Sahabat

Sahabatku tadi menelpon, dia bercerita dan aku mendengarkan.
Kemudian aku memberi tahukan ia resep membuat empek-empek.
Aku berusaha memotivasinya melakukan yang belum ia lakukan.
Ya Allah, semoga ia baik-baik saja, dan lebih bersemangat menjalani kehidupan barunya.

Padahal,
tadi malam aku bukan memimpikannya.
Aku memimpikan sahabat yang lain lagi.
Badan jangkungnya terbayang jelas, dalam mimpi.
Aku dipeluknya hangat.

Apakah aku rindu?

Advertisements

Bright Language School

Alhamdulillah it’s getting closer to be real, aamiin. Gak kerasa, bertahun-tahun gw berjibaku dengan ide, bertahun-tahun otak gw mikir ini itu, tentang ini itu… hee, walau belum nyata-nyata banget, at least gw udah mulai, cikiciw. Selama ini? Belum pernah sejauh ini.

 

I Must Be Cruel Only To Be Kind

Rereading my old students’ message, last night, tore me up. Ya, they knew me so well as a cruel teacher that often swing their mood badly.

I tried to remember things turned me to be that cruel teacher. they were actually reactions  for those behaviors, nondisciplinary, not submitting assignments, coming late to my class, etc.

I might be their cruelest teacher, but if only they knew that was just an automatic reaction of my care and love, that i was a kind teacher who really wanted my students be good.

I must be cruel only to be kind _Hamlet, Shakespeare_

-WRITING PROJECT PURA2-

 

happy birthday Aku

Dulu setiap tanggal segini, bangun tidur langsung antusias lihat HP and found there were dozens of birthday messages received, wowww, tapi itu dulu. Sekarang? Boro-boro dozens, satu aja syukur alhamdulillah. (haha, ada satu, alhamdulillah).

Jangan tanya kenapa, karena gw sendiri sebenernya gak mau ambil pusing juga sih. Bangun tidur gw bahkan gak kepikiran sama sekali buat ngecek sms ucapan selamat ultah, yang ada di pikiran gw cuman, dapur dan sumur. Gila ya? Routine, yang dulu sempat gw benci, tapi sekarang mulai gw nikmati. Betapa waktu merubah gw begitu banyak, tua.

Sampai akhirnya pukul 8 pagi, dapet BM dari seorang sahabat yang ternyata masih inget hari ini hari gw lahir ke dunia.

Sebenernya masuk-masuk bulan Oktober, suami ada sih sebut-sebut mau ngasih hadiah apaan showed me do’i inget hari ulang tahun gw. Tapi ya gitu emang, selalu begitu emang, pas hari H, lupa! Tapi swear gw gak ambil pusing, sama sekali nggak. Buat gw, hari ulang tahun adalah sama saja dengan hari-hari biasa. Sama-sama  gitu-gitu aja (loh?)

Tapi why don’t make it a lil different, dengan membuat birthday wishes, huhuyyy. Semoga Allah menjadikannya nyata, atau menggantikannya dengan yang lebih baik, aamiin ya Allah.

Here they are

  1. Kuliah lagi, di luar negeri. Agak takut menoreh mimpi macam ini, tidak seperti dulu, rasanya mimpi ini begitu sulit, begitu rumit, begitu mimpi. Tapi, ya Allah, apa sih yang nggak mungkin dengan keyakinanku padaMU. Master of Education will be.
  2. Being a Lecturer. Hemm, teaching is everything for me, remembering my dream to teach how to teach. Dan begitulah, gw di sini, mengajar, tapi belum mengajar bagaimana cara mengajar, insyaallah soon 🙂
  3. Makkah Madinah. Gw baru mulai mengakrabi mimpi ke sana sejak menikah. Dulu ke mana aja? entah ke mana. Suamilah yang telah merajut mimpi itu lebih awal. Gw mulai terinspirasi dengan cerita-cerita tentang negeri impiannya itu. Aku ingin segera ke sana ya Robb.
  4. English Course for Kids. On my way, on process, on…
  5. Novel, novel? iya novel. Show someone that i do not only read novels but also produce and publish. (yeach)

Sebenernya mimpi gw ya itu-itu aja dari dulu juga, hehe. Tapi gpp lah ya, fokus fokus fokus!

Raki… 1 Tahun 2 Bulan 15 Hari

“Udah bisa apa?”

Apa ya? huhu, mungkin yang gampaangnya, dijawab dengan udah bisa jalan, udah bisa lari, nggak bisa diam, aktif. Begitukah?

Aktif, pasti, tapi Raki tipe anak yang kebanyakan mikir, jadi aktifnya tertata banget, kecuali bagian numpah-numpahin, jatuh-jatuhin, lempar-lemparin.

Nggak bisa diam? Bisa, kalau lagi nonton iklan, makan, dan ngebongkar-bongkar sesuatu.

Lari? Ahahaha

Jalan? Uhuk, alhamdulillah udah bisa dikit-dikit, semter dua meter. Tapi as i wrote before, anakku ini orangnya semacam banyak perhitungan banget. jadi jalannya masih takut-takut, belum lancar banget. Masih merasa nyaman dengan gaya merambat, dan belum penasaran buat berlari.

So, kalau ditanya, anakku udah bisa apa?

Raki, lagi bantuin Papa cari batu Akik, di halaman belakang.

Raki udah bisa membeo, yang kadang bikin kita amazed banget. Misal, ada anak-anak tetangga main bola di rumah, teriak-teriak gooooool, dia akan membunyi dengan bunyi yang persis gol. Kalau Papa teriak-teriak panggil oom tetangga dengan panggilan “Bro!!”, Raki juga ikut teriak teriak dengan “Booooooo”. Kalau Mama ngoceh-ngoceh, dia ikut-ikut membunyi. Bunyi-bunyiannya juga udah luar biasa.

Ulang Tahun Pertama, diajak Main Pasir di Pantai.

Semua dipanggil Mama, Papa juga dipanggilnya Mama. Udah bisa respon ocehan Mama dan Papa, dengan ocehan abstraknya, suka’ deh!.

Raki suka joged-joged kalau ada musik, dan paling suka lari ke TV kalau lagi adzan. Udah bisa juga ngikutin adzan Papa.

Oiya, Raki juga suka main-main di perut Papa, gigit-gigit sama mmmpphhettt2 gitu deh (apa coba?)

Raki udah bisa nempel-nempel stiker. Buku stiker yang Mama beliin, udah ada yang khatam ditempel-tempelin Raki. Abis nempel satu stiker, mesti tepuk tangan sambil Mama bilang Horeeeee. Untuk motorik halus Raki emang oke banget, nyusun-nyusun maenan yang RIng-Ring itu (tauk apa namanya), do’i udah bisa. Terus kalau mindahin barang dari kotak ke luar atau dari luar ke kotak, juga udah oke punya bangeeet.

Raki paling suka main tanah, pake sekop and garpu yang Mama beliin. Mama sama Papa suka biarin

Berani Kotor Itu Baik

Ah nulis tentang bocah satu ini bikin galau, kangeeeeen.

Aku suka Raki, aku sayang Raki :-*

Buku, Raki, dan Mama

Buku dan Mama, itu punya kaitan erat. Ya, sudah jadi rahasia umum kalau Mama suka baca, dulunya. Sekarang mah banyakan nggak bacanya. Karena apa?? ENtah juga, katanya sih karena sibuk, sibuk masak, sibuk beresin rumah, sibuk kerja, sibuklah pokoknya.

Raki, suka ngacak-ngacak buku Mama, suka banget. Ya, sudah pada umumnya, toddler suka ngacak-ngacak. Buku di rak udah kenyang dikeluarin sama bocah ini.

IMG20150404194827

Yabbaa, Mama punya harapan, nanti Raki juga suka baca, suka buku. Oleh karena itu, Mama mau ngebiasain Raki untuk baca sejak dini banget. Where and How to start?

IMG20150412124254

Raki, The Book Worm

Haha, tenang tenang, gw gak lagi mau promosi ABACA kok. 

Sejak hamil, Mama udah gandrungi buku-buku Gramedia obral. Bukunya cakep-cakep, banyak warna, dan harganya boook, murce syekaleeee. 200 ribu udah penuh satu kantong, besok lagi ah besok lagi ah, gitu! Kayak buku yang dicekokin ke Raki di photo -Raki, the book worm-, itu kisaran harganya cuma 10-15rb aja. Bukunya bagus-bagus kok walau murah, gak murahan. Diobral karena udah lama, tapi masih  up to date-lah. Buku yang biasanya jadi favorit gw buat dibeli adalah buku yang looknya colorful, isinya tentang ilmu pengetahuan, dongeng-dongeng klasik, fabel, dll-lah. Sebenernya asal berwarna, bagus, dan menarik sih, itu aja.

Eh terus?

Sebagai usaha membiasakan Raki dengan buku, that’s all, ya itu doang tujuannya. Mama gak akan maksain Raki buat bisa baca dalam usianya yang sudah satu tahun lebih dikit ini (HAAAAA). Nop, mama pengen at first Raki terbiasa dulu sama buku. Caranya?

Mama suka naroh satu dua buku di tempat tidur. Buku ini kadang, kadang bangeeeet, pernah dulu, udah lama nggak, eh iya kadang banget mama bacain buat Raki, biasanya Raki akan happy luar biasa, ketawa-ketawa gak karuan, lihatin ekspresi and dengerin suara aneh Mama bacain cerita. Tapi itu udah cukup lama sih ga dilakuin. Kebanyakan tuh buku yang ditaroh di tempat tidur, dipake buat ngipasin Raki and Mama kalo kepanasan. Haha

Tapi begitulah, Mama pengen later Raki gak cuma belajar A BA CA, tapi memahami buku yang dibaca. Terbiasa mencintai buku dan membaca dan memahami dan memeliharanya. Untuk sekarang, dan 3 tahun ke depan, insyaallah Mama akan berusaha untuk men-supply buku-buku untuk Raki tapi tidak akan berharap Raki bisa baca A BA CA dalam usia sedini itu. Biarlah ia belajar mencintai dan memahami isi buku-buku dulu, cukuplah Mama dan Papa yang membacakan untuk Raki. Aamiin, insyaallah.

Jadi, sementara dan dalam 3 tahun ke depan. Interaksi Raki dengan buku masih sebatas berasyik masyuk dengan gambar dan kertas. Cukuplan interaksi Raki dengan buku terjadi melalui aktivitas rebutan buku sama Mama kalau lagi main hambur-hamburan buku di lantai. Interaksi Raki dengan buku sekarang, mungkin lebih sering berujung seperti ini…

IMG20150417061117

robek-robek

It’s okey, toh IMG20150227074325harganya cuma 10ribu, ahhaha, dan Mama masih punya banyak buat Raki.

Yeyyyy, no offence ya. Investasi buat anak dalam bentuk buku?? Gak perlu mahal sampai jutaan. DI Gramedia obralan banyak… :-). 1 juta something?? woooo, bisa penuh satu rak buku.

Demikian, ayuk pulang…. 🙂

Novel, Novelis, Gw, dan Apalah

Gw mau nulis novel dong, preeet, kali ini harus selesai, preet. Ah sudahlah jangan mencibir dirimu sendiri LIngga, walau bukan cuma kamu yang bermimpi jadi novelis terkenal, preet lagi ah!

Hahaha, gw sebenernya males nge-blog beginian. Sumpah!! ini mainstream bangeeeet, tapi apalah daya, i just cant hold my hands to type this kind of apalah.

Hemm, gw selalu punya ide yang menurut gw gak mainstream, tapi gw adalah gw yang masih harus baca, masih harus baca, dan masih harus banyak baca. Jadi ide yang menurut gw gak mainstream itu entah mengapa selalu jadi ordinary banget saat dieksekusi jadi chapter pertama. Aaaaagh.

Gw udah pake segala macam tips nulis novel yang ada di blog-blog menulis novel itu, tapi selalu saja

berakhir menjadi biasa-biasa aja…

Jadi ya sudah, chapter I berujung pada cibiran-cibiran gw sendiri atas tulisan gw yang aaagh… biasa bingiitz.

Tapi…

Emang pernah gw ngerampungin chapter I? *_*

Untitled