a Voice in Heart: You know ling? you’re getting married on Sunday, it’s less than a week from now.

Ling  : Aaaaagh… life is a dream, and we are the dreamer. I’m just aware of it right now, as my heart started beating up faster than days before. Seriously, still, i can’t believe this. Like… should i be going crazy now? Should i be stressed… should I should I?

Your Journey To Be Ultimate You (Review)

Hal yang membuat saya tertarik memiliki buku ini agak nggak penting sebenarnya, saya suka sama stiker-stiker foto instagram yang disediakan untuk ditempel sendiri sesuka kita di setiap opening chapter. Ya, itu yang paling saya suka dari buku ini, haha. (And gue udah selesai nempel-nempelin semuanya 2 hari yang lalu, hahay)

Buku yang ditulis Rene Suhardono ini isinya, seperti telah tergambar jelas di judulnya, motivasi. Sejujurnya saya sekarang agak kurang “simpati” sama buku-buku motivasi (apa coba?). Tapi yang ini kayaknya agak beda. Rene Suhardono yang seorang carrier coach membedakan antara carrier dan job, terlihat lebih konkret dari sekedar mendorong orang untuk “bermimpi”. Kata-kata kunci yang bolak-balik dia sebut adalah passion, talent, dan purpose.

Inspirasi yang sangat real beserta kalimat yang  tidak menggurui membuat saya nikmat mengunyah chapter demi chapter. Rasa yang saya dapat dari buku ini adalah motivasi yang agak berbeda. Lebih manusiawi dan realistis. Bukan hanya tentang pencapaian cita-cita materi seperti pada buku motivasi kebanyakan, tapi juga pencapaian kebahagiaan hakiki dan kepuasan menikmati hidup kita sendiri. Itulah yang ditekankan oleh Rene mengenai carrier. Ya, carrier merupakan sinergi antara passion, purpose, dan talent. Itu yang membedakannya dengan job, yaitu sekedar pekerjaan yang selama ini sering mengukung kita dalam rutinitas yang sadar tidak sadar hanya ber-purpose pada materi.

Buku yang enak dibaca lompat-lompat ini adalah kumpulan kolomnya Rene di harian kompas. Ada yang terasa kurang greget saat membacanya. Sampai sekarang saya juga bingung apa, jika perasaan itu datang biasanya saya akan mengulang membaca bagian yang tidak greget itu, mencoba menemukan gregetnya. Aha! Mungkin karena diksi yang dipakai kurang mendayu-dayu (favorit saya akhir-akhir ini).

This book is highly recommended buat kita yang masih berusaha menemukan diri di pekerjaan yang digeluti setiap hari. Is it our carrier or just a job?

Memilih Teman Perjalanan

“Saya mau duduk dekat jendela” Saya yang udah terlanjur duduk dekat jendela sebenarnya masih bisa berubah pikiran, pindah duduk di dekat gang bus antar kota itu, tapi gak sempat mengambil langkah seribu, si empunya suara udah pindah duduk di bangku yang lain, which was separated from my chair. Bingung, apa yang sedang berlangsung, saya memilih untuk mencernanya sambil mencari posisi wenak di bangku saya itu. Mengambil buku yang saya bawa dan menggerogoti sebatang cokelat. Ada apa ini? Tiba-tiba saya merasa sepi.

Banyak hal yang ingin saya ceritakan, yang baru saja terjadi, bahkan hal-hal yang terlihat di perjalanan. Tapi tak akan ada dialog dalam perjalan itu, hanya monolog di dalam hati. Kenapa harus duduk terpisah? Padahal kita janjian berdua, di terminal yang ramai itu, bersama mengejar bus yang datang. Kenapa ya?

Saya hanya duduk saja, mencoba menikmati perjalanan sendiri. Haus, air minum saya habis, saya pikir dia masih punya air minum barang seteguk dua teguk. Komunikasi pun berjalan lewat sms saja, saya kesel banget! Kenapa sih harus terpisah. Tapi karakternya yang emang rada pendiam bikin saya mikir mungkin saya yang egois, mungkin dia emang lagi pengen menikmati perjalanan berteman hujan sendiri, tanpa celotehan saya. Okay

Kadang perjalanan sendiri memang menyenangkan, perjalanan seperti itu suka bikin saya merenung, dan get so many things from it. Tapi kalau awalnya pergi bareng tapi jalan masing-masing itu aneh banget. Lebih sepi dari perjalanan yang awalnya memang sendiri.

“Pilihlah teman, baru kemudian tempuhlah perjalanan.” RAsulullah (Bihârul Anwâr, jil. 76, bab. 49)

Next trip, harus berpikir ulang untuk menentukan teman perjalanan yang pas, kasihan juga orang yang dapat teman perjalanan kayak saya padahal dia pengen perjalanan yang silent, nggak akan click emang. :0

Perahu Kertas

Perahu Kertas

I bought this novel about three years ago, not really impressed and a bit disappointed. But anyway, one thing that truly kicked my mind, this mainstream novel tells me that being mainstream is a must before you show people your own strange idea. It won’t make you a stranger then (and it would surely become the strangest and worst part of your dream life)