Memeluk Mimpi

“ Mimpiku ini untuk ku peluk Wan, bukan ku kejar” Dahiku mengernyit mencoba cerna kalimat Bang Redho, pedagang kaki lima langgananku, tempat favoritku untuk membeli majalah kesayangan. Tidak sempat aku menghapus kernyitku ketika…


    “ Kaoskakinya ada Bang?”seorang wanita berjilbab biru laut mengalihkan perhatian Bang Redho dariku. Sumringah ia mengeluarkan setumpuk kaoskaki dari kardus coklat di sebelahnya

    “dua puluh ribu dapet tiga ya?” Si wanita menawar sebelum menayakan harga. Bang Redho tersenyum saja, mengangguk.

    “Yang bener aja Bang, itu kan kalo di toko harganya tiga belas ribu, jauh banget sih bedanya?” Protesku saat si wanita telah melangkah jauh. Bang Redho merapikan majalah-majalah dan buku-buku di rak dagangannya. Ia hanya tertawa.

    “Apa kamu nggak bisa dengar tawaku ini Wan?” Belum sempat aku membalas lagi dengan ocehanku, Bang Redho gegas beringsut dari duduknya.

    “Ke masjid yuk Wan,… Ashar”

    “Masih tiga puluh menit lagi kok bang” ku lirik jam tangan hitamku yang baru menunjukkan pukul lima belas kurang.

    “ Dosenku dulu selalu datang tiga puluh menit lebih awal loh Wan, biar lebih siap menghadapi mahasiswa katanya.”

    Bang redho meraih kopiah putih di atas rak kaca berisi AlQur’an dagangannya. Ditinggalkannya saja dagangan itu ke Masjid dengan senyum tak lepas dari wajah teduhnya.

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s