Wisata Senggoling 6 – Bromo, Mengejar Matahari

Bromo, gunung wisata satu ini menjadi salah satu tujuan Wisata Senggoling #1. Dari Malang kami berangkat jam satu dan sampai di Probolinggo sekitar jam 5. perhitungan kami sebenernya jam segitu masih dapat mobil menuju Desa Cemorolawang, Bromo. Tapi ternyata, mobilnya masih ada sih, cumanya gak ada penumpang, tinggal saya berdua dengan Eling.

Kami memutuskan untuk menunggu sampai malam. Kata si pak sopir, biasanya kalau malam akan anda rombongan lagi yang datang.

“tapi itu biasanya loh mbak, gak bisa dipastikan”

Well, si Bapak menetapkan untuk menunggu sampai jam 2 pagi. Kalau jam 2 tetap gak ada penumpang yang datang lagi, si mobil akan tetap mengantarkan kami, tapi dengan konsekuensi, kami membayar dengan harga sewa, yaitu 200 ribu. Weleeeh…. tapi karena kami tidak perlu menginap (nyampe sana langsung mengejar sunset), jadi ya sudahlah…

Semalaman saya dan Eling hanya menunggu di salah satu warung. Untung makanannya murah-murah, walau gak senikmat makanan di warung nasi padang (halah), tapi yang penting kan murah. Jadi si perut merasa bebas untukbolak-balik kelaparan. (hihi… saya makan 2 kali dalam satu malam, minum? tak terhitung).

Sampai jam dua, mata saya benar-benar ogah untuk tidur (lagian mau tidur di mana). Alhamdulillah waktu terasa berjalan lebih cepat, dan akhirnya “We are Coming Bromo”.

Sesampai di Cemoro Lawang, kita nyambung naik ojeg. Bukannya gak mau jalan, tapi gak kepikiran… hehe, abis ceritanya kan kecapekan gak tifur malamnya (halah). Sampai ke titik harus berjalan atau… naik kuda. Para penuntun kuda bersarung mengejar-ngejar wisatawan termasuk kami, harganya dari 100ribu dibanting sampai 25rb. Ya, pengen sih, tapi mendingan jalan menanjak daripada naik kuda menanjak (hahaha… padahal gak ada duit).

Sampai di pucak Gunung Pananjakan, wooww… kami termasuk yang paling awal, jadi bisa dapet spot paling mangtabz buat nongkrongin sunrise. And ya, that was the first time for me to see such a beautiful life (sunrise terindah kedua setelah Grand Canyon’s). Si Eling sibuk foto-foto (saya juga sih ganti-gantian). Iri rasanya melihat segank pemuda yang heboh foto sana-sini. Berdua ternyata tidak seseru itu.

Penjual edelweiss bersarung menjajakan dagangannya. 10 ribu saja, saya pikir tidak mahal, tapi waktu itu kami benar-benar harus menghemat, karena perjalanan yang dimulai di akhir bulan harus bertemu dengan masalah keuangan (haha). Walaupun cuma sepuluh ribu, tidak tidak tidak. Persis akhir bulan (30 Juni) saat kami ada di puncak Gunung Pananjakan, memandang kabut asap yang menyelimuti puncak bromo menghilang seiring matahari yang meninggi.


Kemudian kami menuruni puncak Pananjakan menuju lautan pasir dan Bromo. Naik ojek lagi, hehe… dasar cemen, ya sudahlah ya… sampai di titik parkir kendaraan, kami pun berjalan kaki melewati Pura yang digunakan Suku Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada (pak ojek promosi suruh balik lagi bulan Oktober), menuju pucak bromo yang tangganya sudah tertutup pasir about 2 meter tebalnya. Huwaaa… mengerihkan juga ternyata, sampai akhirnya bisa mengintip dapur Bromo yang mengebul-ngebul, subhanallah yaaa… jadi merasa lebih kecil dari butiran pasir.

Selanjutnya, bernyanyi-nyanyi melewati savana… aaah… pengen balik lagi someday, tapi gak naik ojek deh, emmmm naik jeep (hahahaha sami mawon kali yee… jalan kaki dong!)

Advertisements

10 thoughts on “Wisata Senggoling 6 – Bromo, Mengejar Matahari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s