Apa Yang Harus Saya Lakukan….??

1. Apa yang harus saya lakukan untuk menegakkan disiplin di kelas

2. Apa yang harus saya lakukan untuk membuat anak-anak mandiri, nggak manja lagi

3. Apa yang harus saya lakukan untuk menjaga minat anak terhadap pelajaran

4. Apa yang harus saya lakukan supaya nggak dibilang cuek

5. Apa yang harus saya lakukan utnuk menjaga mood

6. Apa yang harus saya lakukan untuk mengontrol emosi dengan mudah

7. Apa yang harus saya lakukan untuk membuat anak-anak fokus

8. Apa yang harus saya lakukan untuk membungkam mulut anak-anak yang nggak bisa
diam

9. Apa yang harus saya lakukan untuk membuat mereka menikmati setiap kelas saya,
menanti-nantinya, dan selalu penasaran dengan kegiatan berikutnya

10. Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi guru idola… haha

Satu-satu atau…?? Semuanya saling berkelindan!

Monkey Song

There’s a monkey who lives somewhere far away, far away from here

Maybe we can call the place the Eden of the East

The Monkey climbs a tree and sees a rainbow in the sky

And sees the jungle from the top of that Dreaming Tree

He is looking for a banana tree, it’s so hard to find

He will never stop until the night has come

Swinging from the vines

Swing and sway, seize the day

You will find the way

Swing and sway, everyday?Lighten up your day

Finally he found the banana tree… Yes, he is so happy

But there’s only one that’s ripe, he can’t wait to eat it

The monkey climbs the tree and grabs the banana with his hand

But when he wants to eat, he sees little monkey on the ground

Little monkey can’t jump, he just stares at him

And cries, he is starving

The monkey thinks so hard and doesn’t bear to ignore him

And then he gives the banana to the little monkey

Oh he is so insane..

What a life… is to care and share

Endah n Rhesa

bagus deh bagus deh… beautiful song… love the lyrics…

Life is to care and share… lalala

Cerita Jilbab Buat Rachel

Mematut diri di kaca hampir 30 menit, tidak membuat Rachel yakin dengan penamplian barunya. Alih-alih memenetapkan hati bahwa ia telah tampil sempurna, Rachel malah jadi ragu, ragu dan ragu.

“Aduuuuh…” selembar kain di kepalanya ia lepas lagi.

“ Ya ampuuun… 30 menit aku nungguin Chel?” Roy, abang Rachel, si pengantar-jemput Tuan Putri.

“ Hiiih… ya udah deh, aku nggak jadi pake jilbabnya hari ini”

“Apaa??? udah 30 menit aku nungguin kamu, malah gak jadi pake jilbab?”Rachel mendorong Abangnya keluar dari kamarnya dan menutup pintu, mengganti bajunya dengan seragam lengan pendeknya yang lama. Batal memulai hari-hari barunya mengenakan busanan muslimah.


****

Esoknya, begitu lagi, begitu lagi. Roy sebenarnya tak peduli dengan keinginan adiknya memakai jilbab. Dia tidak peduli apakah adiknya mau memakai jilbab atau tidak, yang ia pedulikan adalah batas kesempatan untuk datang terlambat di kelasnya Pak Imran, dosen literaturenya yang strick itu. Ia sudah empat kali terlambat karena harus menunggu Rachel untuk mengantarnya ke sekolah, tugasnya setiap hari. Dan tinggal satu kali kesempatan lagi. Jika adiknya belum juga berhasil menguasai cara memakai jilbab yang benar, ia akan datang terlambat terus.

“ Kamu gak bisa pake jilbab kaos aja apa ke sekolah?” Malamnya, saat Rachel latihan pakai jilbab di depan cermin kamarnya. Cermin di lemari kamar Roy memang lebih besar dan lebih mantap untuk berkaca.

“ Ya gak bolehlah bang. Jilbab kaos kan kesannya gak rapi”

” Ikut kursus pake jilbab kek, apa kek? Aku terlambat terus loh gara-gara nungguin kamu pake jilbab”

“Hemmm… udah, tapi emang susah banget ini, gimana sih? Iiiiiih nih pentul kenapa tumpul gini!” Rachel frustasi. Roy sedikit geli bercampur kesal dengan polah anak bungsu nan manja itu. Ia menghampiri Rachel dan ikut-ikutan bantu adiknya belajar pake jilbab.

“sini sini…”

“wadaaaow…” rachel menjerit, pentul warna putih itu menusuk dagu Rachel. Roy meringis, dan bersiap mengambil langkah seribu. Rachel tidak berminat mengejar abangnya itu. Ia

“euuukkhhh…” ia hanya mengomel sedikit dan kembali asyik dengan jilbab dan pentul-pentulnya.


*********

“Nggak jadi botak-botak kamu Chel” Ifa, sohib terdekat Rachel. Tidak satu kelas, tapi setiap istirahat selalu bersama dengan Rachel. Kali ini juga begitu, mereka berdampingan beridiri di depan kelasnya.

“Apa karena niat aku yang belum bulat ya Fa” Rachel meniup-niup beberapa lembar rambut yang mnutupi pandangnya. Angin di balkon kelasnya yang terletak di lantai tiga itu memang lebih kencang dan seringkali merusak kerapian rambut siswi-siswi cantik di SMA itu.

“Kamu ngerasanya gitu?”

“Aku sih dah pengen banget, tapi sering nggak pede. Bayangin masa udah 5 hari ini aku gagal terus mulai pake jilbab cuma karena gak bisa makenya. Gak keren banget kan penyebabnya?”

Ifa tertawa sambil memperbaiki jilbab yang membungkus wajah tirusnya. Ia hanya memandang sahabatnya itu, masih ada yang ingin disampaikan gadis itu, pikirnya.

“Susah banget Fa makenya. Aku nggak betah” Ifa mengerutkan dahi, itu dia poinnya, Rachel.

“Makanya kamu harus berjuang anak muda! Ini perintah Allah. Ngerti??!!” Ifa sok keras. Rachel mencubit lengannya kesal.

“ Iya ya Fa. Ujian buat aku kali ya untuk membuktikan cintaku padaNYA? Gak seberapa dibandingkan ujian-ujian pendahulu kita” Tiba-tiba terngiang-ngiang oleh Rachel cerita kakak-kakak alumni yang suka ngisi pengajian saban minggu. Cerita tentang perjuangan mereka mempertahankan jilbab. Harus rela dimusuhi guru, berurusan dengan kepala sekolah. Sampai untuk foto ijazah saja mereka harus pontang-panting masuk tivi, belum lagi di luar sekolah, dan bagaimana perjuangan mengemis-ngemis izin dari orang tua, sampai cerita memilukan yang selalu menjatuhkan air mata penceritanya. Saat si kakak-kakak harus menggunting kain apa saja untuk dijadikan jilbab, meskipun itu adalah kain bekas spanduk.

“Baiklah, besok aku pastikan pake jilbab, bagaimanapun bentuk mukaku” Rachel bertekad. Ifa tersenyum senang. Bertopang dagu dan mengerlingkan matanya pada Rachel. Angin semakin semeriwing menerpa keduanya yang mendadak diam, sibuk dengan khayalan masing-masing.

*****

Roy tidak terlambat hari ini.

“Yaiiiiyy… Alhamdulillah akhirnya kamu botak juga Rachel” Ria, kakak kelas Rachel tiba-tiba muncul di hadapan Rachel, disusul Andien, Tika, Rena, Dyah, Bunga, Atika, Shinta, Dina, Afifah, Nadya, Widya, Lisa, Wina, Rina, Yana, Amy, banyak sekali jilbaber-jilbaber sekolah menyalaminya.

Tak hanya mereka, beberapa guru pun seperti tak mau  ketinggalan memberikan selamat pada Rachel. Rachel tersipu-sipu.

Pak Raden, Kepala sekolah pun tak mau ketinggalan ternyata. Ia juga ikut serta dalam gerombolan orang yang ingin menyelamati Rachel.

Semakin banyak yang heboh karena gadis kalem itu berjilbab, mereka begitu antusias melihat penampilan baru sang wakil Ketua OSIS itu. Rachel terdorong ke sudut jendela kantor Kepala Sekolah. Ya, ia belum sempat menuju ke lantai tiga kelasnya, dan semua orang yang mengenalnya sudah menghampiri dan mendatanginya. Rachel tak henti tersenyum sampai matanya memandang pantulan dirinya di kaca jendela kantor kepala sekolah itu. Ia termangu mencoba mencerna pantulan terbaru dari penampilannya hari itu.

Semua masih ingin menyalaminya. Tapi pantulan itu membuat ia seketika berteriak histeris.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Tak ada rambut yang perlu ditutupi jilbab.



Beberapa hari yang lalu saya dapet kesempatan buat baca cerpen-cerpen orang, kebanyakan mengenai jilbab. jadi pengen nulis cerpen tentang jilbab. haha… Aneh tapi yaa? Biasa… Lingga gitu loh!

Cerita Jilbab Buat Rachel

Mematut diri di kaca hampir 30 menit, tidak membuat Rachel yakin dengan penamplian barunya. Alih-alih memenetapkan hati bahwa ia telah tampil sempurna, Rachel malah jadi ragu, ragu dan ragu.

“Aduuuuh…” selembar kain di kepalanya ia lepas lagi.

“ Ya ampuuun… 30 menit aku nungguin Chel?” Roy, abang Rachel.

“ Hiiih… ya udah deh, aku nggak jadi pake jilbabnya hari ini”

“Apaa??? udah 30 menit aku nungguin kamu, malah gak jadi pake jilbab?”Rachel mendorong Abangnya keluar dari kamarnya dan menutup pintu, mengganti bajunya dengan seragam lengan pendeknya yang lama. Batal memulai hari-hari barunya mengenakan busanan muslimah.

****

Esoknya, begitu lagi, begitu lagi.

Roy sebenarnya tak peduli dengan keinginan adiknya memakai jilbab. Dia tidak peduli apakah adiknya mau memakai jilbab atau tidak, yang ia pedulikan adalah batas kesempatan untuk datang terlambat di kelasnya Pak Imran, dosen literaturenya yang strick itu. Ia sudah empat kali terlambat karena harus menunggu Rachel untuk mengantarnya ke sekolah, tugasnya setiap hari. Dan tinggal satu kali kesempatan lagi. Jika adiknya belum juga berhasil menguasai cara memakai jilbab yang benar, ia akan datang terlambat terus.

“ Kamu gak bisa pake jilbab kaos aja apa ke sekolah?” Malamnya, saat Rachel latihan pakai jilbab di depan cermin kamarnya. Cermin di lemari kamar Roy memang lebih besar dan lebih mantap untuk berkaca.

“ Ya gak bolehlah bang. Jilbab kaos kan kesannya gak rapi”

” Ikut kursus pake jilbab kek, apa kek? Aku terlambat terus loh gara-gara nungguin kamu pake jilbab”

“Hemmm… udah, tapi emang susah banget ini, gimana sih? Iiiiiih nih pentul kenapa tumpul gini!” Rachel frustasi. Roy sedikit geli bercampur kesal dengan polah anak bungsu nan manja itu. Ia menghampiri Rachel dan ikut-ikutan bantu adiknya belajar pake jilbab.

“sini sini…”

“wadaaaow…” rachel menjerit, pentul warna putih itu menusuk dagu Rachel. Roy meringis, dan bersiap mengambil langkah seribu. Rachel tidak berminat mengejar abangnya itu. Ia

“euuukkhhh…” ia hanya mengomel sedikit dan kembali asyik dengan jilbab dan pentul-pentulnya.

*********

“Nggak jadi botak-botak kamu Chel” Ifa, sohib terdekat Rachel. Tidak satu kelas, tapi setiap istirahat selalu bersama dengan Rachel. Kali ini juga begitu, mereka berdampingan beridiri di depan kelasnya.

“Apa karena niat aku yang belum bulat ya Fa” Rachel meniup-niup beberapa lembar rambut yang mnutupi pandangnya. Angin di balkon kelasnya yang terletak di lantai tiga itu memang lebih kencang dan seringkali merusak kerapian rambut siswi-siswi cantik di SMA itu.

“Kamu ngerasanya gitu?”

“Aku sih dah pengen banget, tapi sering nggak pede. Bayangin masa udah 5 hari ini aku gagal terus mulai pake jilbab cuma karena gak bisa makenya. Gak keren banget kan penyebabnya?”

Ifa tertawa sambil memperbaiki jilbab yang membungkus wajah tirusnya. Ia hanya memandang sahabatnya itu, masih ada yang ingin disampaikan gadis itu, pikirnya.

“Susah banget Fa makenya. Aku nggak betah” Ifa mengerutkan dahi, itu dia poinnya, Rachel.

“Makanya kamu harus berjuang anak muda! Ini perintah Allah. Ngerti??!!” Ifa sok keras. Rachel mencubit lengannya kesal.

“ Iya ya Fa. Ujian buat aku kali ya untuk membuktikan cintaku padaNYA? Gak seberapa dibandingkan ujian-ujian pendahulu kita” Tiba-tiba terngiang-ngiang oleh Rachel cerita kakak-kakak alumni yang suka ngisi pengajian saban minggu. Cerita tentang perjuangan mereka mempertahankan jilbab. Harus rela dimusuhi guru, berurusan dengan kepala sekolah. Sampai untuk foto ijazah saja mereka harus pontang-panting mengurus izin sampai harus demonstrasi segala. Belum lagi di luar sekolah, dan bagaimana perjuangan mengemis-ngemis izin dari orang tua. Sampai cerita memilukan yang selalu menjatuhkan air mata penceritanya. Saat si kakak-kakak harus menggunting kain apa saja untuk dijadikan jilbab, meskipun itu adalah kain bekas spanduk.

“Baiklah, besok aku pasti akan pake jilbab, bagaimanapun bentuk mukaku” Rachel bertekad. Ifa tersenyum senang. Bertopang dagu dan mengerlingkan matanya pada Rachel. Angin semakin semeriwing menerpa keduanya yang mendadak diam, sibuk dengan khayalan masing-masing.

*****

Roy tidak terlambat hari ini.

“Yaiiiiyy… Alhamdulillah akhirnya kamu botak juga Rachel” Ria, kakak kelas Rachel tiba-tiba muncul di hadapan Rachel, disusul Andien, Tika, Rena, Dyah, Bunga, Atika, Shinta, Dina, Afifah, Nadya, Widya, Lisa, Wina, Rina, Yana, Amy, banyak sekali jilbaber-jilbaber sekolah menyalaminya.

Tak hanya mereka, beberapa guru pun seperti tak mau ketinggalan memberikan selamat pada Rachel. Rachel tersipu-sipu.

Pak Raden, Kepala sekolah pun tak mau ketinggalan ternyata. Ia juga ikut serta dalam gerombolan orang yang ingin menyelamati Rachel.

Semakin banyak yang heboh karena gadis kalem itu berjilbab, mereka begitu antusias melihat penampilan baru sang wakil Ketua OSIS itu. Rachel terdorong ke sudut jendela kantor Kepala Sekolah. Ya, ia belum sempat menuju ke lantai tiga kelasnya, dan semua orang yang mengenalnya sudah menghampiri dan mendatanginya. Rachel tak henti tersenyum sampai matanya memandang pantulan dirinya di kaca jendela kantor kepala sekolah. Ia termangu mencoba mencerna pantulan terbaru dari penampilannya hari itu.

Semua masih ingin menyalaminya. Tapi pantulan itu membuat ia seketika berteriak histeris.

“Aaaaaagh” Bukan wajah berbungkus jilbab yang memantul dari kaca jendela kantor Kepala Sekolah. Hanya kepala Rachel, kepala yang tak lagi berhiaskan mahkota hitam kebanggaan semua perempuan.

Beberapa hari yang lalu saya dapet kesempatan buat baca cerpen-cerpen orang, kebanyakan mengenai jilbab. jadi pengen nulis cerpen tentang jilbab. haha… Aneh tapi yaa? Biasa… Lingga gitu loh!

Setelah Mencerabih di 7B

Ada sebuah cerita tentang guru yang baik sekali, namanya ustadzah Lingga. Dia mengajar di SMPIT. Dia tidak senang melihat kelas 7 B yang ribut. Ustadzah pun berpikir apa yang mau ustadzah berikan kepada kelas 7B..??? Apakah kelas 7B akan tidak ribut lagi? Ustadzah… saya harap bisa merubah sikap 7B yang ribut.

Saya harap ustadzah bisa merubah sikap kelas 7B

tunggu episode selanjutnya

TO BE CONTINUED 😀

yang aku suka dari ustadzah Lingga dalam mengajar

1. lemah lembut
2. suka senyum
3. orangnya sangat sabar
4. ngomongnya sopan santun

by. alfredho amri maulana

Sabar yaaa ustadzah Lingga, jangan sedih

Setelah marah-marah habis-habisan di kelas 7 B. Setelah putus asa, dan menghancurkan lesson plan dengan melempar spidol dan penghapus ke sudut kelas. Setelah gagal menahan emosi. Setelah bikin anak-anak sekelas terdiam dan bahkan ada yang nangis… (kereeeeen)

Setelah itu, saya kehabisan energi, putus asa. Putus asa melanjutkan rencana pembelajaran yang sudah saya rancang. Toh, waktunya nggak cukup lagi. Tapi saya sudah berjanji dengan diri sendiri untuk tidak meninggalkan kelas sebelum jam pelajaran usai (guru ngambek?? huhuhuyyy malu dong ah!).

Akhirnya saya suruh anak-anak nulis apa aja dalam waktu 10 menit. Ada anak yang gak punya perasaan sama sekali, yang dia tulis malah salinan dari buku, materi pelajaran. Ada yang nulis kosakata gak jelas beserta artinya. Ada yang nulis kalimat-kalimat bahasa inggris yang entah dia dapet darimana. Beberapa anak baik yang bisa merasa, menulis permintaan maaf dan perasaan mereka setelah saya marah. Salah satu yang menulis hal tersebut adalah Alfredho alias Redho (tulisannya di atas itu loh). Hikz hikz… sedih belum bisa jadi guru yang penyabar buat kamu Dho…

Yang paling lucu adalah tulisan dari Hadiid . Dia menyarankan supaya saya tidak usah senyum kalo di kelas, supaya anak-anak takut dan belajar dengan serius (how can i??). Terus dalam waktu dua bulan ini gak ada game, supaya anak-anak hanya berkonsentrasi pada pelajaran. Well… emmmm?? (anak yang aneh… dia memang terlalu serius)

aaaaaaahhh… curhat doang ini. Saya sedang sedang sedang sedang entahlah… i still need to learn more about these selfish people… (remaja oh remaja… i’m just tired of understanding you)

Jadi ingat apa yang ditulis dalam sebuah buku yang dulu pernah saya baca, tentang kekurangan guru baru yang hanya satu saja, persiapan. Jika persiapan kurang, maka kelas akan berantakan. Hemmm… Padahal saya udah merencanakan lumayan matang. Dari mendengarkan lagu, mempelajari language features yang ada di lagu, nyanyi bareng, soal untuk evaluasi. Apalagi yang kuraaaang???

Aaagh…. Kurang persiapan mentalkah?? –> Yup!! (malu membeberkan kelalaian saya menyiapkan mental hari selasa ini)

ustadzah, berdzikirlah, tenangkan pikiran dan hati… tawakal dan berserah diri kepada Allah. Semoga ustadzah diberikan buah dari semua ini. Terima Kasih … (Hanif Fadhani) –> tulisan ini diawali dengan bacaa dzikir panjang banget. Jadi bingung pengen ketawa, nangis, apa nyengir kuda aja ya? 😛

Bismillah… Ya Allah… sertai selalu langkahku.

Senja Jiwa [Tentang Ia yang Putus Asa]

ia menangis

tak mampu hentikan cerabihan hatinya
pada asa yang tak jua tersentuh raga’
ia jingga, setia hadiri undangan senja
senja yang membuka kelam
kelam yang menyadap gulana di dada
ia tolak kobaran jiwa
tak terhirau lagi hatif guyurkan bergayung-gayung suara cinta
ia tenggelamkan cita dalam lanyau  rasa
rantai  roda mimpinya putus sudah