From Kerupuk To Seublak With Love

This is about my kitchen works. Haaa… my husband loves krupuk so much, if i don’t watch him going around a food store we shopping, he would take more than one kind of kerupuk. And, as he is from South Sumatera, where the most delicious kerupuk comes from, he only wants to buy kerupuk palembang, which is more expensive than ordinary kerupuk *_*

As a housewife, my instinct always brings me to the cheaper stuffs. And for kerupuk, i do want it too. One day i shopped with my mum, my husband was not with me yeaach, he wouldnt know if i bought ordinary kerupuk, took one pack of kerupuk which was much cheaper than Kerupuk Palembang, woohooo. I believe that it was only about the brand, and dont judge food by its brand.

When i got home, my husband was happy because i brought him kerupuk. I fried them soon.

Kerupuk kerupuk kerupuk, my husband showed his disappointment. The kerupuk was not as delicious as Kerupuk Palembang. It’s not as tasty as kerupuk palembang, okay, me wrong… i’m not a big fan of kerupuk palembang lah.

So i didnt fry all ordiary kerupuk i bought, not even a half of it, because my husband was not interested in eating it at all. *sigh

But, yesterday, i felt that the ordinary kerupuk which was still in the refrigerator calling me again and again, again and again. Oooh the kerupuk made me so guilty, i never meant to waste you, kerupuk.

Suddenly, the idea came….

Why dont i make seublak… haaaaaaahhh

In short, i cooked the kerupuk to be seublak, you know? hot wet kerupuk… haha, and wondrously, my husband loved it so much, aw aw…. tambah cinta deh #eh

Oh ya, kerupuk is everything for my husband, for Indonesia, for Adhitia Sofyan

Advertisements

#2 Gulai Kuning Ikan Apaan Tauk!

Wowww, kemaren adalah hari ternekad saya (so far) di dapur. Hehe, saya mempercayakan diri sendiri kalau saya bisa masak gule atau gulai, yah in which mesti pake santan, dan bumbunya mestilah riweuh bin repot. Percayakan padaku, kata saya dalam hati (apaan sih?).

Ikan yang dibeli hari minggu, udah membeku di freezer, perjuangan pertama adalah memisah-misahkan itu ikan yang membeku dan mengeluarkannya dari tupperware. Oiya, ikan yang dimasak waktu itu adalah ikan laut (hahaha, ikan apa namanya, saya gak tahu, mahap). Huffhh, belakangan saya tahu dari si mamih, kalau si ikan yang mau dimasak, mestinya udah dikeluarin dari freezer sejak malemnya, terus pindahin ke lantai bawah kulkas.

Search sana-sini, akhirnya saya masak gulai dengan gaya saya sendiri. Secara beberapa bumbu ada yang gak ada, semisal asam kandis (gak tahu gimana bentuknya, dan sepertinya gak ada) and kemiri (juga sepertinya gak ada, dan gw juga had no idea about kemiri itu kayak apa). Jadi saya beranikan untuk improve sendiri aja. Asam kandis sepertinya rasanya asam, hehe jadi saya ganti sama tomat and air jeruk nipis dikit. Sedangkan kemiri, gak tahu buat rasaan apa, jadi ya udahlah lupakan saja itu kemiri.

Wowwww, tak dinyana,gulenya jadi, dan keren banget penampakannya, dan rasanya juga lemayaaaan… 🙂 Alhamdulillah (photonya mana photonya mana?)

Semua berjalan dengan indah, apalagi saat lihat si suami makan dengan lahap. Serasa mimpi, aku melayang di udara.

Hingga siang hari, saat asyik-asyiknya baca buku, while my hubby was working in front of his computer, kami mencium bebauan yang lumayan harum dan menggugah selera.

Suami : Bau harum apa ini, mmmmm

Gw : Orang sebelah masak kali, kayak bau kelapa disangrai.

Gak lama,

Gw : Ini mahbau gosong deh

Suami saya gak ngasih respon apa-apa, sampe dia minta bikinin susu. Ternyataaa….

Si kuali berisi gule ikan sudah menghitam, gosong brong… Oh rasanya seperti terbangun dari mimpi indah. Saya lupa pas manasin tuh gule, ditinggalin aja, sampe gosong… clumsy, hiks.

Sampe sekarang, si kuali masih direndem dan ikan-ikan yang tersisa masih di kulkas, besok akan difollow up, mungkin bisa di-remake lagi, hoho.

NB: GUlai kuning ini kuncinya ada di kunyit, dan cabenya yang rawit, sayangnya gw gak punya cabe rawit waktu itu, jadi diganti cabe ijo. Cabe ijonya gw banyakin, lumayan pedes dan seger. Karena suami gw suka manis, jadi gw tambahin gula agak banyak, jadilah pedes seger manis. 🙂

#1 Mujair Goreng

Tanpa pengantar, saya mau langsung aja launching tag baru saya, diarydapursaya. Fyi, saya emang very new beginner banget banget di dunia dapur. Pernah dikteawain dan sampe sekarang masih selalu digodain suami gara-gara gak bisa bedain merica sama ketumbar (memalukaaaaan!). Yehee, saya emang nggak bisa masak kecuali air, nasi sama mie.

Dan oleh karena itu sodara-sodara, sejak bersatu kembali dengan suami dan resmi quit dari status LDR kami, memasak adalah aktvitas yang sesuatu banget buat saya. Biasanya bangun tidur mikirin Lesson Plan, sekarang bangun tidur saya ganti jadi kepikiran sama cooking plan. Putus asa dan senewen menjadi sahabat saya sehari-hari, dengan predikat ibu rumah tangga baru.

Langsung saja, kita mulai dari hari pertama.

Hari pertama diawali dengan belanja keperluan dapur yang diperkirakan cukup untuk seminggu. Saya belanja dengan ibu saya yang rela dan sabar menanggung malu karena anaknya begok banget, nanya ini itu melulu, dan gak tahu mau beli apa. Sedang semua orang menyaksikan dan terkesima, ada ya orang seperti saya? *_* (hari itu gw masih tanya merica yang mana *sigh)

Lupakan!

Hari pertama saudara-saudara, masakannya adalah….

Bukan Mujair Gw

Mujair goreng … ^_^, alhamdulillah sukses, karena saya pake tepung bumbu saji**ku… hehe. Sayurnya? Lalap selada saja.

Terima kasih, demikian :-*

*photo bo’ongan

NB: Ikan beginian tuh susah ngurusinnya, salah satu yang bikin saya senewen. Untung suami lagi ada di rumah, jadi do’i yang merelakan diri bersihin tuh ikan. Next, gak usah beli ikan air tawar, katanya. 😀