Membuka Diri vs Membuka Jilbab

Saya geli sendiri lihat foto seorang teman dikomentari bapak-bapak “cantik banget”, lalu lebih geli lagi saat jawaban komentar itu adalah “terima kasih”. Hal itu saya utarakan pada suami saya. Terus dia bingung apa yang salah, “harus bilang apa? nggak cantik kok? gitu?”. Hahh, saya bilanglah, kalau saya dulu biasanya langsung malu dan hapus tuh photo. Yeach, foto teman saya ini emang agak tidak biasa. Tidak biasa bagaimana?

Jilbab yang semakin ringkas, satu lembar paris saja, baju yang semakin ngepas dengan lekuk pinggang terlihat jelas. DUlu saya sangat terkesima (baca kecewa) melihat perubahan penampilan seorang teman saya. Saat ditanya mengapa itu terjadi? jawabannya simple “ingin lebih universal, ingin lebih terbuka”. Hoohh…

Begitu juga dengan pencariannya pada partner hidup, dia ingin lebih terbuka. Lewat jalan “tertutup” tidak menjadi pilihannya… sekali lagi, hooohh…

No wonderlah, sekarang teman-teman saya yang begini ini malah bingung untuk memilih pasangan hidup, karena terlalu terbuka jadi banyak banget yang daftar, tapi… dipertanyakan keseriusannyalah, yang udah jelas belangnyalah, yang gak gantenglah, yang gak mapanlah, yang gak dewasalah.

Terbuka dengan foto profpict facebook yang selalu update setiap pekan,  yang semakin menawan, bibir terpulas merah, pipi merona blushing-blushing, dan tentu saja jilbab yang lebih terbuka.

girls are like apples on trees
the best ones are at the top of the trees
the boys don’t want to reach for the good ones
because they are afraid of falling and getting hurt
instead, they just get the rotten apples
from the ground that aren’t good but easy

so the apples at the top think something is wrong with them
when in reality, they’re amazing
they just have to wait for the right boys to come along…
THE ONE WHO’S BRAVE ENOUGH
TO CLIMB ALL THE WAY TO THE TOP OF THE TREE

(sayingimages.com)

Saya rindu, rindu dengan kesederhanaan mereka dulu, kesederhanaan yang tidak menarik perhatian laki-laki kebanyakan. Kesederhanan yang menjaga mereka dari keusilan laki-laki kebanyakan. Kesederhanaan yang tak memudahkan laki-laki kebanyakan untuk sekedar menyakan “lagi apa? udah makan belum”, ciiih!!!

Being thankful

Cristian Mihai

“Be thankful for what you have; you’ll end up having more. If you concentrate on what you don’t have, you will never, ever have enough.”Oprah Winfrey

We all want something. We all lost something. We all love something. Some let themselves be guided by their passions, while others take to the rational way of acting… some choose to hug an illusion, others a dream, and on their loneliest nights they feel empty and weak and scared, while others choose to act… they want to create, to build, to enhance, to evolve, to wage war against the entire world if need be.

View original post 508 more words

Merenung Hari g(Ini)

Kadang kita merasa paling tahu diri sendiri, terlalu sombong untuk mendengarkan nasehat orang lain. Kita anggap mereka atau orang-orang lain itu tidak berhak atas diri kita. Walau kadang kita bercerita pada mereka mengharap masukan, tapi sebenarnya kita hanya mengharapkan pembenaran. Berharap ia memberikan masukan yang kita inginkan, bukan yang kita butuhkan. Ketika masukannya berbeda dengan pendapat kita, kita akan perlahan mundur dan bilang “ah lu gak tahu gue!”

Kita butuh cermin untuk melihat diri kita, ya kan? Cermin itu bisa saja ada di mata orang lain, orang lain yang peduli pada kita, menyayangi kita, bahkan membenci kita. Mereka yang mampu menyajikan refleksi diri kita dengan rangkaian verba atau ekspresi pandang mata, entah itu refleksi atas  jilbab kita yang merot, bedak yang cemot. Lebih-lebih atas tingkah laku kita yang tak pernah statis, berubah menjadi baik atau buruk.

Hemm, karena kesadaran itu, tak selalunya di hatimu.

Your 120th Day, Babe…

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya dalam waktu 40 (empat puluh) hari, kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga (40 hari), kemudian diutuslah Malaikat kepadanya dan ditiupkan ruhnya, kemudian diperintahkan untuk menuliskan 4 perkara; rejeki, ajal, amal perbuatan dan nasibnya celaka atau bahagia.” (Perawi : Abdullah bin Mas’ud, kitab : Mu’jam Asy-Syuyukh, jilid 2, hal 764, derajat hadits : Shahih)

3 November adalah hari itu (kalo gak salah ngitung), hari dimana ruhmu ditiupkan, baby oh baby. Hari itu, Mama ikut tes CPNS (hehe sesuatu yak?). Mama rencananya akan pergi mengendarai motor bebek sendiri, tapi eh tapi, pagi itu, setelah semua beres dan Mama mau berangkat, I just couldn’t find the key. Aha, kunci motornya ketinggalan di rumah Opung. Terpaksalah Papa yang antar, ke IAIN Bengkulu, ya ya memang harus diantar kayaknya. Sebelum berangkat Mama sarapan dulu, minum susu terus makan apel. Di jalan Papa suruh jajan lagi, Mama ambil lays, eh disuruh ambil roti juga, disuruh ambil susu juga. Pfffht, 2 bulan pertama emang Mama suka laper terus, tapi sekarang udah agak normal kok. Tapi ya gak papalah, buat jaga-jaga.

120 soal mama kerjakan dalam waktu 2 jam. Di belakang mama, ada Amah Nur, temen kuliah Mama dulu, lucu deh kita deketan duduk tesnya, and beliau juga lagi hamil, tapi udah jalan 8 bulan. Kamu? kamu hari itu baru aja genap 120 hari, sayang, alias 4 bulan.

Okeh, singkat cerita, tes selesai. Mama telpon2 Papa, tapi ternyata Papa lagi gotong royong di lingkungan kompleks kita. Papa gak bawa HP, huhu… Dikirain tesnya bakal sampe zuhur, ternyata jam 10 udah selesai. Mama pun harus nungguin sampe Papa buka HP, sampe jam 12 akhirnya si Papa nongol.

Nah!! ini nih yang seru, di hari ke 120 kehadiran kamu di perut Mama. Mama ngerasain ada yang aneh. Pulang tes, Mama puyeng, kepala rasanya berputar-putar. Di bawa tidur pun masih melayang-layang rasanya. Gak lama Mama muntah, banyak banget, semua makanan yang masuk dari pagi sampe siang keluar deh. Padahal Mama jarang-jarang muntah di kehamilan ini. Emm, ada beberapa diagnosa sih, bisa jadi Mama masuk angin atau pusing ngerjain 120 soal dalam waktu 120 menit. Sejak hamil, Mama emang gak kuat kerja keras, mikir keras termasuk kerja keras gak sih? Haha. Ah, terus pas Mama dan Papa itung-itung hari kehamilan, tepat 120 hari ternyata, jeng jeng.

Di hari itu juga, ada musibah yang menimpa tetangga kita, seorang ibu meninggal dunia. Huhu, Mama mikir kemana-mana deh. Saat ruh kamu (insyaallah) ditiupkan, ruh manusia yang lain dicabut.

Di hari itu juga, seorang sahabat Mama ulang tahun. Tante Eling lahir di hari itu nak, di hari ruh kamu ditiupkan. Dia seorang wanita yang hebat, walau agak aneh. Hehe, semoga kamu nanti pinternya kayak tante Eling yah…

Aghhh, sudah 4 bulan lebih, program kehamilan Mama masih berantakan aja sayang. Maaf ya, Mama akan lebih ketat lagi melakukan hal-hal baik yang bsia mempengaruhi pertumbuhan kamu nantinya…

Sekarang udah 125 hari kamu di perut mama, baik-baik ya sayang, sampai kamu bisa melihat dunia ini, mewarna hari bersama Mama dan Papa, bahagia…

Love Love Love
Mama…