Saman Lon Sayang

Saman, tarian yang jelas berbeda dengan tarian tradisional lainnya. Berbeda dari koreografi, isi, dan visi. Saman merupakan hasil dari cipta rasa seni seorang syekh yang begitu peduli dengan dunia dakwah Aceh. Saman dijadikannya media dakwah pada saat itu, beliau adalah syekh Saman, darimana nama tarian ini berasal.

Tarian ini bukanlah tarian lenggak-lenggok wanita dengan kerling mata menggoda. Bukan pula tarian sekelopok laki-laki perkasa layaknya hendak berperang. Ia adalah tarian mengajak penghuni serambi mekkah memuja-muji asma Illahi.

Tari saman adalah interpretasi dakwah (pujian-pujiam kepada Allah) dalam seni dari seorang ulama Aceh yang tak berbilang indahnya. Menjadi warisan budaya Indonesia, tari Saman mampu membawa nama Aceh kemana-mana. Hey, adakah yang ingat bagaimana ekspresi seorang rendah hati Jackie Chan saat menyaksikan tarian ini … terpukau. Ya, Saman memiliki kekuatan magis yang mampu membuat penikmatnya terpukau.

Dan tarian terpuji itu berkembang (baca berubah) zaman demi zaman. Dari sebelumnya hanya ditarikan oleh laki-laki, kemudian ditarikan pula oleh perempuan, dan seterusnya hingga tarian itu tak jarang ditarikan oleh laki-laki dan perempuan, bercampur. Dari gerakan-gerakan santun yang hanya ditarikan oleh putra sampai pada suatu ketika seorang artis ibukota melakukan tarian ini sebagai bagian dari performance-nya.

Kejadian itu cukup berbekas di memoriku, flash-flash video tariannya di berita televise masih berganti-ganti memenuhi rongga otakku, Agnes Monica. Bagaimana tidak?… bila tarian itu kita runtut dari sejarahnya, akan muncullah sebuah sejarah terpuji di baliknya. Tidak dengan pakaian vulgar ala artis-artis ibukota. Ia adalah seni tari yang lahir dari kemuliaan Islam. Bukan dengan pakaian you can see every parts of me. Bahkan ketika kemudian tarian itu ditarikan oleh muslimah-muslimah Aceh. Ia tetaplah tarian sopan yang penuh tata krama dan spirit cinta Syariah islam. Bukan untuk mempertontonkan tubuh manusia dengan gerakan-gerakan erotis dan busana membentuk keindahan tubuh semata. Ia adalah tetap tari yang mucul dari “serambi mekah”

Sahara Apartment #5307

“lingga ayo rapat, sekalian mau latihan nari Saman nih” ujar seorang dari balik pintu saat aku membukakan pintu kamarku sedikit demi mendengar ketukannya yang bertalu-talu.

Hemm… telah ku dengar sedikit selentingan tentang bagaimana tarian itu akan mereka bawakan. Tari saman, sering ku menontonnya di TV. Dan tarian itu tidaklah seperti ini.

Beberapa anak Indonesia mendapatkan kesempatan belajar di luar Indonesia. Amerika. Sebuah kesepmatan yang memberikan pengalaman yang mengantarkan rasa cinta tanah air bertambah-tambah. Mencintai budaya timur yang santun dan membuat nyaman, aman. Walau kadang membikin malu dengan ketertiban mereka yang berlebih-lebih dari kesemrawutan yang dimiliki Indonesia.

Tapi Indonesia tetaplah negara berbudaya. Cita rasa seni penduduknya tak diragukan lagi. Lapangan depan CESL (center of English as a second language) UoA menjadi saksi dari antusiasme para penonton mancanegara dari Amerika maupun negara lain, Jepang, Italia, China, Meksiko, Mali, Senegal, Korea, India, Arab. Semuanya begitu antusias menyaksikan pertunjukkan budaya yang ditunjukkan “indonesian Students”. Dan salah satunya adalah pertunjukkan tari saman.

Dengan penari-penari amatir dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti halnya di negara bagian lain yang juga didatangi 20 pemuda indonesia lainnya, Ohio, Syracuse, Oregon, bahkan Arizona periode sebelumnya, Saman selalu menjadi pilihan. Karena popularitasnya yang menjadikan ia begitu familiar di kalangan seluruh anak-anak Indonesia, Saman dipertunjukkan di setiap kesempatan “Indonesian day” program beasiswa tersebut. Dengan latihan keras sebelumnya tentu.

“klo di Aceh sih ling, cewek sama cowok gak nyampur ginih” kata Rijal, sang koreografer dan vokalis dari lagu iringan tarian ini.

“ loh? Terus kenapa ini dicampur?” galauku terruah setelah beberpa hari ku tahan dalam emosi bertumpuk-tumpuk.

“ Yah ling, gimana gak dicampur, kita kan orangnya sedikit. Dikurangi ama lingga and lain-lainyang nggak mau nari. Jadi udah dicampur aja” jawab Rijal lagi, pemuda Aceh yang begitu bangga pada Acehnya, yang sering bercerta tentang Acehnya, serambi mekah yang subhanallah, dengan bangga, dengan logat melayunya yang “sangat “Aceh”

Sulitkah untuk istiqomah. Kembalikan visi utama tari Saman. Jangan biarkan ia bergerak liar meninggalkan visi utamanya seiring zaman yang kadang tak ramah pada nilai-nilai luhur budaya. Nilai-nilai yang semakin tergerus oleh arus yang sering orang sebut “globalisasi”. Saat kita selalu mengikuti kehendak pasar. Kehendak yang tiada ada hentinya hingga kebudayaan, tradisi akan terus berubah seiring berjalannya waktu.

Advertisements

39 thoughts on “Saman Lon Sayang

  1. night16 says:

    menatapmatahari said: . Hey, adakah yang ingat bagaimana ekspresi seorang rendah hati Jackie Chan saat menyaksikan tarian ini … terpukau.

    mau donk info selengkapnya

  2. night16 says:

    menatapmatahari said: @yorryduh…cuma nonton sekilas waktu jackie chan dtg ke Aceh pasca tsunami… Masih kebayang aja ekspresinya yang nice@mba wik, mba leihii… Iya mbak… Ditulis ulang…

    owh, lihat langsung? asiknya

  3. yudimuslim says:

    menatapmatahari said: Mantap… Lingga emang unggulnya di kecerdasan linguistik… Cepet mempelajari bahasa (halah…satu kata doang bangga amat!!heee)Kikikik… *_*ga nolak… Iyes!

    emang berapa kecerdasan linguistikmu ling?terus kecerdasan verbalmu?

  4. ainalzone says:

    di kampus dulu ada semacam kelompok yg khusus nari Samantapi emang insidental aja sih, padahal orang Acehnya ga terlalu banyakbagi saya yg lumayan seneng permainan tempo, Saman itu punya bagian seru tersendiri. apalagi kalau yg mainin ngerti tempo juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s