cerita panjang (try try try… nice nice nice)

kadang kita harus berjalan begitu jauh hanya untuk mengetahui seberapa jauh kita bisa berjalan. hal itulah yang saya ingat dan jadi motivasi saya saat melakukan hal ini. Inilah cerita 3 anak manusia yang tersesat di rawa berlumpur, tempat kerbau-kerbau sering berkubang…. yaiyayayaya

jeng jereng jeng…

Dengan keinginan mulia, mengabadikan pemandangan kampus da
lam gambar, saya dan 2 teman saya sengaja jalan-jalan keliling kampus, minggu pagi. dengan semangat 45 kami memotrt setiap langkah saat menelesuri kampus Universitas Bengkulu. Sejak melangkahkan kaki dari kost-an Mila, bener-bener gak ada firasat apa-apa sama sekali. Pantai Kualo juga menjadi tujuan utama kami, rencananya Pantai nan indah tersebut menjadi puncak perjalanan kami pagi itu.

hihi…

Perjalanan pertama, kami harus balik lagi, karena?? u know why? karena memory card kamera ketinggalan di laptop. Padahal udah nyampe seperdelapan jalan (halah baru juga seperdelapan, belum seperempatnya… hihi). Kebiasaan yang memang sulit dirubah… heee… ketinggalan memory card (kebiasaan yang unik bukan?? Lingga!!)

Teruuuusss? singkat cerita perjalanan pun dimulai. Jepret sana, jepret sini

Sampailah ke jalan di luar wilayah kampus, menuju pantai kualo. Jiwa petualang tiga gadis belia (belia???? udah tua iiiih… :D) ini memang tidak diragukan lagi. Melihat jalanan setapak yang sepertinya menarik untuk dilalui, saya berinisiatif mengajak mbak Ayi and Mila untuk melewati jalanan itu. Padahal sebenernya lumayan aneh loh saudara-saudara, soalnya tuh jalan sepi sangaaad, padahal hari minggu kan seharusnya banyak orang yang JJP ke pantai. Tapi kami tidak peduli… Kami yakinkan diri untuk merintis sebuah jalan baru dari UNIB depan menuju Pantai Kuali Kualo

Tidak ada yang aneh, sampai jalan itu mentok, habis, tidak bisa dilalui dengan normal. Tapi terlanjur berjalan jauh dan merasa tanggung, kami pun nekat menyusuri pinggiran got seperti ini…

then sambil nyanyi-nyanyi:

pagiku cerahku matahari bersinar… ku gendong tas merahku di pundak, selamat pagi semua… nananananana
tereng terennnnggg…

ternyata si got mentok juga… hikz hikzzzzz…. putus oleh ilalang yang panjaaang…. kami pun dirundung bingung. Mau puter jalan nanggung banget, mana jauh lagi. Mau lanjut belum ngerti bener medan yang mau dilalui.

Tapi berbekal keberanian untuk mengambil resiko… and tereak-tereak… we’ve been this far hiyeeeyeeeah … (dalam ati)… kami pun melanjutkan perjalanan… yang ternyata masih jauh. Perjalanan ini bukan di jalan setapak nan berliku, tapi di rawa nan berlumpur…. bauk em em em…. hikz hikzzzz…. sebelumnya kami gak membayangkan bahwa medannya begitu berat dan bauuuk… :P, sampai tercetus:

“Weeeh, asyik juga nih tempat buat outbond.” berbekal dua papan, kami bermaksud menelusuri lumpur dengan papan satu dan dua berganti-ganti. Tapi ternyata lumpurnya semakin dalam bahkan banyakan airnya disertai rerumputan yang cukup panjang, mulai tercium bau yang tak sedap…. rasa pengen teriak saat berhasil mengidentifikasi bau apa itu… (nggak usah dilanjutin… trauma saya πŸ˜₯ )

gini nih rawanya as latar of someone’s feet, see kan??

tapi tahukah anda, ada kepuasan tersendiri saat melihat nyiur kelapa di tepi pantai Kualo… indaaaaaaaaaaaaah sekali. Rasanya seperti menemukan apa yang kita rindu-rindukan…(padahal udah sering banget ke tuh pantai). Yup… perjuangan itu sungguh luar biasa saudara-saudara. Rasanya lebih incredible daripada kalo lewat jalan biasa…. huwaaa…. waktu akhirnya berhasil mencapai pantai…. waktu akhirnya bisa nyeburin kaki (plus kaoskaki) ke air pantai yang asin… rasanya… seperti ini…

Subhanallah… rasanya subhanallah bangeeeett…

benar ternyata… berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian… bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

Tapi belum senang-senang banget sih… masih harus mendaki sedikit lagi

eheuk… cari-cari sarapan… padahal pagi-pagi mah yang jualan belum banyak… susah payah… kaki dah mau patah rasanya… ke sana ke mari… baru pada mau buka warung semuanya… hingga alhamdulillah dapet nasi goreng… hwaaaa…. enak bangeet makan nasi goreng di depan pantai… like this…


walau sangat disayangkan, gelas tempat aernya gak matching banget… eh plis deh… padahal nasgornya lumayang despedes… aernya cuma seiprit… kalo mau nambah mesti beli lagi …

hemmmm….
intinyaaaaaaaaaaaaaaa……….

mencoba hal-hal yang baru, mencoba jalanan baru, mencoba sensasi baru, mencoba….
bukan merupakan sebuah kegagalan ketika hal yang kita coba ternyata tidak lebih nyaman dari hal biasa yang sering kita lalui… tapi ia adalah pelajaran, ya… bukankah belajar adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu? in this case… tahu kalo jalan setapak di sebelah masjid depan gerbang UNIB depan itu bukan jalan yang tepat untuk ke Pantai Kualo. Heyyy… yang pasti saya udah ngerasain yang namanya kesuksesan memandang nyiur tepi pantai nan indah setelah berpeluh lelah menempuh perjalanan panjang. Rasanya lebih indah da
ripada mencapai pantai dengan santai di jalan aspal….

ini postingan terpanjangkahhh??

Advertisements

31 thoughts on “cerita panjang (try try try… nice nice nice)

  1. moestoain says:

    tidak panjang2 amat mbaktapi kisah ini mengingatkan mus pada satuan mus dulu waktu menjadi SATRIAPALAwuih.. membabat jalan menuju suatu tempat yg tak pernah kita ketahui..melalui jalan2 yang aneh..dan pulangnya kita mencari jalan kembali.. dengan kompas matahari. hmmjadi pengen nyantri lagiSABUDI (sastra budaya indonesia)mari kita jaga bersama!

  2. menatapmatahari says:

    huwaaa… keknya itu lebih keren…kalo kemaren mah nggak ada persiapan mus… lihat aja sendal yang dipake..pulang-pulang solnya lepas semua… gara-gara mendelep-delep di lumpur… and si empunya sendal panik, gak pake strategi pas narik sendalnya… πŸ˜₯

  3. moestoain says:

    pernahkah.. tersesat di areal persawahan yg membentang jauh tiada ujung?dan ketika sampai ujung kita sudah berada di kabupaten lain.. huwaaa seruSABUDI (sastra budaya indonesia)mari kita jaga bersama!

  4. night16 says:

    moestoain said: pernahkah.. tersesat di areal persawahan yg membentang jauh tiada ujung?dan ketika sampai ujung kita sudah berada di kabupaten lain.. huwaaa seruSABUDI (sastra budaya indonesia)mari kita jaga bersama!

    ikut bales ah, pernahhhh…daerah saya masih sawah, dan ujungnya udah kabupaten super kabupaten, hhetapi bukan tersesat cuma mau nyari tempat yang jual alat pancing

  5. moestoain says:

    night16 said: ikut bales ah, pernahhhh…daerah saya masih sawah, dan ujungnya udah kabupaten super kabupaten, hhetapi bukan tersesat cuma mau nyari tempat yang jual alat pancing

    hmm kalau saya ini benar2 tidak tau jalan..untungnya rame2.. setelah mengikuti rel kereta api.mengingat dan mengenang bagaimana romusha dulu..setelah itu yang kami jumpai hanya sawah yang luas.. wiuh..SABUDI (sastra budaya indonesia)mari kita jaga bersama!

  6. irysusanty says:

    wah menyenangkan….hehe mbak dulu pas kul aku juga suka jalan……. pas udah puanya suami hehe si abi gak suka jalan ……huhuhuhu perlu komunikasi intensif perjuangan hehehe

  7. akinaspeedstar says:

    menatapmatahari said: Rasanya lebih indah daripada mencapai pantai dengan santai di jalan aspal….

    betul bu…senangnya bisa makan nasgor di pantai…lebih senang lagi kalo bisa gelar tiker dan bekal…:Dmantaps…

  8. menatapmatahari says:

    akinaspeedstar said: lebih senang lagi kalo bisa gelar tiker dan bekal…:Dmantaps…

    hyaaaah… enak emang… tapi klo bawa gituan mah jalannya jadi repot dong… belum lagi menerobos kubangan lumpur… tidak mungkin….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s