Setengah Dien Saya

Ia berbisik “iya kan? Tuh perhatiin, sejak nikah telat mulu, ngantuk mulu” Katanya, saya hanya meringis, ahhh lebih tepatnya tertawa, menertawakan entah apa.

Sudah lumrah sepertinya, ibu-ibu terlambat. Menjadi alasan yang tepat atau lebih tepatnya ditepat-tepatkan untuk terlambat; menikah, punya anak kecil, anak bayi dan sejenisnya (hussh). Begitu juga dalam kepanitian, struktur, ibu-ibu selalu dikasih porsi tugas yang berbeda dengan jombloer-jombloer.

Tapi benar kata teman saya itu, kenapa ya? Setiap pernikahan sering merubah seseorang (in this case people around her oh around me) menjadi “tidak begitu” bisa “diharapkan”. Rasanya bisalah dikatakan “selalu”. Ok, terlalu ekstrim memang, semoga tidak ada yang protes, aamiin. Lalu kemudian, bila ia terkesan sinis saat mengeluhkan kinerja seorang partner yang jadi turun sejak menikah, yang jadinya suka terlambat, yang jadinya suka ngantuk, dan tidak memenuhi tugas sesuai deadline membuat semuanya jadi dilemma buat saya, ikutan sinis atau sinis tapi bukan karena ikutan. (apa sih?).

Menggenapkan setengah dien bersama seseorang disana yang kita sebut jodoh, oh siapa sih yang nggak mau? Tapi mata saya terlalu lebar terbuka untuk melihat semua yang dikatakan teman saya di atas tadi. Itu kenyataan yang banyak terjadi, tak cuma satu dua. Saya membayangkan kalau semua di kantor itu sudah menikah, apakah tidak ada lagi yang bisa diharapkan (ooops).

Lalu apakah kesinisan itu mengantarkan akhwat single ini pada keinginan untuk tidak menikah?

“dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri daari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kalian rasa kasih dan sayang” (QS:Ar-Rum: 20)

Hemmm… jika menikah adalah setengah agama, sebelum ia datang, optimalkanlah setengah agama yang lain. Saya pikir semua tergantung orangnya, tapi entahlah, siapa sih yang tahu nanti. Jadi, selagi belum menikah dan belum punya alasan untuk terlambat dan tidak ikut apel jam 7 pagi, untuk menolak amanah yang menuntut cukup waktu, untuk mengoptimalkan Lesson Plan dan membaca, mari kita optimalkan semuanya , optimalkan setengah agama ini hingga saatnya setengah agama yang lain datang.

Semoga fase genapnya setengah agama itu nanti tidak merubah semua ini, bahkan menjadikan semuanya lebih indah, lebih baik, lebih sempurna, lebih tenteram, lebih kasih dan sayang. Dan jika pun kondisinya tak seindah yang diharapkan, mungkin just roll with the punches

*When life tries to knock all the wind out of you
you’ve got to roll, roll, roll with the punches
if all life offers is black and blue
you’ve got to hold, hold, hold your head up high
when life tries to knock all the wind out of you
you’ve got to roll, roll, roll with the punches
if all life offers is black and blue
you’ve got to roll, roll, roll with the punches. (lenka)

Advertisements

20 thoughts on “Setengah Dien Saya

  1. luvummi says:

    Idealnyah pernikahan itu membuat kita menjadi lebih baik.. Maka dari itu harus hati2 juga dalam memilih pasangan.. Banyak faktor kenapa yang dah nikah jadi loyo dalam dakwah, dkk.. Misal suami yang kurang mendukung atau balik lagi ke diri kita sendiri.. Ujian kan emang dateng dari anak dan suami..

  2. adamdesign says:

    menatapmatahari said: @moeswhat?@adamdesignmakasih om, gak sempat ngabar2in -> [pasti baca judulnya doang, orang ngomongin setengah agama yg lain juga]

    baca kok, sempet kecele hehe

  3. menatapmatahari says:

    luvummi said: Idealnyah pernikahan itu membuat kita menjadi lebih baik.. Maka dari itu harus hati2 juga dalam memilih pasangan.. Banyak faktor kenapa yang dah nikah jadi loyo dalam dakwah, dkk.. Misal suami yang kurang mendukung atau balik lagi ke diri kita sendiri.. Ujian kan emang dateng dari anak dan suami..

    saya pikir juga begitu jeung

  4. lollytadiah says:

    menatapmatahari said: Tapi benar kata teman saya itu, kenapa ya? Setiap pernikahan sering merubah seseorang (in this case people around her oh around me) menjadi “tidak begitu” bisa “diharapkan”. Rasanya bisalah dikatakan “selalu”. Ok, terlalu ekstrim memang, semoga tidak ada yang protes, aamiin.

    Saya protesssssssssss….:D

  5. yudairza says:

    semua tergantung pribadi masing2, tapi memang terkadang ada saat yg membuat kita*saya tdk bisa tidak harus terhambat utk on time karena sesuatu hal di rumah, #tdk selalu..pengertian dr suami jg sangat mempengaruhi kinerja.. #syukurlah, punya suami yg mau mengerti..

  6. menatapmatahari says:

    yudairza said: semua tergantung pribadi masing2, tapi memang terkadang ada saat yg membuat kita*saya tdk bisa tidak harus terhambat utk on time karena sesuatu hal di rumah, #tdk selalu..pengertian dr suami jg sangat mempengaruhi kinerja.. #syukurlah, punya suami yg mau mengerti..

    okay mbak :)thankz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s