Pak Pos… Tungguuuuu

Hemm… akhir-akhir ini saya lumayan sering berurusan dengan kantor pos, ngirimin ini itu. Gak kayak dulu yang rasanya males banget ke kantor pos, sekarang saya jadi cinta banget sama pak pos, eh kantor pos.

Kemarin, saya lagi-lagi harus ke kantor pos. Padahal kegiatan di sekolah lumayan bikin otak ggak bisa ngerjain yang lain. Semua agenda sabtu bareng anak-anak didelay sampe pulang sekolah. Saya harus berkonsentrasi pada benda yang harus saya pos kemaren. Di meja piket (sabtu, saya piket) saya berjibaku dengan waktu (halah). Mengetik dan berimajinasi mengarang indah lalalala. Akhirnya aplikasi em em em yang deadlinenya senen itu selesai juga. Minta tolong ust. cihuyhuy buat ngeprint ketikan… then siap meluncur ke kantor pos.

Sebelum dipos, tentunya saya harus masukin dulu tuh barang ke amplop, beserta beberapa fotocopy and dokumen yang dipersyaratkan. Beress… yeach,… i thought so. Sedikit lega saya pacu kuda roda dua ke kantor pos, menyongsong ibu-ibu pos penjaga loket pos express.

Beres… beress… beress. Setelah membayar tujuh belas ribu perak, saya kira semuanya beres. Tapi herannya saya gak merasakan apa yang biasanya saya rasakan setelah selesai melakukan sesuatu di ujung waktu. Ya… saya gak ngerasa lega, gak ngerasa bahagia. Hemm… kayak ada yang ketinggalan gitu.

Saya tepis perasaan itu, kembali ke sekolah. Saya harus kembali ke sekolah secepatnya… cyaaaaaaattt… brrrrmmmm brrrmmm brrmmmm.

Bener aja, di sekolah anak-anak udah pada nagih mau latihan. latihan inilah, latihan itulah… uhuhuhu…

Tiba-tiba eorang teman meminta saya menandatangani sesuatu. Sayapun dengan senang hati membubuhkan tanda tangan saya yang…

“keren kan tanda tangan lingga? keren kaan? keereen?? ….. astaghfirullah…” Saya tiba-tiba ingat.

“kenapa ling?”

“huwaaa… surat tadi belum ditandatangani, udah dipos. Gimana dong???”

Jantung saya berdetak kencang waktu itu. Gimana bisa seorang yang hobi tanda tangan lupa buat menanda-tangani surat pernyataan. aaaaaaaakkhh….

Arisan Kata [Merapi 2010]

Ikutan arisan kata aah…

agak maksa kayaknya, tapi yaaah, namanya juga usaha, pas mulai nulis sih lagi melow2nya, tapi pas ngedit2nya sekarang mah lagi melon2nya… huhu

Merapi 2010

handuk ini tlah lusuh nian

saat ia mengerupsi

kencang desingkan imaji kiamat

menebar lara yang lah dieramnya lama


handuk ini tlah lusuh, saat kau datang

semakin lusuh

semakin lusuh, bersihkanmu abu

memerah ia usapimu berdarah

kuyup ia hapusmu air mata


handuk ini tlah lusuh,

handuk ini telah lusuh, kelalaianku, kelalaian kita…


maafkan Tuhan

sujudkan harapan ini, terluka…

harapan ini harapan cinta

melancholia

Tersungkur di sisa malam
Kosong dan rendah gairah

Puisi yang romantik
Menetes dari bibir

Murung itu sungguh indah
Melambatkan butir darah

Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi
Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah hati

[ERK]

Sebenarnya udah happy dari pagi ampe sore, paginya ke dua kelas pertama saya cuma kasih tugas, bukan apa-apa emang ada yang mesti dikerjain. Lagipula saya lihat anak-anak emang butuh latihan lagi sebelum remedial buat yang nilainya di bawah harapan. Then kelas terakhir jam setengah 2 sampe setengah 4 cuma saya suruh nonton film the City of Ember then bikin kesan-kesan yang mereka dapat dari tuh film. Semuanya happy dan gak ada yang bandel, anak-anakku.

Sampe tadi, jam tujuh….jam tujuh tiga puluh yang menyebalkan…. mengantarkanku pada malam berteman rintik hujan biru ini. Lihat aja nanti, bisakah birunya menghantar puisi dari hati ke layar putih.

Fadel dan Bryan

Fadel dan Bryan, duduk di belakang. Keduanya memiliki perawakan yang berbeda tapi ada satu kesamaan, karakter, terpancar dari wajah tulusnya, lovable banget.

Tadi hujan deras, seperti biasa, dan selalu begitu. Saya menikmati langkah-langkah gesa mengejar waktu dari satu kelas ke kelas selanjutnya. Setelah masuk di kelas 7C, kelas Thulab (cowok) terbaik dan tercinta. Karena hujan dan kaos kaki sudah kuyup (di sekolah, kami tidak pakai sepatu) saya pun cepat-cepat ingin ke kantor saja, sekalian mau menyelesaikan media yang belum selesai tadi. Fadel mengejar saya

“ustadzah ustadzah!! Ustadzah mau nggak?” Saya mungkin memperlihatkan ekspresi tidak sabaran seperti biasa. Bukan apa-apa, saya cuma punya waktu 15 menit untuk turun dari lantai 3 ke kantor buat melahap snack karena hujan bikin laper selalu, dan naik lagi ke lantai 3 untuk ngajar di kelas 7B, persis sebelah 7C. Jadi ya sejujurnya saya memang sedikit nggan menghentikan langkah dan menoleh ke anak paling pinter di 7C, sang juara kelas itu.

“Apaan?? Ayo cepet cepet, ustadzah mau cepet niih!!” Begitulah saya, mudah banget terbawa emosi, tampak wajah Fadel agak berubah, haduuuh saya jadi sangat menyesal waktu itu.

“ya ustdzah… mau nggak? Kalo nggak mau ya udah, nggak jadi untuk ustadzah”. Ia menyembunyikan sesuatu yang sempat ia keluarkan, sesuatu yang kecil imut-imut. Saya mulai tertarik. Tak tega pula lihat wajah kecewa itu.

“Apa itu Fadel, mana?” Memasang wajah seantusias mungkin.

“ Ustadzah mau?”… sure I want it much

“iya…”

Ia mengulurkan gantungan kunci berwarna coklat bertuliskan west Java, oleh-oleh entah dari mana, Bryan teman sebangkunya melakukan hal yang sama, bedanya gantungan kuncinya warna putih. Aaahhh gak akan lupa gimana wajah lovable itu… tersenyum sangat senang sekali. Saya jadi geli sendiri.

Gantungan kunci yang biasa aja emang, tapi wajah-wajah tulus itu, walau belum luar biasa, tapi sungguh tak biasa. Fadel and Bryan…

*fotonya diambil dari sini

S-E-L-L-A

Pertama kali melihatmu, ada gusar di dada. Suaramu yang cukup besar, tertawamu yang lebar, keceriaan remaja yang terkadang lebay lekat di dirimu. Ku pikir kau akan menjadi tantangan tersendiri di kelas itu, tapi ternyata…

Sudah berapa hari kamu tak masuk nak? ya, kamu lebih banyak tidak masuk sekolah daripada di kelas bersama teman-temanmu belajar. Terakhir gigilmu mengatup mulutmu gemeretak menahan dingin sekujur tubuhmu, kau tetap gigih ingin di kelas mengikuti pelajajaran.

“Mau belajar Bahasa Inggris, udah lama Sella ketinggalan” Di sela gigilmu, suara bergetaran.

“Sella udah pinter kok, gak usah belajar juga masih bisa ngikutin nak, udah Sella istirahat aja di UKS”

Kepalamu tergolek di meja, menggeleng. Mata kosong itu setia di muka pucatmu.

Aku tidak bisa apa-apa, melanjutkan pelajaran. Pelajaran ini mudah bagimu, percayalah. Tapi kau tak percaya, hingga pelajaran usai, kau tetap duduk di sana.

Bel memaksaku mengusaikan pelajaran kita, apakah kau menyimaknya?

*****

Dari lantai tiga, mataku awas memandangi kelasmu di lantai dua gedung seberang. Teman-temanmu bergerombolan. Sella, sepertinya kau harus dibopong pulang.

padahal udah dipost tadi malam, tapi gak tahu kenapa, malah gak bisa dibuka, not found katanya, padahal masih nongol aja di inbox

S-E-L-L-A

Pertama kali melihatmu, ada gusar di dada. Suaramu yang cukup besar, tertawamu yang lebar, keceriaan remaja yang terkadang lebay lekat di dirimu. Ku pikir kau akan menjadi tantangan tersendiri di kelas itu, tapi ternyata…

Sudah berapa hari kamu tak masuk nak? ya, kamu lebih banyak tidak masuk sekolah daripada di kelas bersama teman-temanmu belajar. Terakhir gigilmu mengatup mulutmu gemeretak menahan dingin sekujur tubuhmu, kau tetap gigih ingin di kelas mengikuti pelajajaran.

“Mau belajar Bahasa Inggris, udah lama Sella ketinggalan” Di sela gigilmu, suara bergetaran.

“Sella udah pinter kok, gak usah belajar juga masih bisa ngikutin nak, udah Sella istirahat aja di UKS”

Kepalamu tergolek di meja, menggeleng. Mata kosong itu setia di muka pucatmu.

Aku tidak bisa apa-apa, melanjutkan pelajaran. Pelajaran ini mudah bagimu, percayalah. Tapi kau tak percaya, hingga pelajaran usai, kau tetap duduk di sana.

Bel memaksaku mengusaikan pelajaran kita, apakah kau menyimaknya?

*****

Dari lantai tiga, mataku awas memandangi kelasmu di lantai dua gedung seberang. Teman-temanmu bergerombolan. Sella, sepertinya kau harus dibopong pulang.