Happy Valentina Rossa

Coklat, bunga, novel cinta, boneka pink-pink semua selalu berderet indah di kamar Valen setiap tanggal 14 Februari.

“Walan tardho ankal yahuudu walanna shoro hatta tatta bi’a millatahum. Sesungguhnya orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang sebelum kamu mengikuti agamanya…” Vicky, abang Valen yang ketiga. Masih dengan seragam putih abu-abunya tiba-tiba sudah ada di kamar Valen, dan memandangi deretan kado yang bertumpuk di meja belajar adiknya itu dengan sinis.

“Guru ngaji aku tadi bilangnya gitu Val. Kalau kita ngerayain Valentine sama aja kita masuk golongan mereka yang ngerayainnya itu. Kamu tahu gak sejarah valentine?? Oke aku ceritain jadi…. ” Vicky duduk di kursi belajar Valen sambil iseng menghitung coklat yang baru saja disusun Valen. Valen menghalau tangan iseng itu.

“Stop!! Aku juga udah tahu kali’!” Valen paling tidak suka kalo abangnya yang satu itu sok tahu di hadapannya. Apalagi masalah agama. Valen selalu mengecap pendidikan agama lebih baik dari kakaknya. Dari TK sampe SMP dimasukkan sekolah Islam oleh orang tuanya. Sedangkan abangnya itu hanya masuk sekolah umum biasa. Walau sejak SMA, dia mulai aktif di ROHIS dan menjelma layaknya ustadz, suka mengutip-ngutip potongan ayat AlQur’an.

“Fasiq dong!”

“Iiiih, ini hadiah ulang tahun taauuuuk! Salahin Ibu dong, kenapa ngelahirin aku tanggal 14 Februari, mana dikasih nama Valentina Rossa lagi… aaaghhh” Valentina Rossa mengeluarkan beberapa bungkusan lagi yang ternyata masih tersisa di tas gembong birunya.

Salahin ibu?? Tiba-tiba Valen ingin menangis. Mana mungkin ia tega menyalahkan wanita mulia yang sudah tak bisa ia pandangi lagi wajahnya itu. Vicky pun terdiam mendengar kata-kata adiknya barusan. Tapi ia tetap saja melanjutkan keisengannya.

“Haha… hadiah ulang tahun koq banyak lopeh-lopehnya neng neng… Toooooh…. happy birthday and happy valentine, eh banyak juga yang dari cowok lagi… ahaayyy iiih itu apalagi tuh?? Be my Valentine… huweeek” Vicky menimang-nimang beberapa hadiah berbungkus kertas kado pink. Semakin membuat Valen dongkol tak kepalang.
*********

Paginya Valen dan Vicky masih berkutat dengan kado-kado di kamar Valen dan cara untuk say no to valentine di hari ulang tahun Valen yang ke 15 itu.

“Ganti nama!!” Teriak Vicky. Valen cemberut.

“Itu nama dari Ibu. Masa aku ganti. Lagian ntar ngerepotin Ayah lagi”

Valen membereskan meja belajarnya. Ia memasukkan kado-kado dan coklat ke dalam kantong plastik hitam dengan menandai sebelumnya menggunakan spidol, lalu menuliskan pengirimnya di selembar kertas.

“Jadi??”

“ Dalam kasus aku ini, sepertinya what’s in a name dulu deh Bang!” Kata Valen lagi

“ Terus?”

“Terus yang paling penting adalah tidak ikut-ikut merayakannya”

“Jadi?”

“ Euuukkh, tulalit ah!”

“ Jadi kamu mau apain tuh coklat-coklat?” Vicky menahan liur yang hampir menetes.

“Mau dikembaliin lagi”

“Semuanya??”

“Yup!!”

“ Siiip adek solehah” Vicky mengusap kepala Valen yang telah berbungkus jilbab seragam putihnya.



Advertisements

2 thoughts on “Happy Valentina Rossa

  1. Elzam says:

    Ahahaha… Kisah klasik yang manis

    Jadi ingat cerpenku yg di Annida Valentino’s Valentine. Ceritanya Valentino lahir tgl 14 Feb, yg tragis sekaligus kematian ibunya. Membuat dia benci namanya dan semua perayaan Valentine. Mana dia dikasih ucapan selamat ama cewek yang menyebalkan lagi, kekeke…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s