Bright Language School

Alhamdulillah it’s getting closer to be real, aamiin. Gak kerasa, bertahun-tahun gw berjibaku dengan ide, bertahun-tahun otak gw mikir ini itu, tentang ini itu… hee, walau belum nyata-nyata banget, at least gw udah mulai, cikiciw. Selama ini? Belum pernah sejauh ini.

 

I Must Be Cruel Only To Be Kind

Rereading my old students’ message, last night, tore me up. Ya, they knew me so well as a cruel teacher that often swing their mood badly.

I tried to remember things turned me to be that cruel teacher. they were actually reactions  for those behaviors, nondisciplinary, not submitting assignments, coming late to my class, etc.

I might be their cruelest teacher, but if only they knew that was just an automatic reaction of my care and love, that i was a kind teacher who really wanted my students be good.

I must be cruel only to be kind _Hamlet, Shakespeare_

-WRITING PROJECT PURA2-

 

Not a Lesson Plan, Just a History

Awal mengajar di kelas formal gue mulai dengan latihan ngajar anak SD. Ngajar anak SD itu…., apalagi bukan SD umum, SDIT yang sistemnya emang luar biasa adalah beigini. Anak-anaknya kreatif and gak bisa diem. Rasanya? Gila! Gue sempet stres pertama kali ngajar anak SD. Yang nginjek-nginjek kursilah, yang gak bisa diem, yang sibuk pengennya nongkrong aja di book corners, yang sibuk terus sama cat crayonnya, gila!

Begitulah, tapi gw harus mulai kelas. Otak gue tahunya cuma anak-anak mesti duduk dulu di kursinya masing-masing. Tereak-tereak gak digubris, Oh My God… Sampai gw capek dan akhirnya mulai aja dari yang udah duduk. Loh… perhatian itu akhirnya gw dapetin. Setelah ngajakin mereka nyanyi-nyanyi dengan tidak mempedulikan posisi dan tingkah mereka, akhirnya mereka pada ngasih gw perhatian itu. Huwaaaa walaupun gak semuanya duduk di kursi, ada yang duduk di depan papan tulis, tidur-tidur, bodo’lah… yang penting merhatiin, yang penting mereka ikut nyanyi, dan yang penting mereka juga niruin gerak-gerik gw nariin tuh lagu. Dan besok-besoknya, gw mulai terbiasa, i love them… I love them… children.

Ngajar anak SMP? Kelas 7 gak jauh beda sama ngajar anak SD. Tapi agak lumayanlah. Cumanya, kesabaran gw diuji dengan cara yang berbeda. Perhatian, yup gw emang orang yang perhatian minded. I can’t live without it. Kalau di SD gw bisa santai dan memaklumi tingkah anak-anak yang terkesan tidak memperhatikan karena memang nature of children ya begitu, di tingkat SMP rasanya sulit sekali. Ah, gw benci anak itu, ya, dia yang sok pinter dan selalu mengobrol pas gw menjelaskan. Hey! gw bukannya jelasin materi, gw cma jelasin intsruksi ngerjain latihan yang akan kita laksanakan sebentar lagi. Tapi orang begini yang sok pinter ini, gak peduli. Yang dia tahu Cuma, dia udah bisa semuanya. Di SMP gue mulai nemuin murid-murid begini.

Di SMA? Lebih parah lagi. Tidak banyak, tapi orang-orang begini ini pandai sekali melahap mood ngajar gw. Mereka adalah buto ijo yang melahap rembulan hingga membikin malam kelam (eh yang makan bulan buto ijo gak sih?). Mereka selalu berhasil membuat gw puter2 kepala setiap pagi saat jadwal mengajar datang. Kadang gw bisa memanage kebencian gw menjadi elegan, mencoba menaklukkan, dan memperlihatkan masih banyak yang harus kau pelajari nak. Tapi kadang gw pikir masih banyak hal lain yang harus gw pikirkan, dan keputusan gw adalah mengacuhkan orang-orang sok pinter ini. Yang paling parah adalah saat gw mutusin untuk memperlihatkan bahwa tuh murid-murid gak tahu apa-apa, di sini, Lingga sinis keluar dengan kejam dan ganas.

Menjadi pendidik dewasa, yang punya stok kesabaran berlimpah memang tidak mudah. Butuh latihan, persiapan, pengalaman, segalanya yang butuh waktu gak sebentar. Gak Cuma setahun 2 tahun ngajar, terus lu bisa jadi guru dewasa itu. Gw, adalah salah satu guru yang sering dicap childish, yeaaach, selain tingkah gw yang emang masih kayak anak-anak, pola pikir and pengendalian emosi gw emang payah banget. Tapi at least, gw sadar diri sebagai seorang pendidik gw haru smendidik anak-anak gw gak cuma tentang subjek yang gw pegang, tapi juga attitude dan kehidupan. Tapi itulah yang paling sulit, sangat sulit.

Dan untuk murid-murid yang pelit perhatian itu, gw masih belum bisa menemukan solusi yang permanen kecuali pengendalian emosi. Ya, sebagai guru, gw harusnya gak cuma ngajarin ABC 123, tapi juga menginspirasi agar mereka selalu tak lelah mempelajari lebih lagi dan lagi dengan menundukkan diri dan membuka hati. Seandainya semua ini semudah gw membangun paragraf akhir ini, mungkin gw ogah ikut tes CPNS jadi laboran di tingkat universitas. Haaah… sudahlah, mungkin ini jalan terbaik buat gw, sekian.