Herbal Minded

Gak tahu kenapa, sekarang gw jadi herbal minded. Dulu suka males aja sama produk-produk yang ngakunya herbal, mahal eung. Tapi kalau dipikir-pikir…

Make panty shield yang herbal emang lebih nyaman, baik itu secara fisik maupun psikis, walau harganya berlipat-lipat ganda dari yang biasa. Tapi emang bezaaa.

Sejak minum habatassauda dengan rutin, gw ngerasa lebih fresh aja. Gw inget pas abis travelling around Bandung yang hot-hot pop dan menyeh-menyeh, secara jalan-jalannya bener-bener on foot and by angkot, gak pernah begini heee gw baru sadar. Eh karena pas di jalan gw gak minum mutivitamin apa-apa, jadilah pulang-pulang gw ngedrop dan langsung demam and meriang. Eh langsung aja gw bela-belain makan and minum habbats, woooww, besoknya langsung seger lagi bok.

Dari dulu emang gw gak terlalu suka minum obat-obat kimia yang dijual bebas. Kalau demam paling banter minum paracetamol, kalau udah sakit banget baru ke dokter, paling minum obat-obat dari resep dokter. Dulu juga suka batuk and pilek, biasanya gw biarin aja sampe sembuh sendiri, walau jadinya agak lama nempel tuh penyakit.

Nah sekarang, sejak minum yang herbal-herbal, gw jadi ngerasa lebih cepet sembuh tanpa obat kimia tentunya.

Buat kopi juga gw kurangin, walau kalau di rumah gw belum tahu gimana. Secara kopi sumatera tuh kan terkenal luar biasa. Suka ngikut2 suami deh. Nah, tapi gw kayaknya bakalan milih kopi radix aja yang caffeinnya minus.

Ehek, kenapa gw jadi macam sales begini…??

Haa, mungkin agak telat, dulu gw gak kebawa-bawa Herbal Wave, baru ini terdampar di site-site asoy tentang herbal-herbalan ala dokter hembing. Ini salah satunya cintaherbal.

Okeh, demikian info yang penting gak penting ini, terima kasih. 😛

Advertisements

Rendang Jengkol

Tidak bisa memasak tapi sudah harus menikah, mengerihkan. Dulu saya berazzam untuk belajar masak sebelum mendeklarasikan diri siap menikah. Tapi kenyataannya saya nggak pernah merasa punya waktu untuk belajar memasak. Kemudian sang jodoh datang, dan saya tidak bisa berkilah atas takdir Tuhan. Oh My, Tuham, aku belum bisa memasak.

Tapi semua berjalan saja, tanpa mempedulikan kondisi gadis satu itu, tidak bisa memasak. Akad terucap, dan seorang ibu tua, dan seorang bapak tua, kakak-kakaknya, mereka menangis mempercayakan anaknya, adiknya, kepada saya. Seorang wanita yang belum bisa memasak. Oh tuhan., mau aku kasih makan apa anak orang?

Waktu berjalan, jarak memisahkan, dan saya ternyata punya waktu untuk tidak usah memasak, long distance relationship. Tapi, sesekali, sebulan sekali tepatnya, saya pulang, dengan pesan wanti-wanti darinya, kali ini kamu harus masak.

Sekali, dua kali, saya bisa menghindar. Tapi bulan ini, tidak bisa lagi. To be honest, I don’t like cooking, I hate kitchen, being panicked that I forgot boiling eggs while blending the onions. Hemm, but the show must go on.

Di tambah lagi, requestnya yang terlalu mama minded. I even have to call her mom to ask for the recipe.

At first, I really-really didn’t like all about it. Rasanya ingin ke hutan kemudian teriakku, pecahkan gelas biar ramai, ramai aku benci pasar. Tapi…

Hey, hidup tidak bisa berjalan selalu seperti yang kita inginkan, ada takdir Tuhan yang dulu kita sebut misteri, menyata tanpa bisa kita hindari.

Dan aku di sini, dengan sms dari mertua. Resep rendang jengkol yang ku pinta kemarin. Masih terngiang gelaknya saat ku telpon menanyakan resep kesayangan anak bungsunya itu.

Tapi ling? Masih ingatkah kamu riak aneh saat telpon telah ditutup dari ujung sana? Riak tenang menumbuh senyum, menutup resah  akibat suamimu bolak-balik memohon dirimu untuk menelpon ibunya.

Karena bila misteri itu menghitamputih di depan mata. Tak ada lagi yang bisa kamu lakukan kecuali jalaninya. Agar bahagia, tambahkan warna. Percayalah, Allah lebih tahu apa yang paling baik untuk hamba seperti kamu, Lingga.

Sebut Saja Sup Ikan dan Sebut Saja Sambel teri Cabe Ijo

Perlu dicatat bahwa kemaren, 14 Maret 2013, adalah hari pertama dalam hidup saya memasak sesuatu yang agak sesuatu. Biasanya cuma pede buat masak mie instant dan sesekali nasi goreng, itupun pake bumbu yang udah jadi. Kemaren saya dipaksa masak sama dia, my honey. Fuu fuuu dimulai dari belanja bahan-bahan buat persediaan beberapa hari di pasar tradisional. Waaa, benar-benar keluar dari bidang-bidang yang selama ini saya tekuni. (halah)

Berbekal note kecil dan pena, saya pun memperhatikan suami berbelanja (istri macam apa?entahlah). Tapi sepertinya itu belanja sayuran dll gak beda jauh sama belanja di Pasar baru. Sayangnya suami ternyata tidak begitu punya keahlian dalam hal tawar menawar, haaaa. Tapi gw juga belum pede, soalnya gak tahu harga-harganya, sambil belajar deh.

Baiklah, dan hari itu saya berencana memasak sup ikan, dan suami saya request sambel ikan teri basah pake cabe ijo. Setelah search sana-sini, dapatlah beberapa resep yang sepertinya gampang banget buat dicobain.

Kesan pertama masak, ternyata sodara-sodara gak terlalu sulit ya, semua tinggal dicemplang-cemplung, beres. Sup ikannya juga sama aja sama yang di restoran-restoran (PEDEEEEe!!), hahaha. Agak kurang asin, tapi karena sambel terinya udah asin, ya paslah yaaa….

Ini photonya manaaah?? Ada siih, tapi malu ah. :p