kalo kita dapat kiriman dari luar dikenakan bea gak sih?

kalo kita dapat kiriman dari luar dikenakan bea gak sih?

Advertisements

What So Important In Competition

Beberapa minggu ini saya kehilangan weekend-weekend saya karena kebagian tugas mengantarkan anak-anak untuk mengikuti rangkaian lomba di sebuah event milad salah satu sekolah di Bengkulu. Selain mengantarkan mereka, sebelumnya saya juga sempat melatih mempersiapkan siswa-siswa saya tersebut.

Melatih mereka dengan beban harus menang adalah hal yang membuat kegiatan yang sebenarnya merupakan sarana untuk mengaktualisasikan diri itu menjadi tidak menyenangkan. Yup! Saat diserahi tugas saya juga mendapat pesan sponsor dari Wakil Kepsek:

“Pilih yang bisa dipoles ustadzah. Bakat itu penting, kemauan saja nggak cukup” Gubrak!!! Brak!! Brak!! Swear waktu itu saya rasa pengen nyelongsor aja dari kursi saya, untung tidak begitu konsentrasi jadi ekspresinya rada telat gitu deh… haha, sadar-sadar si wakasek udah nggak ada. Baru ini saya dapat pandangan itu nongol lagi di zaman modern seperti sekarang ini, dimana yang saya tahu sering didengung-dengunkan motivator, When there’s a will, there’s a will. Bakat hanya 1 % doang, sisanya kerja keras. Dan kerja keras erat kaitannya dengan kemauan (baca motivasi)

Nama-nama yang direkomendasikan oleh si wakasek adalah nama-nama yang sudah tidak asing lagi, pemain lama, kelas sembilan. Ekspektasinya adalah sekolah berhasil menang lagi seperti yang sudah-sudah.

” Kalau kira-kira nggak ada harapan menang nggak usah ikut lomba” Kira-kira seperti itu pandangan yang saya baca dari kalimat demi kalimat yang keluar darinya. Hemmm… Ia berbicara tentang gengsi sekolah. Ooohw….

Saya teringat akan kesukaan saya dulu untuk mengikuti lomba. Dari scrabble sampe english debating. Saya hobi ikut lomba, walaupun capaiannya gak seberapa (malah gak banget wahahahah). Mengikutinya tanpa perhitungan ada kesempatan menang atau tidak. Pernah malah saya dan teman saya iseng ikut lomba scrabble yang biaya pendaftarannya lumayan menyita uang jajan. Lomba yang terbuka untuk umum itu memberikan lawan-lawan yang luar biasa, dari mahasiswa sampe bapak-bapak. Yang anak sekolah sepertinya cuma segelintir. But we enjoyed it. Cuma menang satu putaran, tapi puas rasanya, karena kalahnya juga terhormat.

Dan apa yang dicari di balik itu? Yuhuuu… aktualisasi diri. Itu yang selalu saya tanamkan pada murid saya pada kesempatan lomba tersebut. Yup!! Saya nekad merekrut generasi baru kelas 7 (tidak Cuma kelas 9 seperti yang direkomendasikan). Saya punya banyak murid berkemauan keras di kelas 7. Dan hasilnyaaaaaaaaaaaa…. yeyeyeyeyeach….

Event rangkaian lomba yang diadakan salah satu SMA favorit di Bengkulu itu memang terbuka untuk SMP dan SMA, jadi pesertanya kebanyakan disatukan, tidak dibagi per-level. *_*… Walau bagaimanapun sebenarnya nggak fair, cuma mau bagaimana lagi.

Dari 5 mata lomba yang saya asuh. Cuma satu yang berhasil nggondol piala, juara 2 Speech. Walau debat masuk semifinal tapi tidak berhasil mendapatkan piala karena kalah dalam perebutan juara 3 (sigh)… Saya bukan ingin memaparkan justifikasi di sini setelah ekspresi wakasek agak tidak mengenakkan mengetahui hasil-hasil itu. Hanya saya ingin menuliskan sedikit opini saya mengenai kompetisi, what so important in it!

  1. Aktualisasi diri

    Saya lebih suka memandang lomba semacam Story Telling sebagai ajang buat ngartis, itulah yang saya tanamkan ke murid saya. Jujur, saya lebih menikmati melatih anak-anak story telling daripada ngajar di kelas :P , saya pikir inilah ekstrakurikuler saya sebagai seorang guru. Mungkin karena begitulah saat saya sekolah, ekskul selalu lebih menyenangkan daripada belajar itu sendiri. Betapa menyenangkannya menjadi pusat perhatian dan bisa menggila seenaknya tanpa harus dikira gila, mengekspresikan diri. Sedangkan Speech dan debate, bukankah itu kegiatan yang menyenangkan juga? Hemm, perkara kalah menang hanyalah bagian kecil yang tidak begitu penting. Yang penting tampil maksimal saja dalam mengekspresikan diri.

  2. Mengukur Kemampuan

    Pada saat lomba kita akan menemukan banyak hal baru, membandingkan penampilan kita dengan penampilan peserta lain akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Semisal murid kelas 7. Mereka masih punya waktu panjang untuk terus memperbaiki diri. Dengan mengalami langsung sensasi tampil di depan umum, melihat pula bagaimana peserta lain menyikapi sensasi tersebut akan sangat bermanfaat untuk pembangunan diri mereka. Hanya saja peran guru sebagai pembina tetap diperlukan, memberikan motivasi dan pemahaman yang tepat dalam mengikuti kompetisi.

  3. Silaturahim

    Yup. Silaturahim itu penting banget. Saya jadi inget seorang ketua OSIS dari SMA tetangga yang dengan cueknya mengikuti berbagai mata lomba (bahkan yang gak penting) yang diadakan SMA saya. Saya bahkan mikir, nih anak visinya apa sih? Apa cuma mau jadi penggembira aja ya??. Hemm… bertemu dengan murid-murid sekolah lain, bukankah itu menyenangkan?

Naif mungkin, ah, tapi bukan Lingga namanya kalo nggak naif ;) .

Soundtracks Start Sounding… Go!!

Enak punya teman menggila (klick gw) di dunia. Selama ini , kami memang terbiasa menggila dalam mimpi saja, ngimpi bareng, and sometimes make it true. Tapi karena satu dan lain hal kebanyakan mimpi hanya sebatas mimpi dan harapan bahwa alam bawah sadar akan bergerak mencapainya (tapi gak kunjung-kunjung haha).

Sejak berpisah jauh, kegiatan ngimpi bareng masih kadang-kadang nongol lewat chatting ato ngumpul pas liburan doang, dari yg pengen ke Grand Canyon bareng naik pesawat bikinan sendiri (sinting!) sampe ngimpi punya perusahaan bareng (yang agak susah karena concern yang beda).

Kali ini mimpi kami adalah keliling Indonesia… ;). Ahaayy… backpackingan??? Ahaaay…. Padahal saya bukan orang yang suka adventure sebenarnya. :P. Jadi inget pas KKN diajak temen buat hiking ngikutin alur sungai di belakang rumah KKN, saya malah ogah larena mikirin kaki yang bakal gempor ntarnya (wkwkwwkwk). Terus… betapa saya biasa aja lihat sungai mengalir deras di belakang rumah (persis, waaah, bukankah keren saudara-saudara). Hikz… bukan apa-apa, sebenarnya saya udah pengen loncat-loncat girang saat tahu ada sungai di belakang rumah tempat KKN, tapi pas lihat belakang rumah yang nggak ada kamar mandi and WC saya langsung kehilangan selera buat ngapa-ngapain… Hahaha…. (Manja kamu!!! *kata teman saat lihat ekspresi saya mengetahui akan mandi di sungai). Hehhhh koq jadi ngomongin KKN yak? If only di rumah tempat saya nginap pas KKN ada WC dan kamar mandi yang layak, saya pasti akan memupuk subur jiwa petualang saya…. wkwkwkwk (selalu nyalahin yang gak salah).

Dan mimpi keliling Indonesia akan dimulai sodara-sodara… 😉 . Rencananya sih gak satu waktu, island by island-lah. Okeh, dan saya kebagian tugas nyariin lagu-lagu buat soundtracknya (hahahaha… penting gak sih??). Iya, soalnya salah satu yang bikin saya and temen saya itu semangat and gak sabaran adalah bagian nyanyi-nyanyi bareng di jalannya… wkwkwkwkwkwk (sanguine gila’)

1. Dream (Priscilla Ahn)
2. Amazing (West Life)
3. Today, My Life Begins (Bruno Mars)
4. Dont Stop Believing (Journey)
5. West Coast Friendship (Owl City)
6. Sahabat Sejati (Sheila on 7)
7. Light On (David Cook)
8. Make It shine (Victoria Justice)
9. Panggilan Rimba (gradasi)
10. Bertahan di Sana (Sheila on 7)
11. Fly to Your Heart (Selena Gomez)
12. You and Me against the world (mocca)
13. Pembuat Teh (Nugie)
14. Pengennya Teman Baikku juga (tapi ada rokoknyaah…. haha masuki aja lah Nugie)
15. Bahasa Matahari (Ebiet G Ade)
16. Mengejar Matahari (Arie Lasso)
17. Try Try Try (Jason Mraz)
18. ….
19 …..
20 …..

Banyak banget yak… haha, masih banyak lagi, tapi waktunya udah habis, next work is waiting. Saya pamit dulu…. (opo to yo!)

Sepertinya nanti bikin handbooknya juga. Aaaahhh… sanguin-sanguin yang suka mengerjakan hal-hal yang menyenangkan dulu (baca: gak penting).

Hidangan di jagat raya
Kunyahlah dengan perasaan ingin tahu
karena di baliknya terhampar pelajaran
yang tidak akan ditemui di meja belajar

Hidangan melimpah ruah
jangan kau sia-siakan
segala rasa hayati dengan keikhlasan
saat terkecap oleh lidahmu

di situlah kau belajar hidup
Tuhan senantiasa berada dekat di hati…
(Gola Gong, the Journey)


*insyaallah jadi starting note to the the real notes, start loving travelling, berhenti jadi anak manja!! Adventure is out there (Ellie “UP” mode on)

Surat dari AMINEF

Wohohoho… pulang sekolah (baca ngajar), jam setengah 5. Hari kamis (catet ya hari kamis), lagi gak puasa, jadi lapernya melebihi kalo puasa (bayangin orang gak puasa, tapi gak dikasih makan plus gak ada aer… ). Capek-capek,eh eh ibu saya bilang ada surat dari AMINEF. Wooow… AMINEF, semangat agak menyala. Ternyata suratnya udah dibuka. (sebel!!)

“ Katanya belum lulus, gak papa, lain kali coba lagi” Lebih kurang seperti itu pesannya saat memberikan amplop yang udah kebuka. (sebel!!)

“Haahh?? Apa sih?? Program yg mana?” Antusias sekaligus sebel sekaligus kecewa bersatu padu. Sebel ngapain juga tuh surat dibuka dulu sebelum saya yang buka. Ketahuan yang buka mesti lah bukan si emak, melainkan kakak-kakak. Uuuh….

Ada beberapa program yang saya apply, ada yang masih belum ada pengumumannya, ada yang nggak ada pengumumannya tapi udah tahu hasilnya (hoho sedih). Dan amplop itu…

“Oooooh…. “ Pas saya buka… antara kecewa, pengen ketawa, kecewa lagi, ketawa, hahaha… huuufft, ngapain juga dikirimin surat segala, lewat pos, nyampenya lama lagi, suratnya tertanggal 31 januari… weleh… sekarang udah 18 Februari, basi… saya juga udah tahu hasilnya.

We regret to inform you that the panel is unable to include your application among those selected for further consideration.

Sakit bacanya… (halah lebaaaaaaaay). Padahal saya juga udah tahu kalo saya gak lulus. Teman-teman di facebook yang lulus udah heboh duluan dari sebulan yang lalu, yang upload foto di AMINEFlah, yang reunian alumni IELSPlah, yang heboh packing mau interviewlah… huhuhuhuhu sakit hatiku membacanya waktu itu (lebaaay sumpah!)

Baiklah, sesungguhnya dari pertama baca requirementsnya saya udah sadar diri kalo saya gak memenuhi kriteria. Hakz3x, kriterianya harus punya pengalaman kerja yang beda sama bidang yang digeluti sekarang, terus course yang diapply itu yang relevan sama bidang itu tadi. Hwee… saya tidak punya pengalaman kerja apa-apa selain mengajar Bahasa Inggris. (*_*)

I would encourage you to reapply next year, if you are still interested in participating in this program. Best wishes

Hoho…. gak mau lagi ah!! Mending apply yang lain

Tapi buat yang mau nyoba, silah klick gw. Gampang banget applicationnya :P, gak usah susah-susah minta reccomendation ex dosen dll. Syaratnya cuma score TOEFL sama ijazah blabla doang.

Oke deh… coba terus sampai dapat!! Coba semuanya… se yaaaa bya bya! Saya mah yang lain aja…

Happy Valentina Rossa

Coklat, bunga, novel cinta, boneka pink-pink semua selalu berderet indah di kamar Valen setiap tanggal 14 Februari.

“Walan tardho ankal yahuudu walanna shoro hatta tatta bi’a millatahum. Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang sebelum kamu mengikuti agamanya…” Vicky, abang Valen yang ketiga. Masih dengan seragam putih abu-abunya tiba-tiba sudah ada di kamar Valen, dan memandangi deretan kado yang bertumpuk di meja belajar adiknya itu dengan sinis.

“Guru ngaji aku tadi bilangnya gitu Val. Kalau kita ngerayain Valentine sama aja kita masuk golongan mereka yang ngerayainnya itu. Kamu tahu gak sejarah valentine?? Oke aku ceritain jadi…. ” Vicky duduk di kursi belajar Valen sambil iseng menghitung coklat yang baru saja disusun Valen. Valen menghalau tangan iseng itu.

“Stop!! Aku juga udah tahu kali’!” Valen paling tidak suka kalo abangnya yang satu itu sok tahu di hadapannya. Apalagi masalah agama. Valen selalu mengecap pendidikan agama lebih baik dari kakaknya. Dari TK sampe SMP dimasukkan sekolah Islam oleh orang tuanya. Sedangkan abangnya itu hanya masuk sekolah umum biasa. Walau sejak SMA, dia mulai aktif di ROHIS dan menjelma layaknya ustadz, suka mengutip-ngutip potongan ayat AlQur’an.

“Fasiq dong!”

“Iiiih, ini hadiah ulang tahun taauuuuk! Salahin Ibu dong, kenapa ngelahirin aku tanggal 14 Februari, mana dikasih nama Valentina Rossa lagi… aaaghhh” Valentina Rossa mengeluarkan beberapa bungkusan lagi yang ternyata masih tersisa di tas gembong birunya.

Salahin ibu?? Tiba-tiba Valen ingin menangis. Mana mungkin ia tega menyalahkan wanita mulia yang sudah tak bisa ia pandangi lagi wajahnya itu. Vicky pun terdiam mendengar kata-kata adiknya barusan. Tapi ia tetap saja melanjutkan keisengannya.

“Haha… hadiah ulang tahun koq banyak lopeh-lopehnya neng neng… Toooooh…. happy birthday and happy valentine, eh banyak juga yang dari cowok lagi… ahaayyy iiih itu apalagi tuh?? Be my Valentine… huweeek” Vicky menimang-nimang beberapa hadiah berbungkus kertas kado pink. Semakin membuat Valen dongkol tak kepalang.
*********

Paginya Valen dan Vicky masih berkutat dengan kado-kado di kamar Valen dan cara untuk say no to valentine di hari ulang tahun Valen yang ke 15 itu.

“Ganti nama!!” Teriak Vicky. Valen cemberut.

“Itu nama dari Ibu. Masa aku ganti. Lagian ntar ngerepotin Ayah lagi”

Valen membereskan meja belajarnya. Ia memasukkan kado-kado dan coklat ke dalam kantong plastik hitam dengan menandai sebelumnya menggunakan spidol, lalu menuliskan pengirimnya di selembar kertas.

“Jadi??”

“ Dalam kasus aku ini, sepertinya what’s in a name dulu deh Bang!” Kata Valen lagi

“ Terus?”

“Terus yang paling penting adalah tidak ikut-ikut merayakannya”

“Jadi?”

“ Euuukkh, tulalit ah!”

“ Jadi kamu mau apain tuh coklat-coklat?” Vicky menahan liur yang hampir menetes.

“Mau dikembaliin lagi”

“Semuanya??”

“Yup!!”

“ Siiip adek solehah” Vicky mengusap kepala Valen yang telah berbungkus jilbab seragam putihnya.