A Little about Bandar Lampung

Berada di Lampung, sedikit mengobati kerinduan saya pada kota Bengkulu. Suasana jalan sepanjang bandara menuju penginapan persis Bengkulu, bedanya sepertinya Lampung lebih luas dan sedikit lebih ramai.

Lampung, adalah provinsi paling selatan Sumatera, pintu gerbang ke pulau Sumatera. Karena posisinya paling dekat dengan jawa, jadi naik pesawatnya bentaran banget (hehe), perasaan baru naik udah disuruh turun lagi *_*. Nggak nyampe 45 menit perjalanan udara dari Cengkareng ke Tanjung Karang.

Sesampai di Bandara Radin, saya langsung memperhatikan orang-orang di sekitar, logat dan bahasa mereka, menarik, rada kebatak-batakan gitu deh. Geh, adalah satu ekspresi yang sering terdengar. Saya nggak tahu apa persis artinya. Tapi mungkin artinya sama dengan deh, dong, dll. Contoh pemakaiannya begini nih, “Perginya sekarang aja geh..”

Bahasa daerah jarang terdengar di kota Bandar Lampung. Mereka memakai bahasa Indonesia tapi dengan dialek yang khas. Emmm… perpaduan melayu, batak plus Jawa ( ini menurut saya ya). Sama seperti kota Bengkulu, di kota Bandar lampung, sepertinya lebih banyak pendatang (transmigran dari Jawa yang paling banyak) daripada penduduk asli. Jadilah bahasa asli lampung-nya jarang sekali terdengar.

Hanya sekali saya mendengar percakapan dalam bahasa Lampung, saat berada di pinggiran kota, percakapan tawar menaawar antara bapak guide dengan penjual durian (nyummy). Agak terlalu cepat untuk diikuti (hehe), jadi no comment aja deh 😛

Posisinya yang cukup dekat dengan laut, membuat kotanya menjadi cukup panas, walau tidak sepanas Bengkulu saya rasa, apalagi Subang kota. Tapi lumayan bikin kepala kliyeng-kliyeng ketika harus menyusuri jalanan di siang bolong (sok sok nyari oleh-oleh sendiri). Waktu itu saya dan satu rekan saya pergi berdua saja mencari oleh-oleh khas lampung. Dari penginapan kami naik TransLampung, agak bingung saat melihat haltenya, naiknya lewat mana? *_*. Ternyata, memang belum ada halte khusus, jadi pemberhentiannya bisa di mana saja. Pintunya pun masih memakai pintu depan sebelah supir. Dan saya pikir translampung masih belum diperlukan, angkot saja masih cukup memadai untuk transportasi di kota ini, soalnya busnya juga terlihat begitu banyak, sedang penumpangnya masih sangat sepi.

Mengenai oleh-oleh, di lampung itu terkenal dengan kripik pisangnya, dengan segala rasa, dari mocca sampai rumput laut. Perburuan kami hanya berujung di satu toko oleh-oleh yang menjual berbagai macam kripik, ya hanya kripik saja. Soalnya, tempat kami berburu memang berlabel “Sentra Oleh-Oleh Kripik Khas Lampung”, jadi bener-bener dari ujung gang ke ujung gang, jualannya cuma kripik doang *_*.

Sebenarnya, Lampung seperti halnya daerah-daerah di Sumatera lainnya, terkenal dengan kopinya yang memiliki cita rasa luar biasa. Tapi karena waktu kami terbatas, tidak sempat lagi berburu kopi lampung.

Di sepanjang jalanan kota saya juga melihat banyak sekolah, untuk ukuran kota yang terlihat damai itu, sekolah-sekolah yang ada cukup luar biasa. Ada beberapa sekolah berlabel international school, dan sekolah-sekolah IT serta sekolah yang berlabel global dan Sekolah (negeri) Bertaraf Internasional.

Belum ada kesempatan untuk mengeksplor kotanya lebih jauh. Karena dari hari pertama sampai terakhir sudah ada agenda sendiri. Dari tes PMB (pagi samoe maghrib) sampai silaturahim ke sana ke mari lalala.

Sebenarnya ada satu bagian menarik dari perjalanan ini. Pantai Mutun namanya… yeyeyeach. Next ya… it’s so so amazing to tell you.

Advertisements

7 thoughts on “A Little about Bandar Lampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s