatap satu persatu bahan2 yg akan ia olah menjadi kue ulang tahunnya itu. Ia belum pernah memasak kue ulang tahun, bahkan memasak apapun kecuali mie instant, air, dan nasi di rice cooker. Menyedihkan memang.

Dapur yang sepi, hanya ada dia. Bahkan di rumah, tak ada orang selain Alin.

Alin mulai mencampur telur dengan gula. Wajahnya antusias menyalakan mixer. Ia bersenandung riang. Memasukkan tepung seperti yang ia saksikan di acara-acara cooking show. Oooh… Dapur selalu membuat ia bosan, lemas, dan kelelahan. Alin mengusap keringat yang menitik-nitik di dahinya. Celemeknya telah belepotan tepung, telur, dan mentega. Susu, dan segala bahan yang bisa ia himpun dari rak bumbu bunda. Alin…

Setelah berhasil mencampur semua, kue ulang tahun yang ingin ia persembahkan untuk dirinya sendiri yang telah semakin dewasa. Ia memanggang kue itu dengan senyum merekah di bibirmya. 10 menit, 20 menit, ia lupa berapa lama ia harus memanggang. Tapi Alin pernah mendengar dari seorang koki di acara cooking show di TV, tidak boleh sering2 membuka tutup baking karena bisa menyebabkan kue bolunya menjadi bantat.

Alin menunggu detik demi detik dengan hati berdebar. Begitu ingin ia melihat kue itu sempurna jadinya. Sampai ia tertidur, kepalanya tergolek di meja makan, sedang ia duduk di kursinya.

“DWUAAAAAR!”

“aaaaah..!! Apa yang aku masukkan sampai ini terjadi?”. Dapur berantakan dengan remah2 bolu Alin yang berhamburan.

Advertisements

30 thoughts on “Aku Belum Bisa Masak

  1. menatapmatahari says:

    @diaryperihehe…masa sih mbak?@arynsismenemukan keasyikan tersendiri nulis cerita sangat pendek alias flash or micro fiction sejak ada sayembara cernak 100 kata nih bu…thanx ya bu…sering2 aja bikin lomba gituan..hihi…

  2. diaryperi says:

    menatapmatahari said: @diaryperijadi inget tumisan sawi lingga yang dicaci maki ma para mpers…hikz3x…ga ada hubungannya ah…ayolah mbak ke bengkulu nanti lingga ajarin masak deh…

    wadouhhh….harus ke bengkulu segala yah??belajar sama mamaku saja, ah…:))lebih murah dan hemat biayahahahaha…:))

  3. menatapmatahari says:

    @diaryperihakakak…thatz better…i’m even not better than u may be…hihi@meineschreibeyah…belajar masak dari kecil…saya dulu waktu masih kecil paling suka main masak2an and nonton Resep Oke Rudi…

  4. pondokkata says:

    mau brownies? black forest? atau bolu surabaya?saya bisa loh (hehehehe….sombong yah??)ayo semangat terus belajar bikin kuenya, dulu juga saya diajarin mamah, gagal beberapa kali akhirnya bisa. Tapi paling gampang sih buat kue kering.

  5. menatapmatahari says:

    @ramarizanaweew…afwan afwan…ini multiply mobile soalnya…jadi ga keliatan headshotnya..Maaf mas,belum familiar ma id-nya soalnya yah…Waa hebat…ikhwan pinter masak….lanjutkan!^^

  6. ramarizana says:

    gpp,Mbak.. klu ana ragu dg id nya,biasa manggil kk aj biar gak salah.. waduh,masih terasa ni efek pilpres ny.. gak jga,Mbak.. dulu sebelum kuliah,sering coba2 masak..

  7. menatapmatahari says:

    Ohw…klo kk kayaknya mutlak aja lebih tua gitu…klo mbak kan biasanya buat manggil orang yang belum benar2 dikenal…bisa lebih tua bisa lebih muda…haiyah koq malah jadi ngebahas ini..heohw…saya mah sebelum kuliah, SMA…hubungannya?… šŸ˜€

  8. muslimahrevolt says:

    menatapmatahari said: @muslimahrevoltbelajar atuh mba..awas jangan sampe dapurnya meledak yaah…hee

    hehehehesiiip deh…insya Allah ga sampe meledak..tapi kalo gosong iyah:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s