Sebentar Lagi Lebaran

Tadi main komen-komenan status di “lingkaran”… Iya iya, jadi ada 6 lembar status yang terusnya dikomenin ganti-gantian, tema statusnya tentang puasa dan lebaran. Di akhir sesi, setiap orang menuliskan kata-kata taujih berdasarkan status dan komen-komen tadi. Dan ini adalah favorit lingga, dari seorang mbak yang lagi hamil 😛

Sebentar Lagi Lebaran

Lebaran…
Mungkin bagi sebagian orang adalah hari yang menyenangkan
Tapi ukhti… apakah hari itu kita benar telah menjadi insan yang kembali fitri, suci dan muttaqin?

Lebaran.
Semua serba indah
Semua serba ada
Tapi benarkah?
Sebagian dari saudara kita tetap berpuasa ukhti
Karena tidak ada waktu bagi mereka untuk berlebaran seperti kita
Mereka terkurung di cam-camp pengungsian
Terjebak dalam bunker-bunker bawah tanah
Karena di negerinya perang masih meraja lela

Di belahan bumi yang lain
Saudara kita masih
kelaparan
kekeringan

Mari kita bersihkan hati ketika idul fitri itu datang
Bukan sekedar bersenang-senang
Tapi juga bersiap-siap untuk masa sulit yang lebih panjang
Sebelas bulan yang penuh godaan

“Berbuka dengan Apa Puasa Tiga Harimu Itu Pak?”

“ Nggak mau ah ngasih bapak itu duit, dulu gue suka ngasih dia, terus gue pernah mergokin dia ngerokok”

“Oooh.” Bapak pengemis berwajah memelas, tubuhnya sangat kurus. Padahal aku telah menyiapkan selembar limaribuan, urung ku letakkan di mangkuk pengemis itu, terbayang batang rokok yang ia hisap.

****

” Tuuuh kaan Ty, gak puasa” Aku dan Mia memergoki si bapak pengemis sedang melahap sebungkus nasi putih di sudut gang, sembunyi di balik gerobak sampah seorang pemulung. Suara Mia ternyata terlalu keras untuk tidak didengar oleh si bapak, ia menatap kami tajam.

Bergegas si bapak bangkit dari duduknya. Aku dan Mia terkesiap. Ia menyeringai, Mia menggenggam tanganku. Ia menutup jalan gang kecil itu dengan badan ringkihnya. Mia menarik tanganku berbalik ke belakang. Bapak pengemis itu ternyata pincang, terseok-seok ia mengejar langkah gegas kami.

“Tunggu nak” suaranya lembut mengangetkan aku dan Mia. Suara itu seperti suara seorang Ayah. Aku menahan tarikan tangan Mia yang nyaris setengah berlari.

****

Ia mengajak kami ke gubuknya yang sangat kecil. Seorang ibu paruh baya sedang menggendong anak berkepala besar, hydrocephalus.

“kami sudah berpuasa 3 hari. tadi saya sudah tidak tahan lagi” ujarnya. Aku dan Mia tak mampu berkata-kata. Aahh… berbuka dengan apa puasa tiga harimu itu Pak?

Ditulis dalam rangka memeriahkan lomba cerpen 200 kata “Aku, Kamu, dan Ramadhan di http://cerpentigatujuh.blogspot.com/