Khaylila…

Khaylila yang cantik
Cepatlah kau besar
Ajarkan dunia berbagi seperti yang
Ku ajarkan kepadamu..
Khaylila yang mungil
Bila kau jadi pemimpin
Berikan hak mereka.. Bebas dari rasa takut
Juga rasa tertindas

Reff:
Dengan senyummu senjata membeku
Tentara bernyanyi ikuti tingkahmu
Tak ada lagi naluri menguasai
Perlahan berganti naluri berbagi

Satu hal yang pasti..
Ajarkan anak kita..
Berbagi.. Memberi.. Lebih dari yang kita
Lakukan untuk saat ini..

Back to reff

Dengan senyummu langit terpeluk
Bintang bertakuk
Ku butuh kau sentuh

Tak ada lagi
Yang ku takuti
Ku terlindungi
Dengan sentuhanmu…

lingga likes this song

by. Sheila on Seven

Why?
hemm… ini lagu zaman SMA… album pejantan tangguh…
lagunya keren dan gak basi… (kayak lagu2 band sekarang)
Eros nyiptain nih lagu buat Khaylila, anaknya (heuleuh emang eros udah nikah zaman gw SMA?), anak adopsi dari sepupunya sendiri.
Isinya? ya, harapan dia kepada si Khaylila itu…. dan tentunya kepada Khaylila-Khaylila yang lain…

Dengan senyummu senjata membeku
Tentara bernyanyi ikuti tingkahmu
Tak ada lagi naluri menguasai
Perlahan berganti naluri berbagi

waktunya ngaca, cantik? ganteng?

Beberapa hari yang lalu ada sebuah insiden yang bikin saya marah bukan kepalang, sampai kayak apa aja. Saya merasa menjadi orang yang paling tersakiti sedunia… .


Saya pun mencoba tidak menyelesaikannya dengan kanak-kanak (hihihi… walau pun sebenernya masih kanak-kanak juga sih). Saya mencoba berkompromi dengan waktu untuk menetralisir emosi itu. Tidak ingin gegabah membalasnya dengan perlakuan yang mungkin akan membuat skor “tersakiti” menjadi satu sama. Tidak juga menghapuskan pelakunya dari daftar kontak saya.

Seiring waktu (sampai sekarang), saya masih menyesalkan “perbuatan” orang tersebut, dan masih merasa sebagai korban dari perlakuannya yang tidak terpuji itu (lebay on) –> semoga ia belajar untuk hati-hati dalam bercanda

and last night, someone said that she was hurt by me…. she didnt even remember what. Saking terlukanya mungkin, jadi yang teringat cuma sakitnya saja. Jangan tanya saya apa, dia saja lupa, apalagi saya.

Ahhh sombongnya manusia. Selalu merasa terlukai. Suka over-sensitif terhadap luka sendiri tapi tidak sensitif terhadap luka orang lain. Mungkin peringatan Allah… membuat saya jadi berkaca…



daripada bete’
daripada pusing
daripada nahan kesel…
daripada capek mikirin hal yang gak penting
mendingan ngaca… 😛

Dalam bayang sendu kau ku sapa
Wahai putri dalam cerminku
Temani diriku terluka…

Dalam bayang semu kau kupinta
Hapuskan sedihku, pancarkanlah senyummu
Buatlah diriku tertawa
Bawa daku bersamamu
Capai bintang-bintang
Sinari sepiku

Wahai putriku dalam cerminan
Hiburkan hatiku
Walau dalam lamunan
(sherina)

Teringat luka saya beberapa hari lalu… oohw… ternyata saya juga manusia… masalah kecil aja sebegitu marahnya, sampai terpikir memutuskan silaturahim, ukhuwah (lebay lebay lebay!!). Mungkin memang tidak mudah melupakannya… tapi cobalah abaikan saja. (ngaca lagi ngaca lagi…) .


NB:
Maaf, lagi-lagi judulnya maksa… hehehe… lagi gak mood mikirin judul (gak pernah mood)
foto model: Breanna….

poligami… menjadi muslimah yang berhati luas…

hemmm… kemaren dengerin seorang ustadz “ngobrol” tentang ihwal suatu permasalahan yang sedang menjadi polemik di kalangan ikhwah Bengkulu. Analisanya tentang salah satu penyebab permaslahan tersebut…

“mungkin karena hati kita sempit, nggak mau berbagi. buktinya aja, di bengkulu gak ada kan ustadz yang istrinya dua? muslimah-muslimahnya gak mau berbagi sama muslimah yang lain…. maaf, sebenernya gak ada hubungannya sih… yah memang gak ada hubungannya…” maksudnya memang ngeguyon, tapi bener-bener menohok.

sempat setuju, sempat malu… tertohok… secara gw gak pernah kepikiran bakal sudi di madu weeee…. kayak apa aja, nikah aja belom mau ngebahas tentang poligami.

Di sisi lain, saya pun disuguhi dengan berita-berita artis yang merebut suami-suami orang. Artis-artis yang tentunya masih muda, cantik, seksi berhasil mengalihkan dunia seorang suami dari istri yang sudah tidak ada apa-apanya lagi bila dibandingkan kecantikan fisiknya dengan para artis itu. Rumah tangga kemudian diambang kehancuran karena perselingkuhan. Istri dan artis berebutan suami. Yang satu nggakmau dimadu, yang satunya lagi hanya mau dinikahi bila sang laki-laki sudah menceraikan istrinya. Dua-duanya berhati sempit???

Dan tadi, saya juga harus mengurut dada menyaksikan tingkah seorang apa itu namanya… nanana Pu***ji yang mengumumkan bahwa dia mau nikah lagi dengan bocah usia 9 dan 7 tahun. Menantang pemerintah dengan bukunya yang sekilas saya lihat judulnya “Aisyah saja nikah dini”. Ohhhhh… no comment but crazy!!

dan hari ini, entah kenapa seorang teman tiba-tiba malah membahas poligami. membaca blog mbak HTR, begini kutipannya:

Lepas senja, saya sms kegundahan saya pada “adik” saya: Habiburahman El Shirazy, penulis novel Ayat-Ayat Cinta, ustadz muda yang mendalami Islam di Mesir.

Ini balasannya: Mbak, poligami itu rukhsah saja. Seperti sholat boleh duduk bagi orang sakit. Seperti sholat jama dan qashar bagi orang yang bepergian jauh. Asal syariatnya ya monogami. Artinya kalau dalam kondisi normal yang utama tetap monogami. Jika poligami mendatangkan mudharat, bukan manfaat, hukumnya bisa makruh, bahkan haram. Jadi tidak sembarangan. Namanya juga rukshah….

Berbuat adillah ia lebih dekat dengan taqwa, kata Allah dalam Al Quran. Dan monogamy itu lebih adil, jadi lebih dekat pada taqwa

Tak tahu mau menulis apa… tak bisa menganalisa isi hati saya, saya sedang kebingungan untuk merasa dan berpendapat. Entah sejak kapan begini…. Jadi hanya rangkaian fragmen yang belum tertata dan tak mampu berkesimpulan apa-apa…

“Writing isn’t about making money, getting famous, getting dates, getting laid, or making friends. In the end, it’s about enriching the lives of those who will read your work, and enriching your own life, as well. It’s about getting up, getting well, and getting over. Getting happy, okay? Getting happy.” -Stephen King

“Writing isn’t about making money, getting famous, getting dates, getting laid, or making friends. In the end, it’s about enriching the lives of those who will read your work, and enriching your own life, as well. It’s about getting up, getting well, and getting over. Getting happy, okay? Getting happy.” -Stephen King

apa yang membuat wanita enggan bercerita

apa ini? entah nih, ada yang ngasih PR ini dan sejujurnya saya tidak tahu masalah kewanita-wanitaan… klo ke-lingga-lingga-an mungkin… hehe

okay, sebenernya walopun lingga seorang wanita, tetep aja gak bisa digeneralisasi-in, karena emang ligga bukan representasi wanita yang cocok untuk topik ini… hehehe… maksudnya??

apa yang membuat wanita enggan bercerita? tergantung karakternya juga sih… ada yang emang gak suka cerita, ada yang emang doyan cerita, ada yang apa lagi?

nah!! salah satu yang membuat wanita enggan bercerita terjadi pada saya sekarang. Yaitu, topik cerita tidak dikuasai dengan baik… hehehehe… Dengan penuh kesadaran saya katakan bahwa saya nggak tahu apa yang membuat wanita enggan bercerita. Jangan tanya saya…. soalnya saya doyan banget cerita

DOA ORANGTUA BUAT ANAK Agar tenang menghadapi UJIAN NASIONAL

DOA ORANGTUA BUAT ANAK
Agar tenang menghadapi UJIAN NASIONAL
Munif Chatib

Betapa pilu melihat tayangan di TV tentang derai tangis siswa siswi kita menghadapi UJIAN NASIONAL yang akan digelar mulai minggu depan. MUlai jenjang SMA, SMP dan SD. Namun jika boleh jujur yang paling was-was, tidak tenang, sampai jatuh dalam ‘kepikiran’ yang amat sangat adalah para orangtua. Untuk itu saya mencoba urun rembuk ‘ketenangan psikologis’ orangtua yang mempunyai anak yang akan melaksanakan UJIAN NASIONAL. Kali ini saya tuliskan bait-bait munajat doa buat buah hati kita, investasi kita terbaik dunia akhirat, yaitu anak-anak kita. Semoga membantu memberi ketenangan.

Ya Allah…
Berikanlah ketenangan pada aku dan pada diri anakku
Menghadapi satu tahapan penting dalam kehidupannya
Kuatkan tubuh anakku … hindarkan dari sakit
Dan jauhkan hamba ini dari perilaku
yang membuat buah hatiku sakit
Sakit fisiknya … sakit hatinya …

Ya Allah ampuni hambamu …
Yang malah membebani anakku dengan perintah perintah
Padahal sudah bongkok pundak anakku memanggul beban
Yang malah membebani anakku dengan makian-makian
Padahal mereka sekarang butuh ceria, canda dan tawa

Ya Allah sadarkan nurani dan pikiranku …
Terangkan dan buat sejuk hatiku
Kala melepas anakku pergi sekolah
Kala menerima anakku pulang sekolah
Sadarkan dalam pikiranku ya Allah ..
Bahwa anakku pergi berjuang
Bahwa anakku pulang dalam kelelahan

Ampuni hamba ini ya Allah …
Yang menyambut pahlawannya dengan tekanan
Yang menyambut pahlawannya dengan marah
Yang tidak memberi kesempatan pahlawannya
istirahat barang sejenak

Hamba tahu bahwa ujian nasional itu penting
Namun jangan sampai merusak hubungan aku dengan anakku
Jangan sampai membuat lubang menganga dalam hati anakku
Sehingga mereka menjadi manusia peragu
Sehingga mereka menjadi manusia penakut
Sehingga mereka menjadi manusia
yang tak punya kepercayaan diri
Sehingga mereka merasa menjadi manusia lemah dan bodoh

Ya Allah …
Karuniakan kata-kata yang sejuk yang keluar dari mulut hamba
Untuk membantu anak hamba yang sedang butuh bantuan
Untuk mendinginkan panasnya mentari yang membakar otaknya
Untuk memberi semangat bahwa anakku harus berhasil
Untuk memberi pengertian bahwa yang terpenting adalah proses
Untuk memberi keteduhan kala harapan yang tinggi tak tergapai

Ya Allah …
Patrikan hambamu keyakinan
Bahwa anak kami akan melewati ujian ini dengan tenang
Bahwa anak kami akan mampu melewati titian berikutnya
Bahwa anak kami pasti akan menemukan
kondisi akhir terbaiknya
Bahwa kami dan anak kami siap menerima segala takdirmu
Setelah kami dan anak kami berusaha sekuat mungkin
Apapun keputusanMu Ya Allah …
Kami yakin akan ada hujan hikmah buat kami sekeluarga
Amien

Papua, aku ingin ke Bulan…

What happen to me sampe pengen ngebahas Papua?

Hoohoho… yang ada dalam pikiran saya tentang Papua, terakhir sebuah novel lupa judulny, yang saya baca waktu SMA, dengan latar Papua dan setting all about Papua, dengan segala kebudayaannya yang masih sangat “natural”. Jadi inget juga film anak seribu pulau jaman SD… kau mainkan untukku sebuah lagu… tentang negeri di awan… Papua dulu saya pikir adalah sebuah ngeri di awan (saking jauhnya gitu)

Ada lagi yang saya ingat, papua adalah daerah konflik, yang agak mengerihkan tentu untuk didatangi, apalagi untuk dipilih menjadi tempat breakaway.

Yang saya ingat dari Papua adalah beda waktu yang mencapai 2 jam. jauh sekali ya dari Bengkulu. Papua paling timur Indonesia, jauh, paling jauh dari ibukota. Papua??

Kemudian??
seperti biasa… gak jelas tujuan nulis apa. Agak terkejut mendengar seorang teman ingin menyepi ke Papua… menyendiri menyepi menghilang. Subhanallah… berani sekali ya…

Iyalah….
Tapi enak juga, ada kesempatan untuk breakaway sejauh-jauhnya. Bisa milih mau ke mana… yah, paling nggak ada pilihan… ada saat untuk memilih,… memilih ke Papua… bisa milih kan enak… kenapa eh malah milih Papua… karena jauhlah…. menjauh dari orang-orang yang telah mengenal kita, menjauh dari lingkungan lama, tentu bisa lebih mudah untuk berubah.

Tapi Papua…?? Ahhh pastilah menarik menginjakkan kaki ke daerah yang bahkan tak pernah mampir di pikiran kita untuk ditinggali. Acung 4 jempol untuk teman saya itu… Semoga sukses deh… Take care there ya nak!

i just write what i want to write