Not an independent girl.

Not an independent girl.

Advertisements

Tak Kan Pernah Meneyerah #NP

Aku tahu…
Kisah ini terasa berat di pundakmu
Aku tahu…
Kar’na juga begitu berat di bahuku (2x)
Coba sayang…
berhentilah meratapi keadaanku
Jangan pernah
Menyerah pada keadaan busuk ini

Apapun yang akan terjadi
Tak’kan pernah aku sesali
Bila menjalani semua denganmu
Bila memahami semua denganmu
ku… Tak’kan pernah menyesal

*mensugesti diri…. ooooh tak kan pernah menyesal

Di Balik Awan

Ku tak selalu begini
Terkadang hidup memilukan
Jalan yang ku lalui
Untuk sekedar bercerita
……….
Tempat ku melihat di balik awan
Aku melihat di balik hujan
Tempat ku terdiam, tempat bertahan
Aku terdiam di balik hujaan

Hihi… perjalanan Subang-Bandung, bertemankan rentetan pohon jati (sotoy, kayak tahu aja pohon jati gimana), mengantarkan saya pada dimensi melankolis yang terdalam. Bertemankan asap rokok yang sesekali seliweran dari penumpang belakang, bertemankan tangis sesgukan seorang anak yang dipangku ibunya, bertemankan sumpa serapah sopir yang ugal-ugalan.

Hahhh… Waktu itu saya merasa seperti bersembunyi di balik awan. Saat, mungkin di sana, orang ramai bertanya, Lingga ke mana, saya sudah menghilang entah ke mana. Seorang teman mengirimkan sms bertanya keberadaan saya

“di balik awan hitam” hihi karena waktu itu, lagi terngiang-ngiang lagunya peter pan

Yup, di balik awan, bersembunyi. Ketika itu saya merasa salah jalan, salah mengambil arah. Saya pikir saya salah karena telah mengorbankan kenyataan yang telah terjadi untuk satu mimpi yang belum pasti. Mengambil resiko untuk melepaskan kesenangan yang sudah Allah beri. Ampuuun gusti, bukan aku tak puas, tapi aku hanya ingin menemukan diriku yang belum jua ku dapatkan.

Aku bersembunyi di balik awan, kala itu. Saat sms-sms berdatangan menghujatku. Mengapa begitu mendadak? Mengapa begitu terburu-buru. Ada apa? Apa yang terjadi? Aagh… maaf.

Kau tahu? Kadang aku ingin sekali menunjukkan pada kalian duniaku yang aneh ini. Yang tidak dapat dijelaskan dengan huruf-huruf a-b-c, terangkum menjadi kalimat-kalimat manis membela diri. Aku ingin, tapi sulit sekali. Kalian tidak akan mengerti apa yang ku rasa, mungkin binar mata dan keceriaan selalu merias hari-hariku, mungkin cerita-cerita tentang kelas sering meluncur di mulutku. Tapi perasaan itu tak bisa ku ungkapkan semudah aku tersenyum, semudah aku menangis karena kelaparan (halah!).

Suatu saat, kalian akan mengerti. Bukan, bukan karena keburukan tempat itu. mungkin benar kata seseorang, bahwa ketenangan itu datang dari hatiku sendiri. Ketika aku tidak tenang, berarti kesalahan ada padaku. Aagh, bukankah kita selalu hobi menyalahkan orang lain. Dan kali ini aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Aku mengaku salah, jarang sekali kan itu terjadi? Akulah yang salah, karena aku tidak dapat menemukan ketenangan itu.

Do’akan jalanku. Tenaang, aku tetap di sini, di jalan cinta ini, walau berduri. Walau mungkin tak bersama kalian lagi.

Wisata Senggoling 2- Tunda-Tunda

All my bags are packed, I’m ready to go

Yup, tadi pagi heboh bongkar sana-sini, packing sini sana, ngecek sana-sini, dll dsb. Sampe jam 10, saya dengan sadisnya menyampaikan sesuatu (yang masih rahasia) kepada si nyonya navigator.

“Koq ambo mimpi kito berangkat minggu yo Ling?” Lingga

“iiih kebanyakan pikiran”

“Tapi kayak nyata nian tu nah”

Padahal emang, dari lubuk hati yang paling dalam, saya pengen banget kalau berangkatnya ditunda hari minggu. Ada suatu kepentingan yang ternyata sulit untuk dikompromikan.

Ahh… terlalu sadis caraku mungkin. Padahal kita bedua udah pada mupeng bayangin aduhainya Karimunjawa. Dua hari udah telpon sana-sini buat reservasi ini itu. Tapi saya malah (dengan panjang lebar dan bolak-balik maaf) meminta kesediaan Eling untuk menunda keberangkatan. Maaf…akhirnya.

Dengan tertundanya keberangkatan, maka kami harus mengambil konsekuensinya, berupa terhapusnya satu rencana objek tujuan, dalam hal ini KArimunjawa. Huhukzz… Sebenernya dari tadi saya gak tega banget, tapi mau gimana lagi. Life is from a choice to another choice.

Dan sekarang masih belum sampe mana-mana. Tertunda lagi, ah semoga pengorbanan ini worthful. Semangat!

Wisata Senggoling 1 – Petualangan Dimulai

Here i am, setelah mengorbankan satu hal yang entah adalah suatu yang bisa ku nikmati atau tidak. Akhirnyaaa… i went!!

Kamis, 16 Juni 2011. Bertolak dari Bengkulu. Perjalanan yang luar biasa, i dont know what to call-lah.

Mengerihkan… Indonesia banget. Setelah pontang-panting tanggal 13nya nyari tiket termurrraahhh. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil flight paling sore banget. Jam 18.45. Gak pernah sendirian pergi jauh semalam itu. Tapi ya sudahlah, berani-beraniin ajah. Si enyak bolak-balik nelpon, and bolak-balik nyuruh nelpon kalo udah sampe di jakarta, kalo udah sampe di bandung, kalo udah sampe di kosan eling.

Setelah search sana-sini, tanya sana-sini, diketahui bahwa shuttle paling telat ke bandung jam 22.30. Jadi udah ngerasa nyaman aja. Tapiii…ternayata si Tingnong-Tingnong seenaknya aja delay-delay. Gak tanggung-tanggung, dari jam 7 sampe jam 8 lebih berapa gitu, kita akhirnya disuruh ngambil makan. Aaagh…

“ Delaynya sebenernya sampe jam berapa sih mas?” Lingga gusar

“ jam 08.30 mbak” si mas bagiin nasi

“ yang bener?!” sanksi sambil ngambil nasi gak nafsu

“ 08.30 pesawatnya baru nyampe sih”

“ iiihh”

Sesudah kira-kira para calon penumpang makan semua, si Tingnong ngoceh lagi, ternyata pesawatnya baru nyampe jam 08.55. Bagooooooooooooos…

Agak panik juga sih, tapi mau gimana lagi.

Bla bla bla ngunng nguuung, ciiit ciiit… akhirnya pas ngidupin HP lagi, udah jam 22.30.
Penantian belum berakhir, bagasi ntah nyangkut di mana, kami nungguin sampe 1 jam, aaghh… crazy!! Semua orang bersumpah serapah, dan saya sibuk nelpon si mummy.

Sambil nunggu, saya cari-cari counter travel yang bisa nganterin ke bandung. Ehh, ada ternyata… travel abal-abal sih, biarin dah, yang penting nyampe. Di mobil cuma ada 4 manusia. Si supir, si bapak, si eneng yang orang Batak, dan si Lingling yang bete’ (dan sebenernya orang Batak juga). Coznya, nungguin hampir 1 jam lagi demi si mobil jalan. Padahal katanya setengah jam lagi dari saya nanya, pas persis sesudah saya akhirnya berhasil menemukan lagi si koper.

Bete’ bertambah-tambah karena sepanjang perjalanan, si Eneng dengan logat bataknya gak berhenti-henti nelpon. Gak toleransi banget sih. Padahal saya ngantuk banget, udah melayang, eh HPnya dua nyanyi-nyanyi semua ganti-gantian. Heuleuh-heuleuh…

Jam 3 nyampe deh, di Haur Pincuh belok kanan, lurus, Salon Alin. Si sipit kacamata udah nunggu di sana. *_* akhirnyaaahh… texted my mother then. Amaaan…

Oh iya, yang saya korbankan adalah pekerjaan saya. Haha… sesuatu yang membuat saya sempat bersembunyi di balik awan. Haciyaahh… sekarang udah nginjek tanah lagi koq, and siap fight!! Huhuuuuyyy…

Hey don’t you know that we’re off to see the world
We’re off to find things new
So we will follow every clue
Just thing there suddenly
A chance to find it in all we dreamed in dreams of you

*seorang anti kemapanan yang tidak seanti itu pada kemapanan, kamu saja yang bilang begitu, kamu tidak tahu! (ngomel ndiri hihi)

Loserc

Ya, mungkin begitulah kau pikir aku, mungkin memang sesuai dengan apa yang ku lakukan. Mungkin…

Aku memang kalah, tidak dapat bertahan dengan segala yang telah Allah anugrahkan untukku. Terserah, kau mau memberinya judul “menyerah” “kalah” atau apapun itu namanya. Terserah…

Ya, mungkin aku salah. Tidak mendiskusikannya padamu. Segera mengambil keputusan. Aggh, katamu bukan “segera” tapi “tergesa-gesa”. Seperti biasa, kecerobohan selalu menjadi pilihanku, sengaja atau tidak sengaja. Kali ini aku mengaku salah.

Tapi, kau juga tidak sepenuhnya benar. Kau tahu, aku tidak sepicik yang kau pikir. Karena kau tidak tahu aku. Aku tidak selicik yang kau pikir, aggh kau tidak mengenaliku. Aku hanya terlalu tergesa pergi, tanpa izin lebih jauh, tanpa menceritakan padamu isi kepalaku yang berantakan ini.

Yah, berantakan. Kegalauan itu membuatku enggan membereskan isi kepalaku. Sebelum aku pergi, aku bingung apa yang harus ku sampaikan padamu. Aku bingung, sungguh ini murni karena kebingungan dan kecerobohanku.

Aku buruk, tapi tak seburuk itu.

Aggh… siapakah yang tahu tentang aku? Tolong sampaikan padanya.