Cerita Jilbab Buat Rachel

Mematut diri di kaca hampir 30 menit, tidak membuat Rachel yakin dengan penamplian barunya. Alih-alih memenetapkan hati bahwa ia telah tampil sempurna, Rachel malah jadi ragu, ragu dan ragu.

“Aduuuuh…” selembar kain di kepalanya ia lepas lagi.

“ Ya ampuuun… 30 menit aku nungguin Chel?” Roy, abang Rachel, si pengantar-jemput Tuan Putri.

“ Hiiih… ya udah deh, aku nggak jadi pake jilbabnya hari ini”

“Apaa??? udah 30 menit aku nungguin kamu, malah gak jadi pake jilbab?”Rachel mendorong Abangnya keluar dari kamarnya dan menutup pintu, mengganti bajunya dengan seragam lengan pendeknya yang lama. Batal memulai hari-hari barunya mengenakan busanan muslimah.


****

Esoknya, begitu lagi, begitu lagi. Roy sebenarnya tak peduli dengan keinginan adiknya memakai jilbab. Dia tidak peduli apakah adiknya mau memakai jilbab atau tidak, yang ia pedulikan adalah batas kesempatan untuk datang terlambat di kelasnya Pak Imran, dosen literaturenya yang strick itu. Ia sudah empat kali terlambat karena harus menunggu Rachel untuk mengantarnya ke sekolah, tugasnya setiap hari. Dan tinggal satu kali kesempatan lagi. Jika adiknya belum juga berhasil menguasai cara memakai jilbab yang benar, ia akan datang terlambat terus.

“ Kamu gak bisa pake jilbab kaos aja apa ke sekolah?” Malamnya, saat Rachel latihan pakai jilbab di depan cermin kamarnya. Cermin di lemari kamar Roy memang lebih besar dan lebih mantap untuk berkaca.

“ Ya gak bolehlah bang. Jilbab kaos kan kesannya gak rapi”

” Ikut kursus pake jilbab kek, apa kek? Aku terlambat terus loh gara-gara nungguin kamu pake jilbab”

“Hemmm… udah, tapi emang susah banget ini, gimana sih? Iiiiiih nih pentul kenapa tumpul gini!” Rachel frustasi. Roy sedikit geli bercampur kesal dengan polah anak bungsu nan manja itu. Ia menghampiri Rachel dan ikut-ikutan bantu adiknya belajar pake jilbab.

“sini sini…”

“wadaaaow…” rachel menjerit, pentul warna putih itu menusuk dagu Rachel. Roy meringis, dan bersiap mengambil langkah seribu. Rachel tidak berminat mengejar abangnya itu. Ia

“euuukkhhh…” ia hanya mengomel sedikit dan kembali asyik dengan jilbab dan pentul-pentulnya.


*********

“Nggak jadi botak-botak kamu Chel” Ifa, sohib terdekat Rachel. Tidak satu kelas, tapi setiap istirahat selalu bersama dengan Rachel. Kali ini juga begitu, mereka berdampingan beridiri di depan kelasnya.

“Apa karena niat aku yang belum bulat ya Fa” Rachel meniup-niup beberapa lembar rambut yang mnutupi pandangnya. Angin di balkon kelasnya yang terletak di lantai tiga itu memang lebih kencang dan seringkali merusak kerapian rambut siswi-siswi cantik di SMA itu.

“Kamu ngerasanya gitu?”

“Aku sih dah pengen banget, tapi sering nggak pede. Bayangin masa udah 5 hari ini aku gagal terus mulai pake jilbab cuma karena gak bisa makenya. Gak keren banget kan penyebabnya?”

Ifa tertawa sambil memperbaiki jilbab yang membungkus wajah tirusnya. Ia hanya memandang sahabatnya itu, masih ada yang ingin disampaikan gadis itu, pikirnya.

“Susah banget Fa makenya. Aku nggak betah” Ifa mengerutkan dahi, itu dia poinnya, Rachel.

“Makanya kamu harus berjuang anak muda! Ini perintah Allah. Ngerti??!!” Ifa sok keras. Rachel mencubit lengannya kesal.

“ Iya ya Fa. Ujian buat aku kali ya untuk membuktikan cintaku padaNYA? Gak seberapa dibandingkan ujian-ujian pendahulu kita” Tiba-tiba terngiang-ngiang oleh Rachel cerita kakak-kakak alumni yang suka ngisi pengajian saban minggu. Cerita tentang perjuangan mereka mempertahankan jilbab. Harus rela dimusuhi guru, berurusan dengan kepala sekolah. Sampai untuk foto ijazah saja mereka harus pontang-panting masuk tivi, belum lagi di luar sekolah, dan bagaimana perjuangan mengemis-ngemis izin dari orang tua, sampai cerita memilukan yang selalu menjatuhkan air mata penceritanya. Saat si kakak-kakak harus menggunting kain apa saja untuk dijadikan jilbab, meskipun itu adalah kain bekas spanduk.

“Baiklah, besok aku pastikan pake jilbab, bagaimanapun bentuk mukaku” Rachel bertekad. Ifa tersenyum senang. Bertopang dagu dan mengerlingkan matanya pada Rachel. Angin semakin semeriwing menerpa keduanya yang mendadak diam, sibuk dengan khayalan masing-masing.

*****

Roy tidak terlambat hari ini.

“Yaiiiiyy… Alhamdulillah akhirnya kamu botak juga Rachel” Ria, kakak kelas Rachel tiba-tiba muncul di hadapan Rachel, disusul Andien, Tika, Rena, Dyah, Bunga, Atika, Shinta, Dina, Afifah, Nadya, Widya, Lisa, Wina, Rina, Yana, Amy, banyak sekali jilbaber-jilbaber sekolah menyalaminya.

Tak hanya mereka, beberapa guru pun seperti tak mau  ketinggalan memberikan selamat pada Rachel. Rachel tersipu-sipu.

Pak Raden, Kepala sekolah pun tak mau ketinggalan ternyata. Ia juga ikut serta dalam gerombolan orang yang ingin menyelamati Rachel.

Semakin banyak yang heboh karena gadis kalem itu berjilbab, mereka begitu antusias melihat penampilan baru sang wakil Ketua OSIS itu. Rachel terdorong ke sudut jendela kantor Kepala Sekolah. Ya, ia belum sempat menuju ke lantai tiga kelasnya, dan semua orang yang mengenalnya sudah menghampiri dan mendatanginya. Rachel tak henti tersenyum sampai matanya memandang pantulan dirinya di kaca jendela kantor kepala sekolah itu. Ia termangu mencoba mencerna pantulan terbaru dari penampilannya hari itu.

Semua masih ingin menyalaminya. Tapi pantulan itu membuat ia seketika berteriak histeris.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Tak ada rambut yang perlu ditutupi jilbab.



Beberapa hari yang lalu saya dapet kesempatan buat baca cerpen-cerpen orang, kebanyakan mengenai jilbab. jadi pengen nulis cerpen tentang jilbab. haha… Aneh tapi yaa? Biasa… Lingga gitu loh!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s