Smile, I’m in Love

Jatuh cinta pada seorang bule Amerika? Belum pernah terpikir sekalipun oleh Alin. Mana mungkin? Selama ini sosok cowok keren dalam penilaiannya tertuang pada artis-artis idolanya sejak remaja, nggak ada tuh yang blasteran. Donny Damara. Risky Hanggono, Fedi Nuril, atau Dwi Sasono, dia kan nggak suka bule’.

Ohw I’m sorry about that” Seorang African American baru saja menabrak Alin yang terbengong-bengong oleh sosok di depannya itu. Bukan karena wajahnya, atau pesona fisiknya, walau ia pun tak bisa memungkiri bahwa orang besar yang baru saja menabraknya itu sangat manis. Seorang negro dengan perawakan tinggi kerempeng. Mungkin besarnya sama dengan Michael Jackson. Mata yang jernih dan teduh, itulah yang membuat Alin terpesona.

“Oooh… it’s okay”. Ia menunduk salting saat menyadari ekspresi terpesonanya tidak ia sembunyikan dengan baik. Sepatu yang baru saja ia kenakan seadanya hampir lepas. Rencananya ia akan mengencangkan tali sepatunya sambil duduk di bangku sekitar 2 meter dari pintu keluar Islmic Center.

Huuufh seharusnya gue gak lewat sini, gila aja, ini kan pintu cowok. Abisnya kelanjur masuk lewat sini sih, tadi kan masih sepi. Lagian peraturannya gak seketat di masjid kampus gue book. Fffiuh…. Eh kemana si abang tadi.

Sang bule ternyata sudah menghilang saat Alin tersadar dari keterpesonaannya. Alin sedikit kecewa, Ia pun menyeret sepatu kremnya dan duduk di bangku sebelah kaktus raksasa. Ia mengeratkan ikatan tali sepatunya sambil menyapu sekeliling Islamic Center yang cukup ramai oleh mahasiswa-mahasiswa muslim beraneka warna yang ingin menunaikan solat Ashar.

Tiba-tiba perutnya yang melilit mengingatkannya bahwa hari ini ia belum makan sama sekali. Belum sarapan dan tidak makan siang. Kelas speaking jam empat memang digantikan oleh kegiatan lain yaitu mewawancara lima mahasiswa University of Arizona tentang dampak  krisis ekonomi global yang juga menghantui Amerika. Alin malah mengambil kesempatan itu untuk berleha-leha solat ashar di Islamic Center. Selama ini ia solat selalu di kejar-kejar waktu. Tergesa-gesa tanpa bisa menikmati hafalan ayat-ayatnya di solat, hanya mengulang surat-surat pendek yang itu-itu saja sangat merugikan baginya. So, kesempatan emas itu tidak disia-siakannya, sedikit mangkir.

Alin mengambil notenya dan melihat catatan pengeluarannya satu minggu ini. Dan hasilnya tidak begitu buruk seperti minggu lalu. Rasanya tidak begitu boros jika hari kamis ini ia sempatkan lunch di warung makan Arab yang ada di Islamic Center. Perbaikan gizi ini ia lakukan paling tidak satu kali seminggu.

Dengan semangat ia berjalan menuju ke arah belakang Islamic Center, masuk lewat pintu belakang, sang Arabian penjual nasi Arab alias nasi kebuli itu tersenyum padanya. Bapak bertubuh besar brewokan itu memang sepertinya sudah hafal pesanan Alin, tanpa menunggu Alin mengatakan apa, ia telah mengemasi nasi berlemak super itu dengan ayam yang potongannya sangat besar untuk si mungil Alin. Alin tidak pernah berminat untuk menghabiskannya satu kali makan. Porsi makan orang Arab yang sangat besar bisa untuk jatah dua kali makan Alin, full tanpa space di perutnya lagi.

Kebiasaaan Alin memperhatikan sekitar selalu cocok dengan aktivitas makan. Sambil makan matanya mulai jelalatan mengelilingi kantin itu. sesekali muslim Amerika yang kebanyakan orang Arab dan keturunan Afrika mondar-mandir di sana. Beberapa menyapa gadis manis itu, beberapa berlalu tak peduli, sampai akhirnya.

Weeeeiiih… dia lagi…astaghfirullah istighfar Al, istighfar….

Negro yang tadi ia tabrak ternyata juga mau makan di kantin itu. ia membeli nasi kebab.

Mata Alin sesekali melirik ke negro manis itu,

Huwaaa…. hati hentikan debaranmu.

Alin melanjutkan makannya, sang brother negro pun terlihat khusyuk dengan makanan yang ada di depannya.

Apa sih lu heart!! Pake berdebar-debar segala… siapa dia juga lu gak tahu…. Tapi iya sih…matanya teduh banget. huhu… dia mesti gak perlu pake kaca mata item sesilau apapun Tucson di siang hari. Matanya dah teduh banget gituh… ooh Alin… stop your nothingness…

Setengah dari makanannya telah membuat Alin kenyang bukan kepalang. Konsentrasinya kurang hingga ia lupa untuk berhenti sebelum kenyang. Alin menutup styrofoam pembungkus nasi. 1 minggu pertama di Tucson ia sangat berhati-hati dengan segala hal buruk orang Amerika. Semisal Styrofoam yang begitu umum dipakai dimana-mana sebagai pembungkus makanan. Bukan hanya di retail-retail makanan instant, Styrofoam bahkan umum digunakan di kehidupan sehari-hari oleh ibu rumah tangga, untuk piring, sendok, gelas. Tapi itu dulu, seiring waktu, Alin mulai tidak peduli dengan itu. Ia asyik saja makan dengan kemasan yang bisa berakibat fatal pada kesehatannnya itu. Di negara  yang serba otomatis, lebih praktis lebih baik, pikirnya. Yaah… dan tak heran bila berat badannya minggu ini naik lima kilo menjadi lima puluh.

Tak disangka-sangka. Kakinya malah melangkah ke meja dimana sang negro duduk.

Berani berani… berani… bukan bukan karena pesonamu bro… teng teng teng

 Sang negro memang telah selesai melahap makanannya saat Alin semakin dekat menuju mejanya.

“Assalamu’alaikum” Alin sedikit membungkuk hormat. Dari ujung kanan meja. Sedang brother itu tadi di sebelah kiri meja. Ia agak terkejut, baru saja mengelap mulutnya dengan tissue, dan mendongak melihat Alin yang menundukkan pandangannya.

“Wa’alaykumusslam… can I help u?” tanyanya.

“ I’m a student of CESL. saya ditugasi untuk mewawancarai lima siswa UoA. Pertanyaannya tidak banyak, hanya lima saja. Saya harap saya tidak mengganggu anda”

“ Off course not, and fortunately I’m still a student of UoA,” katanya. Ia tersenyum. Saat Alin sibuk membuka tas dan mencari notesnya, datang seorang pemuda Arab yang membawa bungkusan makanannya. Duduk di sebelah negro itu bersalaman dan mengobrol sejenak.

“Dia ingin mewawancarai lima mahasiswa UoA, dan aku salah satu yang beruntung itu”

“ Oh ya?? saya juga mau diwawancarai…” kata si Arab ngarep. Alin tersenyum… pucuk di cinta ulam tiba. Kalau dua orang kan dia bisa lebih nyantai.

Ya, I’ll interview both of you” Alin mulai blingsatan mencari notenya tadi, hingga akhiranya ia menemukan notes kecil berwarna pink yang selalu menemaninya ke mana-mana.

Interview berjalan cukup menyenangkan. Dua teman baru Alin itu ternyata mempunyai sense of humour yang klick dengan Alin. Membuat Alin nyaman dan benar-benar mempraktekkan bahasa inggrisnya dengan percaya diri. Yah, karena orang Amerika itu mendengarkan dengan baik, dengan antusiasme dan respek yang luar biasa.

Namanya Dave, ia berasal dari Hawaii. keluarganya tinggal di Honolulu, Hawaii. Dave kuliah sendiri di Tucson, Arizona. Krisis global yang berdampak pula ke Amerika cukup membuat Ia kepayahan membiayai kehidupan sehari-harinya. Dave beberapa kali kehilangan pekerjaan part-timenya karena toko tempat ia bekerja harus gulung tikar. Ya, Alin juga memperhatikan toko-toko di sepanjang kota Tucson yang tidak begitu ramai. Toko-toko baju, restoran, toko buku di sepanjang sixth ave, semua sepi, sesepi Tucson. Walaupun Wall-mart dan Frys tetaplah ramai dikunjungi karena murahnya harga barang-barang di super big market itu dibandingkan dengan toko-toko kecil lain.

Dan pemuda Arab yang datang menghampiri mereka tadi bernama Machmoud. Dave dan Machmoud bercerita tentang budget pendidikan yang berkurang 60% dari UoA untuk mahasiswanya. Tinggal 40%, jadi mereka harus membayar buku lebih mahal, dan semua ini tentu membuat biaya kuliah yang harus mereka tanggung menjadi berlipat-lipat dibanding sebelumnya.

Alin mencatat dengan seksama, sejenak menyingkirkan keterpesonaannya pada mata teduh Dave. Tapi tetap saja ia mempesona, karena senyum ini diiringin dengan jawaban-jawaban tanpa keluhannya atas pertanyaan-pertanyaan Alin. Machmoud? Machmoud tak mengeluh juga, tapi senyumnya kalah menawan, karena ia mahasiswa dengan beasiswa penuh dari pemerintahnya.

******

Alin mengetik bahan interviewnya. Sambil senyum-senyum sendiri membayangkan senyum ikhlas Dave. Openingnya cukup menarik untuk dibaca

In life, we can’t know what the best for us, till we try to do everything in front of us. This is what he said, a man named Dave. He is not as handsome as Ben Affleck, Keanu Reeves, or Brad Pitt. But he’s my Will Smith. Oh Goodness. Do you know what he told me about the impact of Global Crisis of him. He said all the things which u also got from your object, yeach… but what make hime different with others is his smile, what in my religion called Ikhlas.

Hingga ia sadari openingnya sangat-sangat tidak ilmiah. Bolak-balik menghapus apa yang ia ketik, dia benar-benar berambisi untuk memasukkan kata his smile sebagai main idea di salah satu body paragraphs.

The five students I interviewed had same answers for the questions I asked, but only Dave who answered it with smile, unforgettable smile which express the willingness of thanks to god for whatever he gave to him.

“Smile that makes me fall in love with him, one of five… five?” gumam Alin

Five? Alin tersadar ia hanya sempat mewawancarai dua mahasiswa.

 Bengkulu, 27 Juni 2009

Advertisements

4 thoughts on “Smile, I’m in Love

      • yantist says:

        yang bahasa Inggris q skip bacanya, maklum ga mudeng :p
        ntar kursus gratis sama Bunda Lingga yaa bahasa Inggrisnya… :)))

        Tapi untuk setting udah kerasa dapat kok, deskripsinya juga. Aq langsung ngebayangin makanan org Arab yang porsinya gede2an itu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s