Ami

Ami, nama lengkapnya saya nggak tahu. Upz.. bukan apa-apa soalnya anak ini kelas 9, yang notabene bukanlah daerah kekuasaan saya.

FYI, anak kelas 9 itu beda banget sama anak kelas 7 yang masih imut-imut. Rasanya sulit sekali menjangkau mereka. Entahlah… Mungkin karena memang saya nggak ngajar mereka kali ya?. Cukup sering mendengar selentingan anggapan mereka tentang saya. Membuat saya segan ngobrol-ngobrol ma anak-anak dengan tampang serius ini. (hahaha… apa coba? Gak usah dikasih tahu ah, ntar dikira ujub lagi :P)

Okay, Ami adalah anak kelas 9 pertama yang mengirimkan smsnya kepada saya. Entahlah dia dapat darimana nomor saya itu. Tapi saya amat lumayan senang menerimanya.

Ustadzah, ini Ami, tholibat kelas 9 yg sakit tadi. Makasih ya ustadzah udah nolongin Ami pas ulangan IPA kemaren

Ami sakit saat ulangan IPA, dan kebetulan waktu itu saya yang mengawasi. Waktu itu, saya cuma menjalankan tugas sebagai seorang pengawas. Melayani siswa-siswa dan menciptakan lingkungan yang mendukung untuk mengerjakan soal. Ami sakit dan keliatannya tidak mampu lagi berkonsentrasi duduk di kursi dan mengerjakan soal. Saya sebenarnya, seperti biasa, panic dan bingung, karena si anak tidak mau disuruh pulang, tidak mau dipindahkanke UKS, tidak mau dikasih makan, Dan, ekspresinya itu loh, sama persis dengan ekspresi anak-anak kelas 9 pada umumnya. Cuek dan seperti tak peduli. Beruntung ada seorang ustadzah yang membawakan minyak but-but untuk diusapkan ke perutnya yang sakit akibat belum sarapan. Hemmm… agak enakan, saya meninggalkan dia dan kembali sibuk dengan bacaan saya, sambil sesekali mengawasi anak-anak.

Tapi demi melihat wajahnya yang pucat, saya jadi gak tega. Dan menawarkan Ami untuk duduk di bawah aja. Sambil ngerjain soal dia bisa sesekali tiduran di karpet. Alhamdulillah si Ami berkenan pindah di bawah. Saya jadi agak tenang karena nyatanya dia lebih banyak tidur daripada menekuri soal.

Saya kasih dia kain untuk jadi selimut dan sesekali melihat keadaannya. That’s all.

Karena ekspresinya yang sepertinya kurang bersahabat, saya pikir hal tersebut biasa saja, dan bukan sesuatu yang memorable untuknya. Ya, saya pikir begitu, karena memang hal itu kurang memorable buat saya. Saya lebih terkenang dengan tingkah anak-anak kelas 7 yang lucu saat mengerjakan soal fisika, membuka pet dalaman jilbab karna pusing kepala. Saya lebih terkenang dengan isi bukunya HTR yang saya baca sepanjang ujian. Saya lebih terkenang dengan soal ralat yang saya salin di papan tulis. Gak inget ma Ami, bahkan nama lengkapnya saja gak saya cari tahu. Saya hanya menyerahkan absen pada satu temannya, dan meminta ia menuliskan nama lengkap Ami di sana. Membaca namanya pun tidak.
Dan tiba-tiba dia meng-sms saya. Mengucapkan terima kasih sepenuh hati. Butuh satu jam saya menyusun mood untuk membalasnya. Send.

“ya, Ami, semoga lekas sembuh ya. Besok jangan lupa sarapan sebelum ujian. Semangat!”

Ia membalas lagi. Cukup, saya jadikan itu pesan penutup.

Beberapa jam kemudian saya menerima sms dari nomor baru. Isi smsnya hakzz… sms yang jarang banget saya tanggapi, apalagi nomor baru. SMS nanyain lagi ngapain, haha. Karena smsnya alay banget, alias anak SMP mode on, saya berkesimpulan tuh pengirim sms adalah murid saya. Jadi saya balas, dan saya tanyakan siapa gerangan pengirim itu.

“Ini Ami ustdzh, nmr Ami tadi gak di-save ya?”

Walaah… *_*. Padahal waktu itu saya pikir dia cuma mau ngucapin thankz aja, and then the end gituh. Tapi ternyata, dia sering mengirimkan sms. Sampai tanggal 22 Desember lalu. Ami mengucapkan selamat hari ibu ke saya, dan tak lupa mengatakan “ I love u very much ustadzah”. Aaaagh…. Dia membuat saya melayang, rasanya seperti sudah benar-benar menjadi ibu.

Sebenarnya, cukup lama saya lupa-lupa ingat wajah Ami. Yang menjadi penanda hanyalah sikap malu-malunya jika bertemu, sikap excitednya kala saya tersenyum dan bersalaman.
Ami, siswa kelas 9 pertama yang kutuliskan di blog ini…

Ami, terima kasih anyway.

Advertisements

13 thoughts on “Ami

  1. menatapmatahari says:

    topenkkeren said: minyak butbut itu apa, Ustadzah?

    hihi… tadi mau njelasin emang, tapi males, jadi ntar-ntar aja. Eh… malah lupa.Eh… masa sih gak tahu minyak but but?? sejenis minyak nyong-nyong gitu… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s