Hanya Catatan CINTA INDONESIA

Lingga : “tidur yaaa… bangunin kalo indonesia menang” *sebenernya kecapek’an and ngerih mau nonton bola

****

Tiba-tiba tersentak, mencerna kondisi rumah yang rame, huuu pasti ada gorengan (mikirin gorengan duluan, belum inget sama INA vs MALAY…)

Lingga : “belum selesai ya?” (tiba-tiba ingat)

Mega : “tidur lagi tidur lagi, belum selesai”

Lingga :(tutup kuping pake bantal)

Lempar HP jauh2 dari jangkauan gak mau buka segala macam social network, pengen tidur lagi tapi gak bisa. Akhirnya Lingga bangun dan menuju TV yang ramai oleh sanak saudara (halah!)

Nongkrong paling depan, woooowww… Menang tapi gak juara. Lingga nonton pas Firman dkk lagi ngantre dikalungin medali. Tampang-tampang kecewa itu…

Alhamdulillah, we’ve been this far kawan. Dont cry… tidurlaaah…

Nadya 3 (Apakah Setiap Malam Kita Harus Menangisi Indonesia?)

Apakah setiap malam kita harus menangisi Indonesia?

Kau menatapku dengan mata basah yang sama

seperti mata kanak-kanak

yang tak pernah menemukan cinta

terus mengais asa

di jalan-jalan kota dan desa negeri kita

Apakah setiap malam kita harus menangisi Indonesia?

Sambil tersedu-sedu

jemari kecilmu menggenggam tanganku

kuat sekali

mungkin kau ingin mengajakku berdoa

dan memintaku tetap melangkah

dalam tangis yang melaut


Aku, kau mungkin boleh terus menangis, sayang

tapi kitalah masa depan

kanak-kanak yang harus

menjalin airmata negeri

menjadi cahaya

menjadi cahaya

(Faiz Abdurrahman, 1 April 2007)


Ada yang terhentak dalam hatiku. Sebuah rasa yang mungkin sudah cukup lama lelap. Rasa yang dibangunkan oleh teriakan tetangga “Gooooooooooooooool”. Rasa yang terbangun dari berisiknya degup jantung di dada menanti akhir bola yang digiring oleh Ahmad Bustomi atau Okto Maniani. Rasa yang terbangun oleh warna cerah ceria terhibur gembira bahagia saat hari-hari lalu kau, kau,kau, dan kau hadiahkan kami gol-gol itu.

Honestly, i’m not really in to sepakbola…. but… setuju banget deh ma kata orang, bahwa sepakbola bisa meningkatkan jiwa nasionalisme. So, bangun persepakbolaan Indonesia, ganti ketua PSSInya… HIDUP INDONESIAAAAA *mulai ngawur

kembali ke Firman dkk: Terima kasih untuk inspirasi. #LOVE INDONESIA.

Advertisements

Keep Writing!

It’s just about my effort to keep writing… hahaha… just like my friend said, don’t be afraid of being geje, i just wanna keep being geje…hehe… just write, write, and write. Sorry kalau ada yang baca then nganggap kalau saya asal-asalan dalam menulis, sorry yaaaa!! anda benar one hundred percent. I just write out my mind now….

  1. Bahwa semangat yang sedang meletup-letup ini muncul setelah saya nonton film lama berjudul Julie and Julia. Ceritanya si Julie and Julia itu dari generasi yang berbeda, mereka punya hobi yang sama ma saya, hahaha mereka punya hobi masak… (ooouw… serius gw bo’ong klo ngaku punya hobi masak). Si Julie apa Julia (pokoknya yang tua, keknya julia deh… auk ah!) itu meniti karier hobinya dari nol, dari gak bisa masak sama sekali, tapi dia punya satu keinginan besar untuk bisa masak, karena do’i merasa gak enak kalo gak ada kerjaan, cuma sebagai ibu rumah tangga di Prancis. Mulailah dia belajar masak di tempat kursus masak profesional, ternyata dia bisa mengikuti kursus dengan baik, dan berhasil menjadi peserta yang terbaik. Sampai akhirnya dia terobsesi nulis buku Resep Masak Prancis berbahasa Inggris untuk ibu-ibu Amerika yang tidak punya pelayan (haha gitu deh pokoknya). Dan singkat cerita buku itu terbit juga dan menginspirasi seorang istri muda (maksudnya dia masih muda udah married dan punya suami 😛) yang nge-fan berat sama si Julia (apa Julie?) untuk menulis blog tentang uji cobanya terhadap semua resep yang ada di buku si Julia itu. Dia menargetkan resep2 itu berhasil diuji coba selama satu tahun. Dan setiap hari dia selalu mengupdate blognya dengan resep dan cerita-ceritanya menguji coba resep-resep tersebut. Dia menuliskan semua, dari percobaan yang gagal, cerita berburu bahan, sampai ceritanya membersihkan bebek dari tulang (gitu gak sih istilahnya? hwehehehe). Pokoknya semua dia tuliskan di blog itu, tentu dengan selalu menyebut-nyebut nama koki idolanya, Julia Apa Gitu…. (hadooooh, sebenernya gw pengen ngereview nih film, tapiiii)… Pokoknya singkat cerita blog itu mendapatkan respon positif dari banyak pembaca, Si JUlie jadi terkenal dan seterusnya dan seterusnya. Pelajaran moral yang dapat saya ambil dari film ini adalah: Blog bisa bikin kita terkenal… (apa sih?? :P). Udah ahhh… nonton aja sendiri filmnya dan bikin review sendiri. YAhhh… film ini menginspirasi saya, dan mengantarkan saya pada suatu AHA!! (hihi… semoga gak seperti AHA! AHA! sebelumnya yang cuma AHA! di awal ajah, tapi AHIKZ AHIKZ di akhir)
  2. Ada teman saya nazar mau botakin kepala kalo besok Indonesia menang… Aheyyy… seneng bacanya, gak tahu kenapa…. . Emmm… dan hari ini saya niat buat berlama-lama di depan laptop pinjeman (mumpung orangnya gak ada), mengakrabi suara jangkrik, mendengarkan lagu-lagu kesayangan yang udah lama gak kedengeran. Terus besok ada workshop di sekolah, sampe sore. Pulangnya capek, tidur bangun tidur bangun cuma buat solat aja, dan gak inget sama big-match yang ditunggu-tunggu seluruh Indonesia. Terus pas kebangun dini hari, langsung tersadar dan menyesal gak nonton performance Arif Suyono dkk. Check twitter, ternyata TT nomor satunya tentang kemenangan Indonesia 5-1…. Aheyyyyy…. langsung seger, bangun dan mulai ritual pagi… terus ke sekolah lagi buat wokshop lagi… (Ini rencana ngalay eh ngayal mode on)
  3. Laptop sampe sekarang belum jelas juntrungannya, terakhir ditelpon gimana kalo segala data hilang, mau diterusin apa nggak??? Good good good… (menangis darah… bergiga-giga foto memori lalalala, cerita-cerita nggantung gw yang masih indah buat dibaca dan masih bermain dalam khayal untuk dilanjutkan, leson plan-lesson plan guweh…. Innalillahi wainna illaihi rooji’un. (neysel foto2 gak ada back-upnya, foto yang gw cetak belum seberapa… ahikz)
  4. baca deh blog sohib saya satu ini… really, she inspires me much with this blog, dasar tuh orang emang dreamsachiever, Awas aja!! saya juga sedang bergerak ini menyusun serpihan-serpihan mimpi yang berserak… huwaaaaaa… (jauh tertinggal tapinya)…
  5. Oh iya, tadi saya mengirimkan sesuatu ke suatu alamat, melalui suatu kantor yang disebut kantor pos. Hoho… membayangkan banyak hal saat melihat (memperhatikan) tingkah orang-orang yang berada di sana, menebak-nebak isi amplop atau kotak paket yang dibawa mereka. Melihat-lihat begitu banyak layanan yang sekarang disediakan di kantor pos. Teruuuuuuuuus, pulang dengan perasaan sepertinya ada yang ketinggalan dan belum saya masukkan ke dalam amplop besar yang saya titipkan dengan ibu pos, tapi gak tahu apa. (Haha… perasaan yang selalu muncul setelah mengirimkan sesuatu, apapun itu).
  6. Oh iyaaa…. saya baca Padang Bulan lagi, mau menandai detail-detail yang menarik dari sekuel tetralogi laskar Pelangi itu… Hihi… “Melayani orang sakit gila #32 adalah penyakit gila #33”. Dan saya semakin yakin, kalo yang cocok jadi Ikal bukanlah Lukman Sardi, sungguh… Agus Kuncoro lebih mirip Andrea Hirata….
  7. Howaaaa…. mau dibawa ke mana lagi kegejean iniiiii???

Udah ahhhh nulisnya… pyu pyuuuu lalalala… Berani Geje Itu BAikkkkkkkkk

Ami

Ami, nama lengkapnya saya nggak tahu. Upz.. bukan apa-apa soalnya anak ini kelas 9, yang notabene bukanlah daerah kekuasaan saya.

FYI, anak kelas 9 itu beda banget sama anak kelas 7 yang masih imut-imut. Rasanya sulit sekali menjangkau mereka. Entahlah… Mungkin karena memang saya nggak ngajar mereka kali ya?. Cukup sering mendengar selentingan anggapan mereka tentang saya. Membuat saya segan ngobrol-ngobrol ma anak-anak dengan tampang serius ini. (hahaha… apa coba? Gak usah dikasih tahu ah, ntar dikira ujub lagi :P)

Okay, Ami adalah anak kelas 9 pertama yang mengirimkan smsnya kepada saya. Entahlah dia dapat darimana nomor saya itu. Tapi saya amat lumayan senang menerimanya.

Ustadzah, ini Ami, tholibat kelas 9 yg sakit tadi. Makasih ya ustadzah udah nolongin Ami pas ulangan IPA kemaren

Ami sakit saat ulangan IPA, dan kebetulan waktu itu saya yang mengawasi. Waktu itu, saya cuma menjalankan tugas sebagai seorang pengawas. Melayani siswa-siswa dan menciptakan lingkungan yang mendukung untuk mengerjakan soal. Ami sakit dan keliatannya tidak mampu lagi berkonsentrasi duduk di kursi dan mengerjakan soal. Saya sebenarnya, seperti biasa, panic dan bingung, karena si anak tidak mau disuruh pulang, tidak mau dipindahkanke UKS, tidak mau dikasih makan, Dan, ekspresinya itu loh, sama persis dengan ekspresi anak-anak kelas 9 pada umumnya. Cuek dan seperti tak peduli. Beruntung ada seorang ustadzah yang membawakan minyak but-but untuk diusapkan ke perutnya yang sakit akibat belum sarapan. Hemmm… agak enakan, saya meninggalkan dia dan kembali sibuk dengan bacaan saya, sambil sesekali mengawasi anak-anak.

Tapi demi melihat wajahnya yang pucat, saya jadi gak tega. Dan menawarkan Ami untuk duduk di bawah aja. Sambil ngerjain soal dia bisa sesekali tiduran di karpet. Alhamdulillah si Ami berkenan pindah di bawah. Saya jadi agak tenang karena nyatanya dia lebih banyak tidur daripada menekuri soal.

Saya kasih dia kain untuk jadi selimut dan sesekali melihat keadaannya. That’s all.

Karena ekspresinya yang sepertinya kurang bersahabat, saya pikir hal tersebut biasa saja, dan bukan sesuatu yang memorable untuknya. Ya, saya pikir begitu, karena memang hal itu kurang memorable buat saya. Saya lebih terkenang dengan tingkah anak-anak kelas 7 yang lucu saat mengerjakan soal fisika, membuka pet dalaman jilbab karna pusing kepala. Saya lebih terkenang dengan isi bukunya HTR yang saya baca sepanjang ujian. Saya lebih terkenang dengan soal ralat yang saya salin di papan tulis. Gak inget ma Ami, bahkan nama lengkapnya saja gak saya cari tahu. Saya hanya menyerahkan absen pada satu temannya, dan meminta ia menuliskan nama lengkap Ami di sana. Membaca namanya pun tidak.
Dan tiba-tiba dia meng-sms saya. Mengucapkan terima kasih sepenuh hati. Butuh satu jam saya menyusun mood untuk membalasnya. Send.

“ya, Ami, semoga lekas sembuh ya. Besok jangan lupa sarapan sebelum ujian. Semangat!”

Ia membalas lagi. Cukup, saya jadikan itu pesan penutup.

Beberapa jam kemudian saya menerima sms dari nomor baru. Isi smsnya hakzz… sms yang jarang banget saya tanggapi, apalagi nomor baru. SMS nanyain lagi ngapain, haha. Karena smsnya alay banget, alias anak SMP mode on, saya berkesimpulan tuh pengirim sms adalah murid saya. Jadi saya balas, dan saya tanyakan siapa gerangan pengirim itu.

“Ini Ami ustdzh, nmr Ami tadi gak di-save ya?”

Walaah… *_*. Padahal waktu itu saya pikir dia cuma mau ngucapin thankz aja, and then the end gituh. Tapi ternyata, dia sering mengirimkan sms. Sampai tanggal 22 Desember lalu. Ami mengucapkan selamat hari ibu ke saya, dan tak lupa mengatakan “ I love u very much ustadzah”. Aaaagh…. Dia membuat saya melayang, rasanya seperti sudah benar-benar menjadi ibu.

Sebenarnya, cukup lama saya lupa-lupa ingat wajah Ami. Yang menjadi penanda hanyalah sikap malu-malunya jika bertemu, sikap excitednya kala saya tersenyum dan bersalaman.
Ami, siswa kelas 9 pertama yang kutuliskan di blog ini…

Ami, terima kasih anyway.

Pondering

Mencari-cari puncak baru untuk dipanjat. Rasa bosan fokus pada puncak yang sedang ku tuju sekarang, tak dapat ku bendung.

Resolusi 2011: REAL BREAKAWAY

*semakin keras berpikir, how the future should be, semakin sering berkhayal, semakin sering bicara sendiri, semakin sadar bahwa aku harus tetap menjaga kesadaran

matahari lagi [bukan ode pengobat rindu]

Lukiskan hitam langit untukku,
langit malam yang gelap, sempurna.
Hey, jangan!
Enyahkan saja bulan itu
Apa maksudmu memurnakannya? tak perlu!
Bintang?? Satupun jangan kau kerlipkan, hapus!
Biarlah hitam, biarkan kelam. Sampai kau kembali, ukirkan matahari pagi.

*mobile mode on, klo ada salah ketik or spasi, maklumi saja.

Menikmati Hidup


Tema beberapa hari terakhir ini adalah “Menikmati Hidup”. Berawal dari dialog dengan seorang anak aneh (suka sekali kalau ada orang aneh yang muncul dalam hidup saya yang sering dicap aneh). Keanehan pertamanya sebenarnya sudah saya lihat beberapa bulan yang lalu. Tapi sssst tidak akan saya ceritakan di sini.

Keanehannya yang baru saja dibahas adalah. Dia suka pake manset lain sebelah. You know? Manset yang ada dua lapis itu. Kita bisa pilih salah satu lapisan untuk dipakai sesuai dengan baju yang kita pakai. Untuk seragam putih donker, kita bisa pake manset warna donker atau biru muda. Nah anak itu memakainya dengan warna yang berbeda antara tangan satu dengan lainnya. Satunya warna donker, dan satunya biru muda. Bgitu juga seragam batik dan seragam pramuka, mansetnya selalu berbeda antara yang kiri dan kanan. Beberapa hari saya tertarik untuk mengomentari tapi saya tahan. Dia memang aneh… (saya pikir, hanya dalam pikiran).

Akhirnya satu kesempatan datang. Saya pun berkomentar setelah juga melihat kenaehannya yang bertambah-tambah dalam rangka mengekspresikan diri. Dan dia bilang

“Cuma pengen menikmati hidup koq ustadzah” wkwkwkwk… so funny. Kenapa kalimat itu tidak dari dulu mampir di telinga saya. Sehingga saya punya jawaban diplomatis untuk pertanyaan atau komentar yang bermakna “Lingga aneh”.

Ya keanehan adalah seni “menikmati hidup”. See?. Dont be afraid to be “ngartis”, don’t be afraid to be a lil bit or even much “weird”. Asalkan tidak melanggar syar’i, asalkan kita bisa menimati hidup ini. Ayo siapa yang mau nanya lagi? saya sudah punya jawabannya.

so for the questions:

“koq ngajar di SMPIT ling?” –> “Hanya ingin menikmati hidup”

“Koq dak ikut tes CPNS ling?” —> “Hanya ingin menikmati hidup”

“Koq suka lari-lari ling?” —> “hanya ingin menikmati hidup”

” KOq suka ngomong sendiri ling?” —> “Hanya ingin menikmati hidup”

“Koq sering jatuh and nyaris ketabrak orang ling? ” —> “hanya ingin menikmati hidup”

“Koq terlalu bersemangat ling?” —> “hanya ingin menikmati hidup”

Selamat beraneh ria, selamat menikmati hidup.

*jadi Semakin bersemangat untuk menikmati hidup, (baca semakin bersemangat untuk menjadi aneh). Hidup Orang Aneh!!!

-dedicated to: orang-orang aneh.