Saatnya si Gendut Untuk Diet

“Bun, aku mau bilang sesuatu” Afra tiba-tiba menghentikan langkah saya pagi ini menuju sekolah.

“Apaan?”

“Bunda gendutan…”

“Afra jahhhaaat…”

Hah, sekelumit dialog  pagi dengan seorang murid yang tinggi dan langsing. Pffhhh… iya sih, kerasa emang, saya sekarang tambah susah gerak, duduk nggak enak, jalan berat, jadi tambah suka tidur, karena mungkin keberatan badan. Ahhh tidaaaak…

Life style, itu mungkin yang bikin saya begini. Dulu saya nggak suka ngemil, karena yag ada dalam benak saya, ngemil cuma bikin perut ga enak, eneg, and nggak selera makan nasi lagi. Sekarang? Hidup tanpa camilan bagai dunia tanpa lagu. Rasanya sepi kalau nggak nyetok cemilan di rumah.

Dan, itulah gaya hidup yang membuat banyak wanita suffering from big body, dan Oh God oh God, saya termasuk satu dari berjuta-juta wanita di dunia ini yang sekarang menderita karena hal tersebut. Ya Allah, aku rindu skinny bodyku yang dulu, yang orang bilang kerempeng kayak kurang makan. Tapi dengan dirinya, aku dapat menjadi lingga yang lincah dan lucu (huweeek)

Gw Kerempeng

Shortcut, adakah shortcut untuk kurus? Ada! Typhus. Dulu, waktu saya SMA, typhus merenggut pipi chubby saya. Merenggut daging saya 5 kilo. Woooww…. tapi penderitaannya emang luamanyan sih. Lagian typhus bukan jalan yang bisa diambil dengan mudah. Itu kan penyakit, gimana caranya supaya sakit gimanah hahhh?? Astahgfirullah atuh ustadzah….

Tapi alhamdulillah, sepertinya ada satu jalan yang baik untuk dicoba. Yaitu mempersering makan tapi mengurangi porsinya. Satu hari 5-6 kali, hal ini bisa menjaga perut dari rasa lapar. Seperti pesen Rasulullah makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang.  Dan itu lebih baik karena menurut Dr. Leane Suniar M.Sc (yang gw baca di satu artikel), jika sebelum perut kita kosong ia telah terisi lagi, penyerapan dalam proses pencernaan menjadi rutin. Hal itu bisa mengecilkan lambung… hurrayy!

Hemm, hanya saja, porsi yang dimakan harus sama dengan porsi makan kita kalau 3x, jangan sampai lebih. Dan yang perlu diperhatiin juga, asupan protein dan serat. Itu dia yang susah buat orang yang percaya bahwa makan sayuran itu rasanya kayak makan rumput. Hayo siapa yang ngganggep gitu?? *Gw nggak yaak! -> nggak salah lagi

Dan insyaallah, saya akan menerapkan makan sering mulai hari ini. Hehe, jadi sarapan tadi saya makan 3 kali, makan siang saya makan 3 kali. Semoga ntar malem nggak laper, jadi nggak usah makan lagi. Lumayan sih, jadi nggak perlu ngemil kalo gini, udah gak sempet juga. Soalnya harus makan 6 kali. Yaiyyyy…. Dan saya juga berusaha untuk mencoba lebih banyak varian sayur (walau belum suka kacang-kacangan, buncis-buncisan, labu-labuan, wortel-wortelan, daun-daunan… terus sayur apa coba yang gw mulai makan? :P)

Rencananya mau tambah aktivitas olahraga, tapi gak janji ah. Mungkin bisa lari-lari aja yak tiap hari dari rumah ke sekolah. Dari gedung SMA Putri ke SMA putra, dan sebaliknya dan sebaliknya. Yah… baiklah sebegini saja postingan tentang berat badan hari ini. Semoga selalu istiqomah di jalannya… Semangat Linggaaaaah… 🙂

Test Pack

“Test pack…!” Ide yang buruk itu saya cerna dengan lebih buruk lagi. Kemungkinan film berjudul TestPack adalah tentang sesuatu yang harus dites sebagai hasil dari usaha sesuatu yang sesuatu. Hah! Tapi sepatah-patah kata dari the recommender membuat saya berpikir “Testpack kan adalah sesuatu yang dipakai untuk mengetahui sesuatu yang dalam hal ini adalah kehamilan. Terus? Ya udah so what ling so what? what’s wrong with pregnancy? Setiap wanita yang udah menikah pasti akan pake nih testpack buat ngetes kehamilannya… “. Terusnya saya pikir the idea was not as bad as what i thought. Dan kami pun menerima ide teman saya. Ditraktir oleh teman yang lain, dan film yang ditonton berjudul Testpack. (Untuk yang gratisan, ya sudahlah…!)

Sebenernya, saya udah baca sedikit review tentang film ini beberapa hari yang lalu, dan kesimpulan saya waktu itu saya nggak akan nonton film ini di bioskop. Seperti ketika pertama kali lihat novelnya (film ini diangkat dari novel yng denger-denger best seller) langsung memutuskan untuk tidak membacanya. Karena sesungguhnya, saya mengakui bahwa saya agak kolot masalah memilah-milah bacaan. *_*

Dan ada apa dengan film yang dibintangi Acha Septriasa dan Reza Rahardian ini?? Ada Oon yang jadi dokter ahli kandungan yang in my opinion beneran oon. Hahh, sorry to say that, but it’s true. Dokter kandungan yang banyak menggunakan kata-kata yang tidak ilmiah dan gak penting untuk diucapkan oleh seorang dokter kandungan, and it really disturbed my mind. Ada adegan-adegan syuuur dari Acha yang bikin gw malu, tutup mata, puter badan ke belakang, terus merengek-rengek ke the girl next to me to leave, but she kept watching gak mau keluar. Baiklah…. Sejujurnya saya juga rada penasaran ama jalan ceritanya. Begini ceritanya…

Testpack berkisah tentang Akang dan Eneng (Acha dan Reza), pasangan muda yang sudah menikah tujuh tahun dan belum juga dikaruniai anak. Then, testpack-testpack pun muncullah di film ini, ketika si Acha atau di filmnya, kalau nggak salah, namanya Tata bolak-balik ngecek whether dia hamil or not . Dan hasilnya selalu saja, negatif. Di sanalah mulai muncul konflik film ini… emmm… terus lalu hai hai cape ah, kalau udah terlanjur baca sampe sini, silah search reviewnya di site lain… :P, i dont wanna talk about it… haha

Dokter ahli kandungan di sini seharusnya jadi karakter kuat yang gak semestinya dijadiin komedi dari film ini (dari nama dokternya yang menjijikkan dan banyak lagi banyak lagi banyak lagi). Cuma bikin nih film jadi murahan dan nggak lucu. Begitu juga adegan-adegan syur si Acha yang sexy belebih gak karuan. Kalau saja scene-scene di rumah mereka (Acha dan Reza) dibikin biasa aja, kalau saja dan kalau saja, mungkin saya akan setuju dua belas sama yang dikatakan oleh teman saya, sang biang kerok dari eksistensi kami di teater 3 BIP kemaren sore jam 3 itu. Dia bilang begini…

“Filmnya bagus sih, pendidikan itu! Untuk persiapan pernikahan”

Yeeehh, iye-iye, karena ada satu quote yang so sweet yang saya tangkap dari film ini. Saat si Akang dan si Eneng menikah. Si akang bilang “Apa adanya kamu akan melengkapi aku”. Ya, itulah pernikahan, seharusnya setelah menikah kekurangan-kekurangan pasangan kita nggak bikin kita meninggalkan dia. Belum dikarunian anak bukan berarti membuat kita berhak meninggalkan pasangan kita . Seharusnya kita…. (cukup ling cukup!! jangan sotoy! woi woi cukup!). That’s all, selebihnya… I dont wanna write anything else (hakz)

Baiklah sekian randomness tak berguna ini… Aktivitas weekend ini memang membuat saya semakin random… hahh!!

Teh

“Linggaaa, kami lagi minum teh berdua, kami bahagiaaaa banget. So, kamu kapan nyusul? Buruan….!!”

Begitulah, sedikit kebahagiaan pernikahan bagi teman saya yang baru saja menikah. Karena memang dia nggak pernah pacaran kali ya? Jadi hal simple begitu menjadi sesuatu banget buat mereka.

Tapi bahagia memang sederhana, sesederhana teh celup dan 2 sendok teh.

Pagi ini pun aku bahagia, teh yang ku seduh ku bawa ke sekolah. Menatap wajah-wajah murid-murid yang apel di lapangan, membersamai mereka menjalani hari-hari yang warna-warni. Menghirup teh manis di meja kerja, menyiapkan kelas hari ini. Bahagia…

Mungkin nanti bila bersamanya akan bahagia juga, tapi sesungguhnya, kebahagiaan sederhana yang ku miliki pagi ini, tak terbandingkan. Alhamdulillahirobbil’alamiin

New Teacher

“You’re lucky, you should not stuck on me, you’ll get more from the new teacher” Saya selalu berusaha untuk meyakinkan anak-anak bahwa guru baru is okay.

Yup, ba’da libur lebaran saya harus menjadi guru baru lagi, karena suatu dan lain hal saya harus rela meninggalkan anak-anak kelas 11 putri yang sudah PW diajarin saya, dan saya sendiri sudah PW ngajarin mereka. But this is life, goes on.

Meninggalkan kelas 11 adalah meninggalkan the most comfortable zone i’ve ever had. Murid-murid yang sudah benar-benar mempercayai saya, dan rela untuk diajarkan oleh saya. Sangat mudah membawa sesuatu yang baru ke kelas 11 putri karena murid-muridnya yang sangat kooperatif dan antusias. Tapi comfort zone memang tidak seharusnya lama-lama, saya harus move on.

Sebelumnya, saya sempat berpikir bahwa kelas 11 putri belum terlalu comfort untuk ditinggalkan, masih banyak yang harus saya benahi. Tapi kemudian, tahu apa saya? Allah lebih tahu segalanya, maka di sinilah saya terseok-seok lagi belajar kembali beradaptasi dengan murid-murid kelas 12 putri (yang sangat UN oriented) dan kelas 11 putra (yang you knowlah). New challenge, insyallah can grow me stronger.

Tinggal kesedihan meninggalkan murid-murid kelas 11 putri dengan pandangan mereka yang salah tentang guru baru.

“Kenapa harus kami sih bun yang dikorbankan? Kenapa gak anak putra aja yang diajarin guru baru? Kenapa nggak anak kelas 12?”

“Tak ada yang terkorban” Jawab saya singkat, rasanya ingin marah, who are you to say that? you think i was not a new teacher when i started this all??

Hijaber Style

Sekarang lagi heboh banget hijaber community ya kan? haaa… alhamdulillah, hijab jadi semakin populer, walau kadang rada serem juga sih lihat gaya para hijaber ini, meuni repot pisan, jadi gak nyaman aja. Gw sebagai jilbaber jadi binun, pengen bahagia apa sedih ngelihatnya (loh?)

Ahh, as long as syar’i and gak mencolok banget, why not?

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (jilbab)nya ke dadanya”. (QS. An-Nur : 30-31)

Tapi ya sudahlah, udah fitrah cewek pengen selalu tampil repot eh cantik. Kayak ini nih…

Hijaber-Hijaberan

Wkwkwk… abis main hijaber-hijaberan bareng anak-anak rumah 😛

Arroyan 9

yang menyatukan kita adalah perut
saat lapar dan kompor menjadi sumber inspirasi, masak apa ya?
yang menyatukan kita adalah solat
berjamaah setelah sibuk masing-masing
berdo’a masing-masing
dan kemudian
berbicara lagi, bercanda lagi, berbagi lagi, dinding-dinding ruang tengah atas menemani

aku bahagia, terima kasih Allah
untuk anugerah house-mate yang baik hati.

 

All We Ever Do Is Say Good Bye

Today, again, i have to pretend that i’m okay. Saying good bye to my students isn’t easy, actually. Even though i still meet them everyday, but still, i can’t  teach them in class anymore. Yeach, i have to say good bye to the eleventh grade girls because of the twelfth graders. Though i still teaching here, it becomes something for me, not teaching them the nicest students i’ve ever had.

But, life goes on. You cant stuck on a point just because you love it so much, or you love it the most. There’s a life sequence you have to go through. Allah knows the best.

Ah, too melancholic… Stop it. Now, please welcome the twelfth grade girls, hello again. I hope we can work together to the National Exam target, and you can be the next nicest students i’ve ever had.