Alisha

“dia akhirnya pergi Rin…” mata itu sayu, sedikit sembab seperti habis menangis semalam. Jilbab putih yang membungkus kepalanya agak sedikit berantakan, seperti dipakai tergesa-gesa. Wajah ceria khas Lisha hilang. Siapa pula gerangan orang yang meninggalkannya dalam keadaan menyedihkan begini? tega!

“ Siapa Sa?” Lisha membuang pandang ke laut biru yang terbentang di hadap kami, deburnya tak membuat gentar segerombolan anak yang ditarik-tarik ibunya untuk menepi. Lisha seketika tersenyum, nyaris tertawa hingga ia berteriak kecil… Selalu begitu jika ingin bercerita tentang laranya. 
“Aaaaaaa…waa seru ya Rin,…. Kapan-kapan kita maen rame-rame yuuuk” aku mengikuti arah pandangnya. Lima orang dengan pelampung berwarna kuning terombang-ambing di ombak pantai tak begitu jauh dari tepian. Banana boat yang mereka naiki pastilah oleng dan menjatuhkan ke-5 orang itu. Speedboat yang menarik si banana berputar arah kembali ke penumpangnya tadi, mungkin baru sadar mengapa bebannya ringan alias tak ada beban, cukup jauh speedboat itu telah melaju hingga berbalik arah. Lisa semakin asyik memandangi aksi penyelamatan di ujung kanan pantai. Urung menceritakan ihwal kesedihannya, tapi dahinya masih berkerut sama seperti ia baru ingin membuka curhatnya tadi, binar matanya terlalu dipaksa hingga berair dan merah sepasang matanya yang bubbly itu. 
“tadi yang pergi siapa Sha?” tanyaku lagi. Lisha tersenyum, tertawa, aaah selalu begitu, senyum dan tawa palsu yang mencoba menutup setiap lukanya. Lisha. 
“ hihihi, hebat kamu Rin, liat, jagung kita emang lebih besar dari jagung orang itu” Lisha menunjuk ke sepasang insan dimabuk asmara yang duduk di bebatuan pantai berdua,kira-kira 5 meter dari tempat duduk kami, melahap jagung sambil tertawa-tawa, sesekali saling menyicipi jagung pasangannya. Yaah, jagung yang belum tersentuh dan masih tergeletak di piring plastic bergambar Donal bebek di meja kecil mungil di antara kursi kami memang jauh lebih besar dari jagung pasangan itu. Lisha mungkin yakin itu dikarenakan pesananku tadi…
“yang besar ya dik jagungnya…” itu pesanku pada anak penjual jagung bakar itu. seorang anak  perempuan mungkin berusia 8-10 tahun. Aaah kecil-kecil seperti itu sudah harus mencari nafkah. Ia datang menghampiri kami membawa tissue dan es kelapa muda. Tersenyum lalu pergi membakar jagung pesanan lagi. Mata Lisha mengikuti langkah anak itu. 
“Pinter ya dia jualan” Lisha… apalagi yang akan ia komentari tuk mengalihkan pembicaraan awal kami. Lisha… kenapa sulit sekali ia membagi luka, duka dan laranya. Selalu cerita tak pentingnya yang mampir di telingaku, tawanya saja, atau kisah-kisah lucu yang tak pernah habis menghiasi harinya…
Aku tadi mau moto cowok keren banget megang kamera sambil menghayati objek fotonya, eh dia malah muter, ketangkep deh aku… huhuu malu.” Lisha,…lisha. Itu dulu ceritamu sambil memperlihatkan foto seorang lelaki berjenggot tipis dengan kamera sakunya yang menghadap ke depan, kau tambahkan sebenarnya kau ingin memotonya dari samping, tapi dia keburu muter dan tertangkaplah ia. Dasar fotografer nekad itulah Lisha. 
Dan aku tak ingin memaksamu bercerita, toh wajah ceriamu yang sesekali menghilang beberapa detik saja telah menunjukkan segala yang kau rasa. Tak perlu kau ucap, aku tahu, dan yang paling penting aku tahu jika kau tahu aku tahu. Selalu hanya satu kalimat yang kau ucap untuk membahasakan rasamu padaku, sahabat.
“sulit Rin, biarlah hadir kamu aja yang menghibur aku” saat ku protes sikapmu dulu. Jawabanmu bagai bab penutup bagi semua tanya tentang lukamu. Tak perlu lagi di bahas. Untuk senyummu yang hilang, untuk matamu yang menjelma sendu, untuk jilbabmu yang berantakan, aku kan berusaha ada selagi ada.
Segerombolan anak yang sedari tadi mengejar ombak berlari menjauh, menyongsong ibu dan ayahnya yang telah menunggu dan siap dengan beberapa helai handuk. Dan hal itu tak luput dari komentarmu lagi. Lalu sepasang kekasih tadi yang membuang bekas jagung ke pantai, kau malah berhasil membuat si perempuan menoleh dengan teriakanmu yang spontan saat si jagung melayang dari tangan mereka, tissue yang habis dan es kelapa muda yang gulanya belum larut serta terlalu banyak dikasih lemon, dan uangmu yang hanya tersisa 5000. Bibir mungilmu tak henti berbicara meruah resah, ya… dengan itulah kau bercerita tentang  resahmu pada ia entah siapa, yang pergi meninggalkanmu. Dan aku akan selalu ada, berusaha ada selagi ada, untukmu. Saat matahari kian terbenam, kau seperti kembali bersinar menggantikan sinar mentari yang perlahan meredup, binar itu kembali di matamu…azan maghrib membuatmu terlonjak. Hayya ‘alal falaah…
_Rin_
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s