Di Balik Awan

Ku tak selalu begini
Terkadang hidup memilukan
Jalan yang ku lalui
Untuk sekedar bercerita
……….
Tempat ku melihat di balik awan
Aku melihat di balik hujan
Tempat ku terdiam, tempat bertahan
Aku terdiam di balik hujaan

Hihi… perjalanan Subang-Bandung, bertemankan rentetan pohon jati (sotoy, kayak tahu aja pohon jati gimana), mengantarkan saya pada dimensi melankolis yang terdalam. Bertemankan asap rokok yang sesekali seliweran dari penumpang belakang, bertemankan tangis sesgukan seorang anak yang dipangku ibunya, bertemankan sumpa serapah sopir yang ugal-ugalan.

Hahhh… Waktu itu saya merasa seperti bersembunyi di balik awan. Saat, mungkin di sana, orang ramai bertanya, Lingga ke mana, saya sudah menghilang entah ke mana. Seorang teman mengirimkan sms bertanya keberadaan saya

“di balik awan hitam” hihi karena waktu itu, lagi terngiang-ngiang lagunya peter pan

Yup, di balik awan, bersembunyi. Ketika itu saya merasa salah jalan, salah mengambil arah. Saya pikir saya salah karena telah mengorbankan kenyataan yang telah terjadi untuk satu mimpi yang belum pasti. Mengambil resiko untuk melepaskan kesenangan yang sudah Allah beri. Ampuuun gusti, bukan aku tak puas, tapi aku hanya ingin menemukan diriku yang belum jua ku dapatkan.

Aku bersembunyi di balik awan, kala itu. Saat sms-sms berdatangan menghujatku. Mengapa begitu mendadak? Mengapa begitu terburu-buru. Ada apa? Apa yang terjadi? Aagh… maaf.

Kau tahu? Kadang aku ingin sekali menunjukkan pada kalian duniaku yang aneh ini. Yang tidak dapat dijelaskan dengan huruf-huruf a-b-c, terangkum menjadi kalimat-kalimat manis membela diri. Aku ingin, tapi sulit sekali. Kalian tidak akan mengerti apa yang ku rasa, mungkin binar mata dan keceriaan selalu merias hari-hariku, mungkin cerita-cerita tentang kelas sering meluncur di mulutku. Tapi perasaan itu tak bisa ku ungkapkan semudah aku tersenyum, semudah aku menangis karena kelaparan (halah!).

Suatu saat, kalian akan mengerti. Bukan, bukan karena keburukan tempat itu. mungkin benar kata seseorang, bahwa ketenangan itu datang dari hatiku sendiri. Ketika aku tidak tenang, berarti kesalahan ada padaku. Aagh, bukankah kita selalu hobi menyalahkan orang lain. Dan kali ini aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Aku mengaku salah, jarang sekali kan itu terjadi? Akulah yang salah, karena aku tidak dapat menemukan ketenangan itu.

Do’akan jalanku. Tenaang, aku tetap di sini, di jalan cinta ini, walau berduri. Walau mungkin tak bersama kalian lagi.

Advertisements

6 thoughts on “Di Balik Awan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s