Ingin Seperti Belanda? Fokuslah!

Dulu waktu masih SMA, saya pernah mengikuti seleksi OSIS. Ada sebuah pertanyaan dari senior untuk salah seorang teman saya. Begini pertanyaannya kira-kira…

“Cita-cita kamu mau jadi apa?” Kakak senior

“Mau jadi akuntan”

“Ooh, terus ngapain kamu belajar Biologi?, ngapain kamu belajar Geografi, ngapain kamu belajar Sosiologi, buat apa kamu belajar kimia? ngapain pusing-pusing belajar fisika? Emang itu dipake pas kamu jadi akuntan nanti? Percuma kan?”

Doeng… si temen bingung.

Jika kita melihat orang-orang sukses, pastilah orang tersebut hebat pada satu bidang. Itulah yang kurang diperhatikan oleh pendidikan kita. Terlalu banyak pelajaran dan kita hanya diberikan kulitnya saja. Di kesempatan lomba menulis blog tentang Belanda kali ini, saya jadi sangat tertarik menelaah seikit tentang pendidikan di Belanda yang menempati peringkat 9 dunia. Satu kata yang dapat saya simpulkan dari pendidikan di Belanda adalah fokus.

Belanda mewajibkan pendidikan untuk anak-anak usia 4-18 tahun. Pendidikan di Belanda gratis, walau juga dikenakan biaya-biaya tertentu dari sekolah. Berbeda dengan pendidikan kita yang mengenal tingkatan Sekolah Mengah Pertama sebagai jembatan sekolah dasar menuju Sekolah Menengah Atas, di belanda hanya ada dua tingkatan yaitu Basiss School atau Primary School dan Secondary School

Primary School

Sekolah dasar atau yang disebut Basiss school di Belanda diwajibkan sejak anak berusia 4 -12 tahun. Dibagi menjadi 8 grup. Pelajarannya meliputi: Sejarah, Ilmu Alam, bahasa Belanda, Matematika, Kesenian, Musik dan Geografi. Sedangkan pelajaran Bahasa Inggris diajarkan pada saat anak duduk di group 7 dan 8. Kalau kita bandingkan dengan pelajaran anak-anak SD di Indonesia jaman sekarang, memang tidak jauh beda.

Pada tahun ke-8 Primary School, diadakan Citotoets, tes untuk mengetahui minat dan bakat siswa ini terdiri dari tes berhitung, Bahasa Belanda, dan pengetahuan umum.Hasil tes inilah yang nantinya akan menjadi pertimbangan untuk menentukan langkah ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Secondary School

Penjurusan zaman saya dulu sekolah baru dilakukan ketika siswa duduk di kelas 3 SMA. Bayangkaaan… sejak SMP-SMA saya harus belajar segala macam pelajaran yang banyak sekali. Mari-mari kita sebutkan daftar subjek yang wajib kita pelajari sejak SMP hingga SMA: Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, ditambah muatan lokal. Waauw… sudah ada berapa pelajaran tuh? Sangat kelabakan “menghafal” semuanya. Deretan Pelajaran tersebut harus dihadapi sejak kelas 1 SMP hingga 2 SMA, tak peduli kita menaruh minat atau tidak dengan suatu subjek. Wajar saja jika ada kejadian seorang teman saya tidak berhenti membuka buku fisika, padahal kami sedang belajar Sosiologi

Di sinilah letak perbedaan pendidikan Belanda.

Ada 3 macam sekolah lanjutan yang nantinya dipilih sesuai degan hasil tes yang dimiliki siswa. Yaitu:

VMBO (Pre-vocational secondary education)

Sekolah ini hampir sama dengan sekolah menengah kejuruan di Indonesia. Jadi sekolah lebih menekankan kepada praktek pada bidang-bidang tertent sebagi teknisi, sehingga lulusannya dapat langsung bekerja. Selain itu bisa juga melanjutkan kuliahnya lagi.

VWO (Pre0University Education)

Sama seperti SMA. Bedanya, sekolah ini lebih awal dalam mengenali minat siswa. Di dua tahun pertama baru pada perkenalan, siswa hanya diajarkan pelajaran-pelajaran umum yaitu: Bahasa Belanda, Sains, Matematika, Geografi, Kesenian, dan bahasa asing termasuk bahasa inggris. Tahun selanjutnya, siswa dapat memilih satu dari 4 profile yang ada:

Profilenya antara lain Budaya (fokusnya ke Bahasa), Ekonomi (fokus pada ilmu social dan ekonomi) , Teknologi, dan Sains. Nah… kesemua profile memiliki spesifikasi lapangan yang berbeda-beda, pelajarannya juga lebih spesifik sesuai dengan bidang-bidang tersebut. Sesuai dengan cita-cita siswa untuk melanjutkan sekolahnya ke tingkat universitas. Dengan system seperti ini, maka tidak akan kejadian deh anak-anak seperti teman saya zaman SMA dulu yang selalu buka buku Fisika, tidak peduli padahal sedang belajar Sosiologi. Atau seperti saya yang amat sangat benci sekali pelajaran Fisika tapi terpaksa harus memperlajarinya dari SMP- SMA.

HAVO (Senior general secondary education)

HAVO tidak berbeda jauh dengan VWO, profile pilihannya juga sama. Yang berbeda, lulusannya lebih diarahkan untuk menjutkan kuliahnya ke HBO (hoger beroepsonderwijs), atau kalo di Indonesia lebih kita kenal dengan sebutan Sekolah Tinggi, dimana teori dan praktek mendapatkan prioritas yang sama.

Nah… itulah dia sistem pendidikan di Belanda. Sangat baik untuk menjadi pembanding sistem pendidikan negara kita, Indonesia. Pemerintah Belanda lebih tanggap dalam memfokuskan rakyatnya pada bidang dan jalur yang mereka minati, sehingga pendidikan dapat berjalan lebih efektif . Hal tersebut kemudian berdampak positif pada output lembaga pendidikannya. Tidak heran jika pendidikan di negara kincir angin ini berhasil meraih peringkat 9 dunia. Bukankah untuk sukses kita harus fokus?

References:

http://nostalgia78.multiply.com/journal/item/384/Sekolah_Dasar_Belanda_8_Tahun

http://holland.angloinfo.com/countries/holland/schooling.asp

http://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_the_Netherlands

essay ini saya tulis dalam rangka mengikuti kompetiblog, Ehm ehm tujuan posting di empe supaya banyak yang baca blognya. Klick di Sini untuk ikut diskusi di lokasi kejadian…. wish me luck yaaaa…. :^)

Advertisements

photo contest


Ahem ehem…
Mohon maaf kalo postingan ini sebenar-benar gak penting. Cuma mau menceritakan kabar gembira. hehehe…

Lingga menang kontes foto “i’m with friends” di mymocca.com waaaaa. Hadiahnya DVD mocca klo gak salah… (sampe gak inget hadiahnya apa). Hoho… sebenernya sih gak terlalu mikirin hadiah… eew eeew…

Ini fotonya gak pake diedit-edit loh… cuma dicrop dikit, fotonya diambil di warung bakso yang baru bangun lantai 2-nya… karena baru, jadi lantainya masih kinclong bangeet… hahai… jadi refleksinya clear abiisss…

Kalo kata yang nilainya sih chemistry-nya dapet banget dari ekspresinya… padahal itu mah lingga nahan2 ketawa… abis lari2 ke posisi setelah nyetting kameranya…. . Sambil command yang lain tuk beraksi sok-sok ngerumpi gituuuh.. hehe

Pokoknya seneng ajaaa… hehe… giliran lomba yang gak penting gini ajjaa… menang… Giliran yang nulis-nulis susah-susah and hadiahnya ngejreng-jreng gak pernah menang…

Gak papa deh… nyang penting seneeeeng…

*menjadi indonesia

Suatu hari Ji’eng, anak les-an saya, dapet PR Bahasa Indonesia dari gurunya. Disuruh bikin karangan bertema “Kenapa Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia”. Saya excited sekali saat dia meminta bimbingan atau lebih tepatnya melaporkan PR tersebut. Langkah pertama … brainstorm


“Nah… Apa yang Ji’eng banggakan dari Indonesia”

“Aku nggak bangga koq jadi anak Indonesia”

“Gubrak!!” OMG, nih anak gak ada basi-basinya banget sih…

“trus, Ji’eng bangganya jadi anak apa?”

“Aku mau jadi anak barat aja” Jyaaahhhh…gila’ yah… anak-anak jaman sekarang banget.

Tapi karena mau tidak mau tuh PR harus dikerjakan juga, akhirnya si Ji’eng mengerjakannya dengan teori-teori klasik dari saya, beraneka ragam suku-bangsa, beribu-ribu pulau, beribu-ribu kebudayaan daerah, budaya timur yang santun, berribu bahasa…. Huuummhh… walau saya gagal menanamkan what’s so special with all those things.

Baru-baru ini saya mengahadiri acara yudisium sahabat saya. Biasanya saya tidak begitu menaruh perhatian pada tarian persembahan yang slalu membuka acara resmi ini. Tapi kali itu, saya dengan antusias menyaksikan performance tersebut. Ehmmm… yang paling menarik perhatian saya pertama kalinya adalah, kesemua penarinya pake jilbab, Bengkulu banget deh kalo gini. Biasanya nggak gitu, bahkan ada yang kesehariannya berjilbab, pas nari jadi buka jilbab. hemmm… sayang gak ngambil fotonya, soalnya waktu itu hikmat banget sih liat tariannya, bagus dan santun.


” Kalo punya anak entar, kayaknya mesti dimasukkan ke sanggar seni daerah deh mil” Tiba-tiba saya mencetuskan itu ke teman saya. Mila jadi bingung, tapi kemudian mafhum setelah saya menceritakan perihal Ji’eng dan obsesinya jadi anak barat, yang lebih memilih meniru-niru Demi Lovato, Ashley Tisdale, Taylor Swift, modern dance dengan gerakan “erotik” khas High School Musical, Camp Rock, dan lain sebagainya itu, yang barat bangeeeeeet. (walau thankz GOD, i love her pronunciation… keren banget anak kelas 3 SD).

Di sekolah, kebudayaan daerah belum cukup diperkenalkan dengan baik. Saking banyaknya kebudayaan daerah yang harus dihafal, dari dumah daerah, tarian daerah, musik daerah, baju daerah, and all from 33 provinsi. Weeew…. Semuanya dihafal dari buku yang nggak kaya gambar, dan penjelasan. Salah siapa kalo udah begini? semuanya stuck di hafalan dan hafalan.

Kenapa tidak fokus saja pada pengembangan minat anak di seni daerah itu sendiri. Kenapa jadi stuck ngafalin rentetan nama doang? terlupa misi untuk menanamkan cinta tanah airnya. Yang ada anak-anak malah jadi bosen dan memilih untuk menjadi anak barat yang cantik dan tinggi, blonde, dan bisa menari dengan lincah. Hikz…

Saya memang bukan pelaku seni budaya, bukan pula orang yang dengan intens mengembangkan even mempertahankannya. Tapi kalo semua anak seperti Ji’eng, aahh pasti masih banyak lagi Ji’eng-Ji’eng yang lain di Indonesia ini. Saya rasa, saya harus melakukan sesuatu. Kembalikan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap Indonesia…. budaya Indonesia… makanan Indonesia, Tarian Indonesia, Musik Indonesia. Menjadikan mereka Indonesia…

Hemmm…
Juga ceritakanlah pada mereka, betapa orang-orang barat itu selalu berdecak kagum kala tahu kita punya beribu pulau, beribu bahasa, beribu suku budaya.
Juga bandingkanlah, betapa mereka punyanya cuma Bahasa Inggris tok,
punyanya cuma tarian modern yang seronok ,
punyanya cuma makanan-makanan junk-food yang bikin mereka punya tingkat obesitas terbesar di dunia. (loooh????).
Tapi jangan lupa…
Juga ceritakanlah betapa mereka begitu appreciate terhadapa Indonesia kita, a great country, a big country, a rich country.

Ada yang memar, kagum banggaku
Malu membelenggu
Ada yang mekar serupa benalu
Tak mau temanimu

Lekas,
Bangun dari tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu
Masih ada cara menjadi besar

Memudakan tuamu
Menjelma dan menjadi Indonesia

(ERK)

cerita panjang (try try try… nice nice nice)

kadang kita harus berjalan begitu jauh hanya untuk mengetahui seberapa jauh kita bisa berjalan. hal itulah yang saya ingat dan jadi motivasi saya saat melakukan hal ini. Inilah cerita 3 anak manusia yang tersesat di rawa berlumpur, tempat kerbau-kerbau sering berkubang…. yaiyayayaya

jeng jereng jeng…

Dengan keinginan mulia, mengabadikan pemandangan kampus da
lam gambar, saya dan 2 teman saya sengaja jalan-jalan keliling kampus, minggu pagi. dengan semangat 45 kami memotrt setiap langkah saat menelesuri kampus Universitas Bengkulu. Sejak melangkahkan kaki dari kost-an Mila, bener-bener gak ada firasat apa-apa sama sekali. Pantai Kualo juga menjadi tujuan utama kami, rencananya Pantai nan indah tersebut menjadi puncak perjalanan kami pagi itu.

hihi…

Perjalanan pertama, kami harus balik lagi, karena?? u know why? karena memory card kamera ketinggalan di laptop. Padahal udah nyampe seperdelapan jalan (halah baru juga seperdelapan, belum seperempatnya… hihi). Kebiasaan yang memang sulit dirubah… heee… ketinggalan memory card (kebiasaan yang unik bukan?? Lingga!!)

Teruuuusss? singkat cerita perjalanan pun dimulai. Jepret sana, jepret sini

Sampailah ke jalan di luar wilayah kampus, menuju pantai kualo. Jiwa petualang tiga gadis belia (belia???? udah tua iiiih… :D) ini memang tidak diragukan lagi. Melihat jalanan setapak yang sepertinya menarik untuk dilalui, saya berinisiatif mengajak mbak Ayi and Mila untuk melewati jalanan itu. Padahal sebenernya lumayan aneh loh saudara-saudara, soalnya tuh jalan sepi sangaaad, padahal hari minggu kan seharusnya banyak orang yang JJP ke pantai. Tapi kami tidak peduli… Kami yakinkan diri untuk merintis sebuah jalan baru dari UNIB depan menuju Pantai Kuali Kualo

Tidak ada yang aneh, sampai jalan itu mentok, habis, tidak bisa dilalui dengan normal. Tapi terlanjur berjalan jauh dan merasa tanggung, kami pun nekat menyusuri pinggiran got seperti ini…

then sambil nyanyi-nyanyi:

pagiku cerahku matahari bersinar… ku gendong tas merahku di pundak, selamat pagi semua… nananananana
tereng terennnnggg…

ternyata si got mentok juga… hikz hikzzzzz…. putus oleh ilalang yang panjaaang…. kami pun dirundung bingung. Mau puter jalan nanggung banget, mana jauh lagi. Mau lanjut belum ngerti bener medan yang mau dilalui.

Tapi berbekal keberanian untuk mengambil resiko… and tereak-tereak… we’ve been this far hiyeeeyeeeah … (dalam ati)… kami pun melanjutkan perjalanan… yang ternyata masih jauh. Perjalanan ini bukan di jalan setapak nan berliku, tapi di rawa nan berlumpur…. bauk em em em…. hikz hikzzzz…. sebelumnya kami gak membayangkan bahwa medannya begitu berat dan bauuuk… :P, sampai tercetus:

“Weeeh, asyik juga nih tempat buat outbond.” berbekal dua papan, kami bermaksud menelusuri lumpur dengan papan satu dan dua berganti-ganti. Tapi ternyata lumpurnya semakin dalam bahkan banyakan airnya disertai rerumputan yang cukup panjang, mulai tercium bau yang tak sedap…. rasa pengen teriak saat berhasil mengidentifikasi bau apa itu… (nggak usah dilanjutin… trauma saya 😥 )

gini nih rawanya as latar of someone’s feet, see kan??

tapi tahukah anda, ada kepuasan tersendiri saat melihat nyiur kelapa di tepi pantai Kualo… indaaaaaaaaaaaaah sekali. Rasanya seperti menemukan apa yang kita rindu-rindukan…(padahal udah sering banget ke tuh pantai). Yup… perjuangan itu sungguh luar biasa saudara-saudara. Rasanya lebih incredible daripada kalo lewat jalan biasa…. huwaaa…. waktu akhirnya berhasil mencapai pantai…. waktu akhirnya bisa nyeburin kaki (plus kaoskaki) ke air pantai yang asin… rasanya… seperti ini…

Subhanallah… rasanya subhanallah bangeeeett…

benar ternyata… berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian… bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

Tapi belum senang-senang banget sih… masih harus mendaki sedikit lagi

eheuk… cari-cari sarapan… padahal pagi-pagi mah yang jualan belum banyak… susah payah… kaki dah mau patah rasanya… ke sana ke mari… baru pada mau buka warung semuanya… hingga alhamdulillah dapet nasi goreng… hwaaaa…. enak bangeet makan nasi goreng di depan pantai… like this…


walau sangat disayangkan, gelas tempat aernya gak matching banget… eh plis deh… padahal nasgornya lumayang despedes… aernya cuma seiprit… kalo mau nambah mesti beli lagi …

hemmmm….
intinyaaaaaaaaaaaaaaa……….

mencoba hal-hal yang baru, mencoba jalanan baru, mencoba sensasi baru, mencoba….
bukan merupakan sebuah kegagalan ketika hal yang kita coba ternyata tidak lebih nyaman dari hal biasa yang sering kita lalui… tapi ia adalah pelajaran, ya… bukankah belajar adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu? in this case… tahu kalo jalan setapak di sebelah masjid depan gerbang UNIB depan itu bukan jalan yang tepat untuk ke Pantai Kualo. Heyyy… yang pasti saya udah ngerasain yang namanya kesuksesan memandang nyiur tepi pantai nan indah setelah berpeluh lelah menempuh perjalanan panjang. Rasanya lebih indah da
ripada mencapai pantai dengan santai di jalan aspal….

ini postingan terpanjangkahhh??

Memeluk Mimpi

“ Mimpiku ini untuk ku peluk Wan, bukan ku kejar” Dahiku mengernyit mencoba cerna kalimat Bang Redho, pedagang kaki lima langgananku, tempat favoritku untuk membeli majalah kesayangan. Tidak sempat aku menghapus kernyitku ketika…


    “ Kaoskakinya ada Bang?”seorang wanita berjilbab biru laut mengalihkan perhatian Bang Redho dariku. Sumringah ia mengeluarkan setumpuk kaoskaki dari kardus coklat di sebelahnya

    “dua puluh ribu dapet tiga ya?” Si wanita menawar sebelum menayakan harga. Bang Redho tersenyum saja, mengangguk.

    “Yang bener aja Bang, itu kan kalo di toko harganya tiga belas ribu, jauh banget sih bedanya?” Protesku saat si wanita telah melangkah jauh. Bang Redho merapikan majalah-majalah dan buku-buku di rak dagangannya. Ia hanya tertawa.

    “Apa kamu nggak bisa dengar tawaku ini Wan?” Belum sempat aku membalas lagi dengan ocehanku, Bang Redho gegas beringsut dari duduknya.

    “Ke masjid yuk Wan,… Ashar”

    “Masih tiga puluh menit lagi kok bang” ku lirik jam tangan hitamku yang baru menunjukkan pukul lima belas kurang.

    “ Dosenku dulu selalu datang tiga puluh menit lebih awal loh Wan, biar lebih siap menghadapi mahasiswa katanya.”

    Bang redho meraih kopiah putih di atas rak kaca berisi AlQur’an dagangannya. Ditinggalkannya saja dagangan itu ke Masjid dengan senyum tak lepas dari wajah teduhnya.

    Memeluk Mimpi

    “ Mimpiku ini untuk ku peluk Wan, bukan ku kejar” Dahiku mengernyit mencoba cerna kalimat Bang Redho, pedagang kaki lima langgananku, tempat favoritku untuk membeli majalah kesayangan. Tidak sempat aku menghapus kernyitku ketika…

    “ Kaoskakinya ada Bang?”seorang wanita berjilbab biru laut mengalihkan perhatian Bang Redho dariku. Sumringah ia mengeluarkan setumpuk kaoskaki dari kardus coklat di sebelahnya

    “dua puluh ribu dapet tiga ya?” Si wanita menawar sebelum menayakan harga. Bang Redho tersenyum saja, mengangguk.

    “Yang bener aja Bang, itu kan kalo di toko harganya tiga belas ribu, jauh banget sih bedanya?” Protesku saat si wanita telah melangkah jauh. Bang Redho merapikan majalah-majalah dan buku-buku di rak dagangannya. Ia hanya tertawa.

    “Apa kamu nggak bisa dengar tawaku ini Wan?” Belum sempat aku membalas lagi dengan ocehanku, Bang Redho gegas beringsut dari duduknya.

    “Ke masjid yuk Wan,… Ashar”

    “Masih tiga puluh menit lagi kok bang” ku lirik jam tangan hitamku yang baru menunjukkan pukul lima belas kurang.

    “ Dosenku dulu selalu datang tiga puluh menit lebih awal loh Wan, biar lebih siap menghadapi mahasiswa katanya.”

    Bang redho meraih kopiah putih di atas rak kaca berisi AlQur’an dagangannya. Ditinggalkannya saja dagangan itu ke Masjid dengan senyum tak lepas dari wajah teduhnya.


    —- mengikuti trend…. BTW, foto ada hubungannya dikit, kalo dirasa maksa gak usah dibahas aja yak, secwaraaaaa lagi jenuuuuuuuuuuuuuuuh…. jadi aneh-aneh gini deh…

    maaf ku jenuh padamu… :(

    Ternyata hati, tak bisa berdusta
    Meski ku coba, tetap tak bisa
    Dulu cintaku, banyak padamu
    Entah mengapa, kini berkurang

    Maaf, ku jenuh padamu
    Lama sudah kupendam
    Tertahan dibibirku
    Mauku tak menyakiti
    Meski begitu indah
    Ku masih tetap saja…. jenuh …
    .

    (Rio F)

    Merasa ada yang hilang? kehilangan jati diri… kehilangan orientasi…. how come??? nggak tahu… Rasanya di MP ini saya jadi suka bingung mau nulis apa, jadi bingung mau nulisnya gimana, jadi bingung gaya nulis saya itu sebenernya seperti apa? jadi malu kalo mau nulis asal2an tapi bingung kalo mau nulis yang seriusan.

    Merasa ada yang hilang?? Sebegitu banyak contact, tapi lebih dari sebagian tak saya kenal (kenal di dunia maya maksudnya)… pun dengan yang sudah kenal, eh malah bisa nggak inget id dan headshotnya. Jadi merasa terasing… semua saling kenal… dan nggak ada yang kenal saya (halaahhhh…. ngawur!)

    Merasa ada yang hilang? Rasanya ingin mulai dari nol saja, buat account baru gitu.. Menjalin hubungan-hubungan baru…. walau mungkin dengan teman lama…. Tapi kaaaan sayaaaaang… udah mau 3 tahun saya membangun rumah “menatapmatahari” ini…. Walau tetep aja isinya gak ada improve-improvenya…. Whatever!!

    Saya jenuh memang
    saya jenuh….

    *agak berlebihan… maaf…Ah, kadang saya pikir kita memang sering berlebihan dalam menuliskan sesuatu di MP kita…. *_* maaf….

    —menjelang 3 tahun: 29 April 2007-29 April 2010
    —siap nampung kado… bujukin lingga biar gak jenuh